BAB 47

155 9 3
                                        

Seharusnya ada satpam yang menjaga pintu masuk cluster tempat Gustiar tinggal, tapi Citra tidak dapat menemukan siapapun di dalam sana serta plang penutupnya pun terbuka, membuat Citra semakin berspekulasi yang aneh-aneh.

"Pak buruan pak!" pinta Citra pada supir di depannya.

Dalam hati Citra terus mendoakan keselamatan Gustiar. Rasanya ia begitu takut, dan tidak ingin kehilangan Gustiar.

"Rumahnya yang mana, Kak?"

"Berhenti di sini saja, Pak!" Setelah membayar supir taksi, Citra langsung buru-buru berlari sampai tiba tepat di depan gerbang rumah Gustiar. Rumahnya terlihat sepi, membuat pikiran Citra jadi semakin liar dengan kondisi Gustiar saat ini. Melihat pagar rumah Gustiar yang tidak dikunci membuat Citra tanpa ragu membuka pagar dan langsung berlari menuju pintu utama. Sebelum Citra membuka pintunya, pintu cokelat itu terbuka sendirinya dan menampilkan wajah Vano yang sedang menggendong salah satu dari si kembar.

"Citra?"

"Gustiar mana?" ujar Citra panik. Ia melihat ke dalam rumah seperti orang gila, dirinya terlalu panik dengan kondisi Gustiar saat ini.

"Gustiar mana?" Suaranya bahkan sampai gemetar.

Vano menurunkan Lia, kemudian berkata pada Citra. "Lo tenang dulu, ya. Dia ada di dalam—"

Sebelum Vano sempat menjelaskan seluruhnya, tubuhnya tiba-tiba di dorong oleh Citra ke dalam dan mendapati Citra tengah berlari untuk memeluk Gustiar yang sedang berjalan ke arah mereka.

"Aku khawatir..." Citra menangis dalam pelukan Gustiar, tentu hal itu menimbulkan tanda tanya di benak mereka yang melihatnya.

"Cit, lo gapapa?"

Citra melepas pelukannya, ia menutupi wajahnya, menghapus air matanya cepat sambil menunduk. Sungguh ia sangat malu sekarang, pasti di mata mereka ia sedang mencari perhatian. Namun melihat Gustiar baik-baik saja, hatinya merasa lega. Ia jadi berpikir siapa penelpon iseng yang mengatakan bahwa Gustiar dalam bahaya dan apa tujuannya?

"Aku gapapa! Maaf ganggu waktu kalian. A–aku pamit dulu."

Citra berbalik hendak pergi. Tapi cekalan di tangannya membuat Citra jadi menghentikan langkahnya. "Lo lagi dalam kondisi nggak baik-baik aja. Tenangin diri lo di sini dulu."

Meskipun terdengar perhatian, namun nada ucapannya dingin, membuat dada Citra terasa sakit. Ternyata Gustiar masih marah padanya.

"Aku baik-baik aja... " banyak hal yang ingin Citra ungkapkan, tapi rasa sesak di dadanya menyiksanya tanpa ampun. Membuat ia lagi-lagi terlihat lemah di mata Gustiar.

Setelah berusaha kuat melepaskan cekalan di tangannya, Citra kembali berjalan melewati pintu utama. Air mata itu menetes tanpa bisa dicegah. Hatinya jadi lega sekaligus sakit. Lega karena Gustiar baik-baik saja dan sakit saat ia tahu kebencian Gustiar masih ada untuknya.

Saat hendak melewati gerbang, tangannya kembali ditahan. "Citra, di sini dulu ya. Kamu lagi nggak baik-baik aja."

Pertahanan Citra runtuh. Ia menangis, tidak peduli jika itu akan memalukan.

"Gimana aku bisa baik-baik aja tanpa kamu, Tiar. Sedetik pun kamu nggak pernah mau dengerin aku. Aku... " suaranya tercekat, sudah tidak bisa lagi bicara.

Pick Your LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang