Cuaca di pagi hari ini terasa dingin. Butir-butir kecil membasahi bumi, membuat aktivitas pagi ini jadi sedikit terhambat. Seluruh jalanan kota dibasahi oleh butiran-butiran air dari langit.
Namun meskipun cuaca sedang tidak bersahabat, semua tetap berangkat untuk menjalani aktivitas mereka seperti biasanya.
Citra berlari di pinggir jalan dengan menggunakan jas hujan. Jantungnya tak henti-hentinya bertalu dengan gembira, merasa tak sabar untuk bertemu dengan Gustiar hari ini. Rasanya di tengah gerimis yang terjadi saat ini, Citra ingin berteriak bahwa ia akan meresmikan hubungannya dengan Gustiar.
Sepanjang Citra berlari menghindari hujan, pikirannya tidak berhenti mengkhayalkan momen-momen romantis bersama Gustiar. Apalagi Citra dapat membayangkan dengan jelas, wajah malu-malunya Gustiar saat ia mengatakan 'bersedia' menjadi pacarnya, membuat Citra berlari dengan cepat menembus hujan.
Tiba di sekolah, Citra langsung membuka jas hujan yang dipakainya. Ia tidak langsung ke kelas, melainkan ke kelasnya Gustiar.
Citra mencari-cari keberadaan Gustiar namun tidak menemukan sosoknya di tengah keramaian. Di dalam lingkaran kecil beberapa siswa yang sedang berkumpul pun tidak terlihat Gustiar berada di sana.
Citra terus mencarinya, tidak biasanya Gustiar belum datang di jam seperti ini. Apa ia terjebak macet karena hujan?
"Permisi, Kak. Lihat Gustiar nggak?"
"Nggak tahu deh, soalnya emang belum lihat dari tadi."
"Okei, makasih ya!"
Citra memilih untuk menunggu kedatangan Gustiar di depan kelasnya. Bahkan sampai jam masuk berbunyi pun Gustiar sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Pun begitu pula dengan Vano yang juga tidak terlihat sama sekali keberadaannya.
"Mungkin kejebak macet kali ya. Mereka 'kan bawa mobil," gumam Citra.
Dengan hati yang enggan, Citra berjalan ke kelasnya dengan wajah yang tertunduk.
Di pintu kelas, ia tidak sengaja menabrak seseorang sampai sedikit terdorong ke belakang.
"Eh maaf," ujar Citra, padahal ia yang terdorong sampai hampir terpeleset.
"Gapapa, Cit. Gue yang salah kok. Gue pikir guru udah masuk ke kelas." Ternyata orang yang ditabraknya adalah Clarissa.
"Belum kok, bel juga baru bunyi." Mereka berdua sama-sama masuk ke dalam kelas.
"Eh, tadi lo naik apa Cit ke sekolahnya?"
"Jalan sih,"
"Tumben gak dijemput?"
Citra terdiam tidak menjawab. Bahkan sedari tadi pun Gustiar sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Pr bahasa Indonesia udah lo kerjain,"
"Udah kok," Citra menaruh tasnya di atas meja. Sejak kursi dan meja diganti dengan yang baru, kini para siswa jadi duduk terpisah, tidak ada lagi teman sebangku.
"Halo, Can! Lo baru dateng? Tuh rambut lo basah, keringin dulu nih pakai handuk gue. Gue bawa handuk kecil kok,"
Citra yang tadinya sedang mencari buku di tasnya jadi beralih menatap Candra yang sudah tiba. Ia berdiri di sebelah Clarissa, menatapnya sebentar lalu beralih atensi ke arah Clarissa; menerima handuk kecil tersebut dengan senyuman manisnya.
"Thanks, Ris. You're so care with me."
"Anytime!"
Candra berjalan menuju tempat duduknya, kepergiannya tak lepas dari tatapan Citra.
Sekarang hubungan mereka benar-benar terasa dingin.
Tak lama kemudian, guru bahasa Indonesia masuk ke dalam kelas. Citra merasa panik karena ia belum menemukan buku pr-nya sama sekali.
"Duh, gara-gara khawatir mikirin Gustiar yang gak bisa dihubungi dari tadi, aku malah lupa bawa buku pr-nya. Pasti ketinggalan di meja." Batin Citra sembari menepuk pelan dahinya.
Sementara itu seperti biasa, Bu Rami akan mengumpulkan pr terlebih dahulu sebelum masuk ke pembahasan materi.
Satu persatu murid dipanggil untuk maju ke depan dan mengumpulkan pr mereka agar langsung dinilai. Saat nama Citra dipanggil setelah nama Candra, Citra masih tetap duduk di tempatnya dengan tubuh yang sudah kaku.
"Mana pr kamu Citra?"
"Ma-maaf Bu, ketinggalan."
Huuu ...
Sorak beberapa siswa ke arah Citra membuat Citra semakin menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, kamu tulis ulang pr-nya di kertas lembar. Habis itu kasih ke Ibu,"
"Baik Bu,"
Saat menoleh kebelakang, Citra yakin ia tidak salah lihat kalau Candra sedang menyeringai ke arahnya lebih kejam dari sebelumnya.
🦋•••🦋
Di jam istirahat lagi-lagi Citra tidak menemukan Gustiar di kelasnya. Tasnya pun juga tidak ada. Karena merasa penasaran, ia pun bertanya kepada salah satu teman kelas Gustiar yang sedang lewat di depannya.
"Sorry Kak, aku mau tanya, Gustiarnya ada gak?"
"Oh dia hari ini gak masuk,"
"Hah? Gak masuk kenapa, Kak?"
"Gak tahu deh, dia gak ngasih kabar ke sekolah kenapa dia gak masuk. Kayaknya di alfain deh sama guru-guru."
"Ouh gitu ya, oke deh makasih ya." Belum jauh siswi tersebut pergi, Citra memanggilnya lagi.
"Eh tunggu, Kak! Kalau Vano gimana? Dia masuk gak?"
"Dia juga gak masuk tuh."
"Kalau boleh tahu kenapa ya?"
"Kurang tahu juga. Dia gak ngasih kabar apa-apa kenapa dia gak masuk,"
"Yaudah deh kalau gitu, sekali lagi makasih ya, Kak."
"Iyaa," jawabnya dengan ramah.
Masih menatap kelas Gustiar, Citra tak henti-hentinya berpikir ada apa dengan mereka berdua. Keduanya bukan tipe orang yang suka membolos sekolah. Jika seperti ini, maka sesuatu sedang terjadi kepada mereka.
"Tiar kamu ke mana? Aku khawatir," gumam Citra sembari menatap langit yang mendung.[]
🦋•••🦋
OMG ... OMG ... OMG🙉
ALHAMDULILLAH YA ALLAH, GAK NYANGKA BANGET HARI INI UDAH NYAMPE 1K KALI DIBACA😭
Setelah beberapa hari merasa insecure, takut ceritanya jelek atau gak mengikuti pasar, atau ceritanya gak jelas, dan alasan-alasan lainnya😭
Alhamdulillah...🤲
Makasih yang udah setia baca cerita ini sampai di sini, kalian terbaiik😊💕
19.40
KAMU SEDANG MEMBACA
Pick Your Love
Roman pour Adolescents[Cerita ini hanyalah karya fiksi semata baik nama, tempat, penokohan, serta nama organisasi. Di beberapa BAB terdapat kata-kata yang kasar. Mohon bijaklah dalam membaca. Terima kasih!] *** "Jangan pernah dekat-dekat dengan Gustiar, dia itu berbahay...
