Pagi itu, Angkasa High School terlihat damai.
Burung gereja berkicau di atap rumah Bela, matahari menerobos tirai tipis kamarnya.
Tapi bagi Bela, pagi itu tidak terasa seperti pagi biasa.
Ia terbangun dengan mata bengkak karena semalaman menangis di rumah sakit.
Di meja, kalung rantai hitam Stiward dan foto CCTV Randa yang ia cetak malam sebelumnya masih tergeletak.
Setiap kali menatapnya, dadanya terasa sesak.
“Randa… Kris… kita belum selesai.”
Ponsel di sampingnya bergetar.
Notifikasi muncul dari nomor tak dikenal.
Pesan Misterius
“Bangun. Waktunya lihat siapa yang akan pergi selanjutnya.”
Bela spontan duduk.
Tenggorokannya kering.
Belum sempat ia berpikir, pesan kedua masuk.
Foto Kris di rumah sakit.
Terbaring di ranjang, wajahnya pucat, dan… ada bayangan hitam samar di belakangnya.
“KRIS!!!” teriak Bela, panik.
Tangannya gemetar saat menelpon Olivia.
“Liv! Kris… fotonya… di RS… ada bayangan!”
Olivia yang masih setengah sadar langsung duduk di kasurnya.
“Apa?! Kirim ke gue sekarang!”
Kepanikan Menyebar
Dalam lima menit, foto itu sudah terkirim ke grup rahasia mereka.
Pesan-pesan beruntun memenuhi layar ponsel Bela.
Nevy: “OH MY GOD!!! Ris!!! Gue harus ke RS sekarang!”
Moreno: “Tunggu gue jemput lo, Nev. Jangan sendiri!”
Revan: “Sial… ini fix bukan iseng. Dia ada di RS semalem!”
Claudia: “Kita semua ke RS. Sekarang!”
Tak lama kemudian, telepon dari Stiward masuk.
“Bel, lo liat pesannya?”
“Iya… kita harus ke RS sekarang!”
“Oke, gue sama anak Cobra nyusul. Jangan keluar sendiri.”
Perjalanan Menuju Rumah Sakit
Bela naik ke mobil Dimas bersama Olivia.
Jalanan pagi itu terasa panjang dan mencekam.
Tidak ada yang bicara selama beberapa menit, hanya suara mesin dan notifikasi grup mereka yang terus berbunyi.
Olivia akhirnya bersuara lirih.
“Bel… kalo bener ada yang masuk RS buat foto Kris… berarti dia bisa ngelakuin apa aja…”
Bela menatap jendela, wajahnya tegang.
“Dia selalu satu langkah di depan kita… kayak dia tau semua gerakan kita.”
Dimas menambahkan sambil fokus menyetir.
“Dan sekarang dia mainin psikologi kita. Dia pengen kita panik.”
Lorong Rumah Sakit
Mereka tiba bersamaan dengan rombongan lain.
Nevy dan Moreno berlari paling depan, hampir menabrak suster.
“KRIS! KRIS!” teriak Nevy.
Pintu kamar didobrak.
Kris masih tidur di ranjangnya.
Monitor jantung stabil. Tidak ada yang aneh.
“Tuhan… ini jebakan…” gumam Dimas sambil memeriksa kamar.
Stiward datang dengan napas terengah, diikuti Randy, Hayden, dan Raka.
“Gimana?!”
“Dia aman. Tapi… foto itu nyata. Berarti ada yang masuk sini semalem,” jawab Irel datar.
Ketegangan di Dalam Kamar
Semua orang berkumpul di kamar Kris.
Cheerleader menempel di dinding, sebagian gemetar.
Kheyes berbisik ke Sandra, “Gue sumpah ini kayak film horror…”
Rachel menatap jendela, “Berarti kita selalu diawasi…”
Claudia memeluk dirinya sendiri, wajahnya pucat.
Nevy duduk di sisi Kris, memegang tangannya erat-erat.
“Ris… maafin gue… kita janji bakal lindungin lo.”
Hayden berdiri di pojok kamar, rahangnya mengeras.
Ia tidak tahan melihat Nevy menangis untuk cowok lain, tapi ia juga merasa bersalah.
Pesan Baru
Tiba-tiba, ponsel Revan bergetar.
Nomor yang sama mengirim pesan.
“Bagus. Kalian semua di sini. Tapi… sampai kapan kalian bisa jaga dia?”
Sontak semua orang merinding.
Stiward mengepalkan tangan dan memukul dinding.
“Sialan! Dia mainin kita!”
Malvin menoleh ke semua orang.
“Kita nggak boleh panik. Ini jelas cuma teror… tapi artinya dia deket sama kita. Sangat deket.”
Irel berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
“Dia bisa kirim foto ini pagi-pagi, artinya dia ngikutin kita dari semalam. Dia tau kita bakal panik.”
Bela menggenggam kalung Stiward, air matanya jatuh.
“Dia tau semua tentang kita. Tapi siapa… siapa di antara kita yang dia incar sebenernya?”
Ending Bab 53
Mereka meninggalkan rumah sakit menjelang siang, tubuh lelah tapi pikiran berputar cepat.
Di luar gerbang RS, angin pagi membawa aroma hujan yang anehnya terasa seperti ancaman.
Dari seberang jalan, sosok berpakaian hitam berdiri di balik tiang lampu, memotret mobil mereka yang pergi.
Di ponselnya muncul pesan draft:
“Satu per satu. Sampai kalian hancur sendiri.”
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
