50. Operasi Tim Malam Pertama

10 0 0
                                        

---

Malam itu, Angkasa High School seperti bangunan tua tak berpenghuni.
Hujan gerimis baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah di udara.
Lampu lorong yang redup berkelip-kelip, seolah sekolah itu tahu ada rahasia gelap yang sedang diungkap.

Bela berdiri di gerbang samping bersama Irel, Olivia, dan Dimas.
Anggota lain datang satu per satu, wajah mereka serius.

---

Persiapan di Gerbang Sekolah

Malvin mendesah sambil melihat ke arah rombongan yang datang di belakang.

> “Gue nggak nyangka… Death sama Cobra sama Cheerleader bisa kerja sama kayak gini. Dunia udah mau kiamat kali, ya?”

Revan nyengir, mencoba mencairkan suasana.

> “Gue sih udah siap, kalau tiba-tiba meteor jatuh besok.”

> “Diam, Rev. Fokus,” potong Irel dingin.

Tak lama kemudian, Cobra datang.
Stiward berjalan paling depan, diikuti Randy, Raka, Moreno, Hayden, dan Jastin.
Wajah mereka tegang, tapi ada gengsi yang mereka pertahankan.

> “Kita di sini bukan buat ribut lagi, kan?” tanya Raka dengan nada hati-hati.

> “Selama kalian nggak bikin masalah, kita aman,” balas Mr. Ly datar.

Dari arah parkiran, terdengar suara langkah kaki.
Claudia Girls datang dengan jaket hoodie.
Claudia paling depan, wajahnya dingin, diikuti Nevy yang merangkul lengan Moreno, Luvena menggandeng Randy, Rachel tampak gelisah, Sandra berjalan di samping Jastin, dan Kheyes menyusul di belakang.

Di belakang mereka, Aurel dan Skyler datang menyusul bersama Alin, melengkapi formasi.

Untuk pertama kalinya, seluruh kelompok berada di tempat yang sama.
Tak ada yang tertawa. Tak ada yang saling ejek.
Hanya kesadaran bahwa mereka semua punya satu tujuan malam ini.

---

Memasuki Sekolah

Pintu samping berderit ketika dibuka.
Angin malam menyambut mereka dengan dingin menusuk tulang.

> “Astaga, creepy banget,” gumam Kheyes sambil mendekat ke Sandra.

> “Lo aja takut, apalagi gue,” balas Sandra lirih.

Bela menggenggam senter kecil, mencoba menguatkan diri.
Irel berjalan di depan, suaranya rendah tapi tegas.

> “Kita cek lorong belakang dulu. Itu TKP utama.”

Stiward jalan di belakangnya.
Tatapannya tak lepas dari tangga atap yang menjulang di ujung lorong.

Olivia memegang tangan Bela.

> “Bel, lo yakin kuat?”

Bela mengangguk pelan.

> “Gue harus kuat… demi Randa.”


---

Koridor Belakang – TKP Randa

Begitu sampai di lorong belakang, suasana mendadak hening.
Hanya bunyi tetesan air dari pipa bocor yang terdengar.
Semua mata otomatis menoleh ke tangga besi yang menuju atap.

Bela menyorotkan senter ke lantai basah.

> “Di sini… Randa jalan terakhir kali sebelum dia jatuh.”

Stiward menelan ludah, suaranya rendah.

> “Dan gue yang terakhir sama dia.”

Nevy berbisik sambil merapat ke Moreno.

> “Gue merinding… kayak Randa masih ada di sini.”

Revan pura-pura bercanda untuk memecah ketegangan.

> “Kalau dia nongol sekarang, gue sih lari duluan…”

> “Diam, Rev,” sahut Irel ketus. Tapi bahkan dia pun terlihat lebih tegang dari biasanya.


---

Bukti Baru Ditemukan

Tiba-tiba, Dimas jongkok di lantai dekat paku karatan.

> “Eh, gue nemu sesuatu…”

Semua menoleh.
Di tangannya ada potongan kain hitam, robek di ujungnya.

Bela mengambilnya pelan.

> “Ini… bukan bajunya Randa.”

Aurel menatap kain itu serius.

> “Ini kain jaket kulit cowok. Dan ini… bukan gaya Stiward. Gue kenal gaya dia dari dulu.”

Tatapan semua orang otomatis berubah.
Untuk pertama kalinya, ada harapan Stiward bukan pelakunya.

---

Suara Misterius

Tiba-tiba, terdengar suara langkah di lantai dua.
Semua orang refleks menoleh ke tangga.

> “Siapa di atas?!” teriak Mr. Ly.

Tidak ada jawaban, tapi terdengar suara pintu berderit.
Suasana menegangkan, napas semua tertahan.

Irel memberi kode singkat.

> “Gue sama Stiward naik. Yang lain tunggu di sini. Kalau ada apa-apa, siap lari.”


---

Konfrontasi di Lantai Dua

Tangga besi berdecit saat Irel dan Stiward naik.
Bela menatap mereka dengan cemas dari bawah.
Beberapa detik terasa seperti menit.

Tiba-tiba—

PRAAAANG!

Suara kaca pecah terdengar dari atas.
Irel berteriak.

> “Ada orang! Dia kabur ke arah gudang luar!”

Semua langsung panik dan berlari ke halaman belakang.

---

Pengejaran Singkat

Di halaman basah, mereka sempat melihat bayangan berpakaian gelap berlari di sisi pagar sekolah.
Sosok itu lincah, melompati pagar dan menghilang ke kegelapan malam.

Moreno bersumpah.

> “Gue hampir liat mukanya! Tapi dia pake masker!”

Bela menggenggam kalung Stiward erat, jantungnya berpacu.

> “Randa… kita bakal temuin orang ini. Dan semua rahasia bakal kebongkar.”


---

Ending Bab 50

Mereka kini punya bukti baru: kain hitam dari jaket misterius.

Bayangan pelaku asli muncul tapi berhasil kabur.

Kerja sama geng pertama mereka sukses, tapi rasa curiga masih ada.

Di kejauhan, sosok misterius berhenti di balik pepohonan, menatap sekolah dari jauh.
Di tangannya, ponsel memutar rekaman suara tawa Randa yang lama.

> “Permainan yang seru…”


---

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang