59. Sekolah dalam Bayangan

8 0 0
                                        

________________________________________________

---

Pagi itu, Angkasa High School terasa berbeda.
Langkah kaki para siswa di lorong-lorong seperti lebih pelan, bisikan lebih hati-hati.
Sejak kematian Kris, sekolah seolah berada di bawah bayang-bayang duka dan ketakutan.

Poster peringatan duka Kris terpampang di mading utama.
Bunga-bunga putih yang ditaruh beberapa siswa sudah mulai layu, meninggalkan bau lembap.

---

Gosip dan Tatapan

Bela berjalan pelan bersama Olivia.
Setiap langkah mereka diikuti tatapan tajam dan bisikan lirih dari siswa lain.

> “Kasian Death Boys, sekarang mereka tinggal bertiga…”
“Gue denger katanya ada yang dorong Randa juga, bukan bunuh diri…”
“Apa jangan-jangan kematian Kris juga ada hubungannya?”

Bela menggigit bibirnya.
Hatinya panas mendengar gosip itu, tapi ia tahu, melawan hanya akan memperburuk keadaan.

Olivia menepuk bahunya pelan.

> “Sabar, Bel. Kita tau kebenarannya lebih rumit dari sekedar gosip mereka.”


---

Death Boys Kembali ke Sekolah

Ketika Death Boys akhirnya masuk kelas, suasana makin tegang.
Irel duduk di kursi paling belakang, menunduk, tatapannya kosong.
Revan dan Malvin duduk di sampingnya, tapi keduanya diam seribu bahasa.
Tidak ada candaan, tidak ada ejekan—mereka bukan lagi Death Boys yang dulu.

Guru pun canggung saat memulai pelajaran.
Kelas menjadi sunyi, tak seorang pun berani memancing masalah.

---

Pertemuan Orang Tua dan Guru

Siang itu, pihak sekolah memanggil orang tua murid yang terlibat.
Di ruang rapat, kepala sekolah duduk bersama guru BK, menatap wajah-wajah tegang para orang tua.

Ibu Bela datang, wajahnya dingin dan penuh jarak.

Ayah Irel yang jarang muncul, kali ini hadir dengan tatapan keras.

Orang tua Claudia duduk di sudut, saling berbisik.

Bahkan orang tua Revan dan Malvin dipanggil untuk pertama kali.

> “Kami memanggil Anda semua karena tragedi ini sudah melewati batas,” ujar kepala sekolah serius.
“Anak-anak kita sedang bermain di jurang bahaya, dan kita tidak bisa terus berpura-pura tidak tahu.”

Bela mencuri pandang ke ibunya, hatinya getir.

> “Sekarang kalian peduli? Setelah semuanya terlambat?”


---

Bela Menghadapi Irel

Sore itu, Bela menemukan Irel duduk sendirian di taman belakang sekolah.
Ia menatap tanah, jemarinya memegang kalung kecil peninggalan Kris.

Bela duduk di sampingnya, diam beberapa saat sebelum bicara.

> “Irel… lo nggak bisa terus kayak gini. Kris nggak bakal suka liat lo nyerah.”

Irel mendengus pelan, suaranya serak.

> “Lo nggak ngerti, Bel. Gue sama dia udah kayak nyawa kembar. Sekarang gue cuma setengah orang. Buat apa gue lanjutin ini semua?”

Air mata Bela jatuh.
Ia menggenggam tangan Irel erat-erat.

> “Lo masih punya kita. Gue, Death Boys, semuanya. Kalo lo nyerah, lo bikin pengorbanan Kris sia-sia.”

Untuk pertama kalinya, mata Irel sedikit bergetar.
Mungkin, jauh di dalam hatinya, ada percikan semangat yang belum padam.

---

Ending Bab 59

Saat mereka kembali ke kelas, sebuah amplop hitam ditemukan di meja Revan.
Semua berkumpul membacanya dengan tegang.

Tulisan tangan di kertas itu membuat bulu kuduk berdiri:

> “Kalian sibuk menangisi yang sudah pergi… tapi lupa, satu lagi akan jatuh.
Malam ini, di sekolah, pilih: siapa yang akan dikorbankan?”

Bela menatap Irel dengan ngeri.
Mereka sadar, sekolah yang mereka kenal kini sudah jadi panggung permainan maut.

---

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang