Sore itu, langit berwarna jingga pucat.
Di halaman belakang rumah Malvin, angin sore berembus membawa aroma hujan.
Untuk sementara, mereka memutuskan berkumpul di satu tempat demi keamanan dan untuk memantau kondisi Kris.
Di ruang tamu, suasana hening tapi hangat.
Tidak ada yang ingin pulang ke rumah masing-masing—mereka terlalu takut jika pelaku kembali beraksi saat mereka terpisah.
---
Bela & Irel
Bela duduk di teras, menatap langit yang mulai gelap.
Irel datang membawa dua gelas teh hangat, duduk di sebelahnya.
> “Lo nggak tidur dari kemarin, kan?” tanya Irel pelan.
> “Hehe… kayaknya mata gue udah lupa rasanya merem,” jawab Bela, mencoba tersenyum.
Irel menatapnya serius.
> “Gue… mau minta maaf, Bel. Semua taruhan konyol itu… semua yang bikin lo sakit… gue nyesel.”
Bela menatapnya sebentar, lalu menghela napas.
> “Gue juga udah capek marah. Kita udah kebanyakan kehilangan. Randa… Kris…”
Irel menatapnya lama, kemudian tanpa sadar meraih tangannya.
Bela tidak menepis. Untuk pertama kalinya, damai terasa di antara mereka meski badai masih menunggu.
---
Claudia & Skyler
Di ruang sebelah, Claudia duduk di lantai sambil memeluk lutut.
Skyler bersandar di sofa, menatapnya.
> “Lo diem terus dari tadi,” ujar Skyler.
> “Gue… takut, Sky. Dulu gue pikir gue paling kuat. Sekarang rasanya… gue cuma pengen sembunyi.”
Skyler menghela napas, lalu mengusap kepala Claudia singkat.
> “Lo nggak sendirian sekarang. Gue di sini.”
Claudia menoleh, matanya berkaca-kaca.
> “Lo beneran nggak marah sama gue soal kebohongan gue dulu?”
> “Kalo gue marah, gue nggak akan di sini, Cla.”
Untuk pertama kalinya sejak skandal aula, Claudia merasa sedikit aman di dekat Skyler.
---
Aurel & Stiward
Di sudut halaman belakang, Aurel dan Stiward bicara pelan.
Entah sejak kapan, mereka terlihat makin dekat.
> “Lo kelihatan capek, Ward,” kata Aurel sambil menyerahkan botol air.
> “Capek banget. Tapi kalo gue keliatan lemah, anak Cobra bakal bingung.”
Aurel tersenyum tipis.
> “Kadang, nggak apa-apa keliatan rapuh… asal ada yang liat.”
Stiward menatap Aurel, untuk pertama kalinya terlihat luruh dari image ketua geng.
---
Nevy & Moreno
Di dekat kamar Kris, Nevy bersandar di bahu Moreno.
Tapi pikirannya jelas melayang.
> “Nev… lo nggak mikirin dia lagi, kan?” tanya Moreno pelan.
Nevy terdiam sebentar, lalu berkata lirih.
> “Gue nggak bisa bohong. Gue sayang sama lo… tapi hati gue… masih ke Kris juga.”
Moreno menunduk, menahan rasa perih.
> “Gue ngerti… tapi janji satu hal. Jangan pernah tinggalin gue kayak gini tanpa kabar.”
Nevy mengangguk, air matanya jatuh.
---
Jastin & Sandra
Di dapur, Jastin mengaduk mi instan di panci kecil.
Sandra tertawa pelan.
> “Liat lo… ketua kelas yang sekarang jadi koki mi instan.”
> “Heh, darurat tau. Yang penting lo makan,” kata Jastin sambil pura-pura sebal.
Sandra menyender ke meja, menatapnya dengan senyum hangat.
Di tengah teror, kehangatan sederhana ini terasa berharga.
---
Kheyes & Malvin
Kheyes duduk di tangga, menatap halaman kosong.
Malvin datang membawa jaket.
> “Lo kedinginan? Nih.”
Kheyes menerima jaket itu, lalu tertawa kecil.
> “Gue nggak nyangka… yang biasanya gue sebelin malah bisa perhatian gini.”
Malvin tersenyum miring.
> “Jangan jatuh cinta sama gue ya, repot ntar.”
Kheyes mencubit lengannya pelan.
Mereka tertawa lirih, humor kecil di tengah rasa takut.
---
Alin & Mr. Ly
Alin duduk di ayunan halaman belakang, Mr. Ly mendorongnya pelan.
> “Kalo semua ini selesai, kita harus liburan jauh, Lin,” ucap Mr. Ly.
> “Gue mau… tapi apa kita bisa beneran bebas?”
Mr. Ly diam sebentar.
> “Selama gue ada buat lo, kita bebas. Gue janji.”
---
Dimas & Rachel
Di ruang tamu, Rachel memegang tangan Dimas.
> “Mas… kalo besok-besok ada apa-apa sama kita…”
> “Ssst… jangan ngomong gitu. Gue di sini. Gue nggak akan kemana-mana.”
Rachel bersandar di bahunya, berusaha menemukan rasa aman.
---
Luvena & Randy
Di balkon lantai dua, Luvena memeluk Randy dari belakang.
> “Gue takut kehilangan lo, Ran…”
> “Tenang aja. Gue janji gue nggak akan ninggalin lo sendirian.”
---
Revan & Olivia
Di dapur, Revan dan Olivia malah berdebat kecil.
> “Lo makan dulu! Nanti pingsan kayak Kris!” bentak Olivia.
> “Lo aja yang makan! Gue lagi nggak laper!”
> “Ya ampun, Rev… dasar bocah,” Olivia mendengus, tapi matanya melembut.
Mereka selalu ribut, tapi semua orang tahu, itu cara mereka saling peduli.
---
Kesadaran di Tengah Kehangatan
Malam itu, di balik canda, tawa kecil, dan momen romantis…
ketegangan tidak pernah hilang.
Irel berdiri di balkon, menatap langit malam yang berawan.
> “Kita lagi diem di sini… tapi gue tau dia di luar sana, ngeliatin kita.”
Bela berdiri di sampingnya, memeluk dirinya sendiri.
> “Dan dia tau kita semua di sini. Kayak kita lagi main catur sama orang yang selalu selangkah di depan.”
Di kejauhan, di luar pagar rumah Malvin, sosok berpakaian hitam berdiri di bawah lampu jalan.
Di tangannya, kamera ponsel menyala merah.
> “Nikmati ketenangan ini… selamanya nggak akan lama.”
---
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Ficção AdolescenteCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
