61. Pertarungan Terakhir

26 1 0
                                        

---

Aula Angkasa High School malam itu dipenuhi bayangan.
Lampu gantung berayun pelan, menebar cahaya redup yang membuat suasana makin mencekam.
Di panggung, sosok berpakaian hitam berdiri tegak dengan pisau di tangan.

> “Akhirnya… kalian semua berkumpul.”

Bela menahan napas, tubuhnya bergetar.
Irel maju satu langkah, matanya membara.

> “Cukup mainan lo! Siapa lo sebenernya?!”

Sosok itu tertawa lirih.

> “Jawabannya… ada di samping kalian.”


---

Pengkhianatan Randy

Lampu aula padam seketika.
Jeritan kecil terdengar.
Saat cahaya darurat menyala, Randy berdiri di sisi panggung, di samping sosok misterius itu.

Semua orang terkejut.

> “Randy?!” teriak Stiward.
“Lo ngapain di sana?!”

Randy menunduk, wajahnya dingin.

> “Dari awal… gue bukan di pihak kalian.”

Luvena langsung melangkah maju, wajahnya pucat.

> “Ran… jangan bercanda… bilang sama gue ini bohong…”

Randy menatapnya, suara parau.

> “Maaf, Ven… gue nggak punya pilihan.”

Luvena menutup mulutnya, air matanya jatuh.
Claudia memelototinya, Rachel menjerit, dan bahkan Moreno tampak tidak percaya.

---

Respon Masing-Masing

Luvena histeris, berusaha mendekat.

> “Ran, lo bilang lo sayang sama gue! Jadi semua itu… cuma bohong?!”
Randy menutup mata, wajahnya penuh sesal.

Skyler akhirnya bicara, suaranya tajam.

> “Gue udah lama curiga. Lo selalu hilang setiap kita diserang. Gue pikir lo cuma takut… ternyata lo pengkhianat.”

Aurel berdiri di sisi Bela, menahan tangis.

> “Lo tega, Ran… kita semua udah kayak keluarga. Lo bikin Kris mati sia-sia.”

Alin menggenggam tangan Mr. Ly erat, wajahnya pucat.

> “Ly… apa kita bisa keluar hidup-hidup dari sini?”
Mr. Ly meraih bahunya, mencoba menenangkan.
“Selama gue ada, gue nggak bakal biarin lo kenapa-kenapa.”


---

Pertarungan Pecah

Stiward maju dengan teriakan marah.

> “Pengkhianat!! Gue bunuh lo sekarang juga!”

Randy mengangkat pisau, pertarungan mereka meledak di panggung.
Suara dentingan logam dan teriakan menggema di aula.

Malvin dan Revan maju melawan sosok berpakaian hitam.
Irel berdiri tegak, menatap tajam.

> “Lo udah ambil Randa… lo ambil Kris… sekarang gue sendiri yang bakal habisin lo.”


---

Topeng Terlepas

Dalam duel sengit itu, masker hitam tersingkap.
Wajah guru olahraga mereka terpampang jelas.

Bela ternganga.

> “Pak…?!”

Guru itu tersenyum bengis.

> “Kalian inget gue? Orang yang kalian dan orang tua kalian hancurkan bertahun-tahun lalu? Sekarang waktunya balas dendam.”

Orang tua mereka muncul di pintu aula bersama kepala sekolah.

Ibu Bela menangis.

Ayah Irel mengepalkan tangan.

Orang tua Claudia saling tatap dengan wajah bersalah.

> “Hentikan ini!!” teriak kepala sekolah.

Guru itu tertawa gila.

> “Kalian pikir bisa cuci tangan?! Dulu kalian yang bikin gue kehilangan segalanya. Sekarang… anak-anak kalian bayar harga!”


---

Luvena Hancur

Luvena menjerit, berlari ke arah Randy.

> “Ran! Kalo lo masih punya hati, berhenti! Lo nggak harus ikut dia!”

Randy menoleh, matanya berkaca-kaca.

> “Ven… gue nggak kuat lagi. Gue dipaksa… kalo gue nggak nurut, keluarga gue yang mati.”

Air mata Luvena jatuh deras.

> “Kenapa lo nggak cerita ke kita?! Kenapa harus lo sendirian?!”

Semua orang terpaku.
Untuk pertama kalinya, mereka sadar: Randy bukan jahat sepenuhnya—dia korban yang dipaksa memilih jalan gelap.

---

Climax

Pertarungan makin brutal.

Stiward duel habis-habisan dengan Randy.

Malvin dan Revan hampir roboh melawan guru.

Claudia dan Skyler membantu Bela menutup akses keluar.

Aurel menahan Nevy yang histeris melihat darah berceceran di lantai.

Alin berdoa lirih di pelukan Mr. Ly.

Irel akhirnya maju, berhadapan langsung dengan guru itu.

> “Lo pikir lo bisa ngancurin kita? Kita udah kehilangan terlalu banyak. Gue bakal akhiri ini malam ini.”

Guru itu tertawa, lalu berteriak:

> “Satu lagi harus mati! Malam ini… kalian bakal tau rasanya hancur!”


---

Ending Bab 61

Lampu aula berkelap-kelip, bayangan menari di dinding.
Randy menodongkan pisau ke arah Stiward yang sudah terpojok.
Guru itu mengangkat senjata, siap menebas.

Bela berteriak:

> “STOP!!!”

Dan dalam hening yang mencekam itu, semua sadar: malam ini akan menentukan siapa yang hidup… dan siapa yang mati.

---

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang