51. Bayangan Pengkhiantan

8 0 0
                                        

Hujan sudah berhenti ketika mereka berkumpul di rumah Malvin, tempat yang disepakati sebagai markas darurat.
Ruang tengah rumah itu ramai, tapi hening—semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Di meja, potongan kain hitam hasil temuan Dimas diletakkan bersama foto CCTV dari Bela.
Kalung rantai Stiward masih ada di genggaman Bela, dingin di tangannya.

---

Suasana Rapat

Irel duduk di kursi paling ujung, matanya tajam memandangi kain itu.
Malvin menatap semua orang.

> “Oke, kita harus bahas ini. Malam ini kita dapat bukti kain hitam. Artinya, kemungkinan besar ada orang ketiga di TKP selain Randa dan Stiward.”

Revan mengangkat tangan, mencoba menahan ketegangan.

> “Dan itu berarti, Stiward kemungkinan besar bukan pelakunya… kan?”

Stiward hanya menatap meja, wajahnya keras tapi jelas lega mendengar kalimat itu.

> “Gue udah bilang… gue nggak dorong dia. Gue cuma… terlambat nyelamatin dia.”

Bela menatap Stiward dalam-dalam, dilema masih terasa di matanya.

---

Pertengkaran Kecil

Claudia tiba-tiba bicara dengan nada tajam.

> “Tapi kita belum tau siapa orang ketiga itu. Bisa aja… salah satu dari kita.”

Semua menoleh ke arahnya.
Kheyes langsung naik pitam.

> “Lo ngomong apa sih, Cla? Kita udah kerja sama, jangan mulai bikin drama lagi!”

Nevy menengahi.

> “Kheyes, tenang dulu. Tapi jujur aja… gue juga ngerasa kayak ada yang nggak beres di sini. Kayak… ada yang main belakang.”

Hayden, yang bersandar di pintu, mendengus pelan.

> “Kalo lo mau nuduh orang, nuduh gue aja sekalian. Kan gue dulu musuhan sama Death Boys.”

Kris, yang duduk lemah di sofa, akhirnya angkat suara lirih.

> “Udah… jangan ribut. Kita di sini bukan buat nyari kambing hitam. Kita nyari kebenaran.”

Suara Kris cukup untuk membuat semua orang hening sejenak.

---

Clue Baru dari Dimas

Dimas, yang sedari tadi memeriksa kain hitam itu, tiba-tiba bicara.

> “Gue kayaknya pernah liat bahan jaket ini… di sekolah.”

Bela mendekat.

> “Maksud lo?”

> “Bahan kayak gini biasanya dipake anak-anak yang suka nongkrong di parkiran belakang. Gue inget pernah liat… waktu kita nyelidikin Randa dulu.”

Rachel, yang duduk di sampingnya, menelan ludah.

> “Jangan bilang… kita harus balik ke sana lagi besok malam?”

Irel mengangguk pelan.

> “Iya. Dan kali ini… kita harus pasang jebakan. Gue nggak mau dia kabur lagi.”


---

Momen Emosional Singkat

Nevy duduk di samping Kris, menatapnya dengan mata basah.

> “Ris… lo janji lo nggak akan tinggalin gue duluan, kan?”

Kris tersenyum tipis.

> “Selama gue bisa… gue bakal di sini.”

Hayden menatap mereka dari jauh, wajahnya menegang tapi ia memilih diam.

---

Ending Bab 51

Malam itu ditutup dengan kesepakatan baru:

Mereka akan kembali ke sekolah besok malam untuk pasang jebakan.

Semua geng kini benar-benar bersatu, tapi benih pengkhianatan sudah terasa.

Di luar rumah Malvin, angin malam bertiup kencang.
Dan di balik pagar, seseorang berdiri sambil menatap rumah itu, wajahnya tertutup masker hitam.
Di tangannya, sebuah ponsel menampilkan pesan baru:

> “Mereka sudah curiga. Kita harus gerak lebih cepat.”


---

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang