Sore itu, hujan kembali turun tipis di halaman sekolah.
Suasana Angkasa High School terasa berat, setiap bisik-bisik seperti pisau menusuk.
Foto dan video tragedi Randa masih beredar di sosial media meski pihak sekolah berusaha menghapusnya.
---
Lorong Sekolah
Bela berjalan sendirian kali ini, Olivia baru saja dipanggil guru BK.
Setiap langkahnya terasa berat, tapi ia tahu ia harus terus maju.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
> “Lo mau tau siapa yang terakhir sama Randa di atap?”
Bela berhenti, jantungnya berdegup cepat.
> “Siapa lo?” balasnya cepat.
Pesan kedua masuk.
> “Temen masa kecil lo sendiri.”
Tangan Bela gemetar.
Hanya ada satu nama di kepalanya: Stiward.
---
Markas Cobra – Belakang Sekolah
Stiward duduk di kursi usang, dikelilingi Randy, Raka, Moreno, Hayden, dan Jastin.
Wajah mereka muram.
Biasanya markas ini penuh tawa dan musik keras, tapi sekarang hanya suara hujan menetes.
Randy membuka suara pertama kali.
> “Ward… lo yakin kita bakal aman?”
Stiward menatap ke luar jendela.
> “Gue nggak dorong dia. Tapi orang pasti nyangka gitu… karena gue terakhir bareng dia di atap.”
Raka menghela napas berat.
> “Gue nggak suka ini. Gue kira setelah ultah Nevy di puncak, kita semua bisa damai sama Death. Tapi tragedi ini… kayak mau hancurin kita lagi.”
Moreno, yang biasanya santai, tampak resah.
> “Gue cuma nggak mau Nevy lagi-lagi kena masalah. Apalagi sekarang dia… masih sayang sama Kris di dalam hati.”
Stiward menoleh cepat.
> “Gue nggak peduli soal perasaan mereka. Yang gue peduli cuma Bela. Gue nggak mau dia makin hancur karena ini semua.”
---
Kelas 3A – Sore
Rachel duduk di bangkunya, wajahnya gelisah.
Dimas masuk pelan-pelan, membawa teh hangat.
> “Rach, minum dulu… lo pucat banget.”
Rachel menerima teh itu, mencoba tersenyum tipis.
> “Makasih, Mas… Gue cuma takut…”
Dimas duduk di sebelahnya, menatap mata pacarnya.
> “Tenang aja. Kita udah lewatin lebih parah dari ini waktu nyelidikin Randa, kan? Kita ketemu rahasia paling kotor di sekolah ini… dan sekarang semuanya mulai keluar.”
Rachel mengangguk pelan, tapi matanya tetap menyimpan rasa takut.
Ia tahu, permainan ini belum berakhir.
---
Lorong Belakang – Malam
Bela memberanikan diri pergi ke lorong belakang tempat tangga atap berada.
Hanya lampu redup yang menerangi lorong basah itu.
Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat nafasnya tercekat.
Sebuah syal biru milik Randa tersangkut di pipa.
Dan di sampingnya, ada kalung rantai hitam yang sangat ia kenal.
> “Ini… kalung Stiward…”
Bela memegang kalung itu, dan untuk pertama kalinya, ia merasa ketakutan bukan hanya karena tragedi Randa… tapi juga karena masa lalunya yang ikut terlibat.
---
Ending Bab 49
Di markas Death Boys, Kris duduk lemas di kursi.
Nevy akhirnya datang dengan wajah panik.
> “Ris… kenapa lo nggak pernah cerita…”
Kris hanya tersenyum samar, suara lirihnya nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar.
> “Karena gue nggak mau… ada yang nangis karena gue…”
Dan di luar sana, mata-mata yang tak terlihat mengawasi sekolah dari kejauhan.
Seseorang berbisik di balik helm hitam:
> “Permainan baru aja dimulai.”
---
To Be Continued – Bab 50: Bayangan di Balik Tragedi
Hubungan Cobra & Death makin panas karena saling curiga.
Bela dihadapkan pada dilema: melindungi sahabat masa kecilnya atau mengungkap kebenaran.
Kris mulai drop parah, konflik emosional dengan Nevy dan Moreno memuncak.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Fiksi RemajaCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
