---
Pagi itu, hujan semalam meninggalkan udara lembab.
Rumah Malvin masih berantakan—kaca dapur pecah, kursi terbalik, dan beberapa sisa darah di tangan Malvin yang tadi malam menghantam dinding.
Tidak ada yang benar-benar tidur. Semua wajah lelah, mata merah, dan pikiran kacau.
Bela duduk di sofa dengan selimut di bahunya, menatap kosong ke lantai.
Irel berdiri di jendela, matanya tajam mengamati halaman luar, seolah pelaku masih mengintai.
Revan menenggak botol air, lalu bersuara serak:
> “Kita nggak bisa terus gini. Malam tadi… hampir aja gue yang mati.”
Olivia memelototinya.
> “Makanya jangan berdiri bego di pintu belakang!”
“Eh, gue kan nggak nyangka tiba-tiba ada ninja masuk rumah!” balas Revan, membuat Sandra menutup wajah karena stress.
Tawa tipis sempat terdengar, tapi hanya sebentar sebelum hening lagi menelan.
---
Mulai Saling Curiga
Raka duduk di meja, menatap semua orang satu per satu.
> “Kalian sadar nggak… orang itu selalu tau posisi kita. Tau kapan kita lengah. Bahkan bisa matiin listrik rumah Malvin.”
Suasana tegang. Semua orang saling pandang.
> “Maksud lo… ada yang bocorin ke dia?” tanya Randy dengan suara berat.
> “Atau lebih parah… ada yang jadi pengkhianat,” tambah Hayden.
Kheyes langsung menunjuk Claudia.
> “Jangan bilang ini ulah lo lagi, Cla! Lo paling sering bikin masalah!”
Claudia menatapnya tajam.
> “Gue udah cukup dihukum atas kebodohan gue. Lo pikir gue gila mainin nyawa kita semua?”
Bela yang sejak tadi diam akhirnya bicara, suaranya bergetar:
> “Tapi Raka ada benernya. Dia selalu satu langkah di depan kita. Itu artinya… dia deket. Mungkin bahkan ada di antara kita.”
Semua terdiam. Pandangan mereka kini dipenuhi rasa takut sekaligus curiga.
---
Kris Sadar
Tiba-tiba suara lirih terdengar dari kamar.
> “Bel…”
Bela segera bangkit, Nevy dan Moreno ikut berlari ke dalam.
Di ranjang, Kris membuka mata pelan, wajahnya lemah.
Nevy langsung menangis.
> “Ris! Ya Tuhan… lo sadar! Jangan bikin gue mati ketakutan gini lagi!”
Kris tersenyum tipis.
> “Hehe… gue kan emang hobi bikin lo marah…”
Bela menunduk, air matanya jatuh.
> “Ris… kita diserang lagi semalem. Lo harus jujur… ada yang lo tau, kan?”
Kris terdiam lama, lalu menarik napas berat.
> “Randa… sebelum dia jatuh… dia sempet chat gue. Dia bilang… ‘mereka nggak cuma mainin gue, tapi kita semua.’”
Nevy terisak.
> “Mereka siapa, Ris?”
Kris menutup matanya sebentar, lalu berbisik lirih:
> “Salah satu dari kita… udah main di dua sisi…”
---
Retakan Hati
Kata-kata itu membuat ruangan mendadak dingin.
Nevy menggenggam tangannya makin erat.
> “Ris, jangan ngomong gitu… jangan bikin gue takut…”
Moreno menatap Kris dengan mata merah, tapi dalam hatinya mulai menebak-nebak siapa pengkhianat itu.
Bela berdiri kaku. Ucapannya semalam kembali terngiang: “Dia tau semua tentang kita… bahkan kapan kita lengah.”
---
Ancaman Baru
Saat mereka semua masih mencerna kata-kata Kris, ponsel Revan tiba-tiba bergetar di meja.
Nomor tak dikenal mengirim pesan baru.
> “Bagus. Kalian sudah mulai curiga.
Tapi malam ini… satu nyawa lagi akan hilang.”
Foto menyusul pesan itu.
Foto mereka semua duduk di ruang tamu pagi ini, diambil dari jendela.
Semua terdiam.
Bela menutup mulutnya, air matanya jatuh.
Irel menggenggam tangannya sendiri, rahangnya mengeras.
> “Dia nggak akan berhenti… sampai kita semua hancur,” bisiknya.
---
Ending Bab 57
Di luar rumah Malvin, sosok berpakaian hitam masih berdiri di balik pepohonan, menatap jendela dengan dingin.
Ia memainkan pisau kecil di tangannya, lalu berbisik pada dirinya sendiri:
> “Satu sudah jatuh… malam ini giliran siapa?”
---
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
