---
Angin malam menyapu halaman Angkasa High School yang gelap.
Sisa hujan membuat jalan setapak berkilau di bawah cahaya bulan yang samar.
Malam itu, mereka datang bukan untuk belajar… tapi untuk berburu kebenaran.
---
Persiapan Misi
Di gerbang samping sekolah, seluruh geng berkumpul.
Death Boys: Irel, Kris, Malvin, Revan, Mr. Ly, Skyler, Aurel
Cobra: Stiward, Randy, Raka, Moreno, Hayden, Jastin
Cheerleader/Claudia Girls: Claudia, Nevy, Luvena, Rachel, Alin, Sandra, Kheyes
Tambahan: Bela, Olivia, Dimas
Tak ada ejekan malam ini.
Tak ada gengsi yang tersisa.
Hanya rasa takut, bersalah, dan tekad.
Irel membentangkan denah kecil sekolah.
> “Oke, kita bagi empat tim. Semua posisi harus ketat. Kalo pelaku muncul, dia nggak boleh kabur lagi.”
Malvin menunjuk lorong belakang.
> “Tim I: Irel, Bela, Stiward di TKP.
Tim II: Gue, Revan, Raka, Dimas di lapangan belakang.
Tim III: Randy, Moreno, Hayden, Jastin di gerbang samping.
Tim IV: Claudia Girls + Skyler + Aurel di lorong utama, jaga gudang.”
Revan mencoba bercanda untuk redakan tegang.
> “Kita kayak main game survival gini ya, cuma kurang musik horor.”
> “Diam, Rev,” desis Irel, tapi senyum tipis muncul di bibir beberapa orang.
---
TKP Lorong Belakang
Bela, Irel, dan Stiward bergerak perlahan di lorong tempat Randa terakhir terlihat.
Hening.
Hanya bunyi tetesan air dari pipa bocor dan suara langkah mereka di lantai basah.
Bela menggenggam senter erat.
> “Rasanya… kayak Randa masih ada di sini.”
Stiward menelan ludah.
> “Gue… nggak bisa lupain hari itu, Bel. Gue pengen nyelametin dia… tapi gue telat.”
Irel menatap keduanya sekilas.
> “Fokus. Malam ini kita harus dapet jawaban.”
Tiba-tiba—
BRUK!
Suara benda jatuh dari lantai dua membuat semua orang refleks menoleh ke atas.
Bayangan hitam melintas cepat di tangga.
> “Dia di atas!” bisik Irel.
---
Pengejaran Menegangkan
Semua tim bergerak.
Siluet hitam itu menuruni tangga lain, lalu berlari ke arah lapangan belakang.
Revan berteriak dari kejauhan:
> “Gue liat dia! Cepet kejar!!”
Cobra mencoba menghadang dari sisi gerbang samping.
Moreno hampir menangkap lengan pelaku, tapi orang itu memukul tangannya dan lolos.
Hanya senter-senter yang bergoyang di lorong gelap, langkah kaki menggema.
Bela merasakan adrenalin berpacu.
> “Hampir… hampir ketangkap…”
Namun tiba-tiba, dari arah lorong belakang terdengar suara berat jatuh.
DUG!
---
Kris Tumbang
> “KRIS!!!”
Nevy berteriak histeris.
Semua orang spontan berhenti.
Kris tergeletak di lantai, wajahnya pucat, napasnya terengah.
Nevy berlutut di sisinya, menangis.
> “Ris… jangan gini dong… bangun!”
Irel berlari mendekat, wajahnya tegang.
> “Sial! Kita harus ke rumah sakit sekarang!”
Stiward memandang pelaku yang kabur di kejauhan, lalu menatap Kris.
Ia mengumpat pelan.
> “Kita nggak punya pilihan. Nyawa dia lebih penting.”
Pelaku berhasil lolos, melompati pagar belakang dan menghilang ke kegelapan malam.
Misi mereka gagal… tapi nyawa teman mereka taruhannya.
---
Rumah Sakit – Tengah Malam
Lorong rumah sakit itu terasa panjang dan dingin.
Semua duduk terpukul.
Nevy tidak lepas dari sisi Kris. Hayden berdiri di dekat pintu dengan wajah gelap.
Moreno memeluk Nevy sebentar, mencoba menenangkannya.
Pintu IGD terbuka.
Seorang dokter keluar, wajahnya serius.
> “Siapa keluarga pasien?”
Irel maju selangkah.
> “Kami… temannya.”
Dokter menarik napas panjang.
> “Teman kalian… menderita kanker stadium akhir. Kondisinya sudah parah. Kami jujur saja… waktu yang ia punya tidak banyak lagi.”
---
Keterkejutan & Emosi
Semua terdiam.
Hanya terdengar isakan tertahan dari Nevy.
Moreno menunduk, Hayden mengepalkan tangan, matanya merah.
Rachel memegang tangan Luvena erat-erat.
Sandra memeluk Jastin tanpa sadar.
Bela menutup mulutnya, air matanya jatuh.
> “Kris… selama ini lo sendirian nanggung semua ini?” gumam Bela lirih.
Nevy memeluk Kris yang kini terbaring di ranjang, matanya basah.
> “Kenapa lo nggak bilang dari dulu… kenapa lo malah bikin gue benci lo…”
Kris tersenyum lemah.
> “Karena gue nggak mau… lo nangis kayak gini… waktu gue tinggal sebentar lagi.”
Hayden membalik badan, tak ingin terlihat menangis.
Stiward menatap langit-langit, mencoba menahan rasa bersalah yang tiba-tiba muncul.
---
Tekad Baru
Malam itu di lorong rumah sakit, mereka semua menyadari dua hal:
1. Mereka bisa kehilangan Kris kapan saja.
2. Pelaku masih bebas di luar sana.
Irel menatap semua orang.
> “Kita nggak boleh nyerah. Kita harus tangkep orang itu… buat Randa, dan buat Kris juga.”
Bela menggenggam kalung Stiward erat, matanya berkilat di balik air mata.
> “Randa… kita janji, kebenaran bakal terungkap. Sekalipun harus ngorbanin semuanya.”
Di luar rumah sakit, hujan turun lagi.
Di bawah lampu jalan, sosok berpakaian hitam berdiri sambil memotret jendela kamar Kris, lalu menghilang ke dalam kegelapan.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
