45. Hari Kebenaran

9 0 0
                                        

---

Bab 45 – Hari Kebenaran

Hari ini, suasana Angkasa High School terasa berbeda.
Sejak pagi, terdengar bisik-bisik tak biasa di lorong sekolah.

> “Eh, lo denger nggak? Katanya Randa yang culun itu mau ngomong di aula hari ini.”
“Hah? Yang tiap hari dibully Claudia Girls itu?”
“Iya, katanya dia bawa bukti penting. Gila sih kalau beneran.”

Bela yang sedang berjalan bersama Olivia ikut mendengar gosip itu.
Ia menoleh cepat ke arah Olivia.

> “Lo denger itu?”

Olivia mengangguk pelan.

> “Denger… tapi aneh banget. Randa kan biasanya penakut. Kok tiba-tiba kayak gini?”

Bela menghela napas.

> “Entahlah. Tapi gue punya firasat… hari ini bakal kacau.”


---

Aula Sekolah – Jam 10.00

Seluruh siswa, guru, bahkan kepala sekolah berkumpul untuk acara rutin peringatan hari sekolah.
Tidak ada yang menduga, acara ini akan jadi momen paling bersejarah di Angkasa High.

Di panggung, Randa berdiri dengan seragam rapi. Tapi hari ini berbeda.
Rambut dikuncir rapi, kacamata dilepas.
Wajahnya terlihat cantik dan… percaya diri.

Suasana mendadak hening.
Tidak ada lagi cewek culun yang dulu gampang dibully.
Yang berdiri di atas panggung sekarang adalah seseorang yang sepenuhnya berbeda.

> “Selamat pagi, semua,” ucap Randa lantang.
“Mungkin kalian kaget lihat gue berdiri di sini. Mungkin kalian cuma kenal gue sebagai si culun yang lemah, yang tiap hari kalian hina. Tapi mulai hari ini, gue bukan lagi Randa yang dulu.”

Semua siswa mulai berbisik. Claudia Girls saling pandang gelisah.
Death Boys yang duduk di barisan belakang menatap tajam.

Randa mengangkat flashdisk kecil di tangannya.

> “Di tangan gue sekarang… semua bukti kebusukan kalian ada di sini.”

Seketika ruangan hening.

> “Mulai dari video Claudia Girls yang suka ngebully cewek-cewek tak bersalah…”

Tiba-tiba layar besar di aula menampilkan rekaman CCTV kantin.
Claudia, Nevy, Luvena, Rachel terlihat jelas menendang buku Randa, menginjak kacamatanya, dan menertawakan tangisannya.

Siswa-siswa bersorak kaget.

> “Gila… selama ini mereka sebegitunya…”
“Queen of Bullying ketauan juga akhirnya!”

Claudia bangkit dari kursi, wajah memerah.

> “MATIKAN ITU SEKARANG!” teriaknya.

Tapi guru-guru menahan, karena ingin mendengar semuanya.

---

Randa melanjutkan.

> “Bukan cuma itu. Gue juga punya video Death Boys berantem di luar sekolah sama Cobra, geng jalanan. Bukti ini cukup buat bikin nama sekolah kita rusak kalau tersebar keluar.”

Video berikutnya diputar.
Tampak Irel, Kris, Malvin, Mr. Ly, dan Revan sedang baku hantam brutal di jalanan malam.
Guru-guru saling pandang, shock.

> “Anak-anak ini… ketua OSIS dan tim basket…?! Astaga…” gumam salah satu guru.

Death Boys terdiam.
Malvin menunduk, Mr. Ly mengepalkan tangan, Irel hanya menatap layar dingin.

---

Randa tersenyum tipis.

> “Dan sekarang… rahasia terbesar yang kalian tunggu-tunggu.”

Seketika Bela merasa jantungnya berhenti berdetak.
Randa menoleh ke arahnya.

> “Bela dan Irel.”

Bisik-bisik di aula semakin ramai.

> “Itu cuma taruhan.”

Suara Randa terdengar jelas di mikrofon, menusuk hati Bela seperti belati.

> “Iya, taruhan. Siapa yang bisa bikin Bela baper duluan. Itu semua permainan Death Boys, termasuk Irel yang katanya dingin tapi ternyata cuma aktor.”

Seluruh aula heboh.
Bela membeku di kursinya.
Olivia menatapnya tak percaya, mencoba memegang tangannya.

> “Bel…”

Air mata Bela jatuh tanpa bisa ditahan.
Irel berdiri spontan.

> “Cukup, Randa!” suaranya menggema di aula.

Tapi Randa menatapnya tajam.

> “Lo yang cukup. Kalian semua cuma pengecut yang ngumpet di balik geng dan popularitas. Hari ini… topeng kalian jatuh.”

Hening.
Lalu suara bisik-bisik dan teriakan memenuhi aula.
Guru-guru mencoba menenangkan keadaan, tapi semua sudah kacau.

---

Di tengah kekacauan itu, Randa berjalan turun dari panggung.
Ia menatap Bela sebentar.

> “Maaf, Bel… tapi lo juga harus tahu kebenarannya.”

Bela hanya bisa menunduk, tak sanggup menjawab.

Randa keluar dari aula dengan senyum kecil, seolah akhirnya ia bebas dari semua belenggu.

Tidak ada yang menduga… itu adalah hari terakhir mereka melihat Randa hidup dengan senyum.

---

To Be Continued – Bab 46: Tragedi di Atap Sekolah

Randa ditemukan jatuh dari atap → semua orang mengira bunuh diri.

Gosip makin gila, Bela makin terpuruk.

Misteri siapa yang mendorong Randa dimulai…

---

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang