Hujan gerimis membasahi halaman Angkasa High School.
Suasana sekolah muram, berbeda jauh dari pagi yang riuh saat Randa membongkar semua rahasia.
Sejak siang, gosip tidak berhenti bergulir.
Bela menghilang dari kelas.
Claudia Girls bersembunyi di toilet, ketakutan.
Death Boys saling diam, kecuali Revan yang terus mencoba bercanda untuk menutupi rasa tegang.
---
Sore hari – Atap Sekolah
> “Hhh… akhirnya selesai juga semua ini…”
Randa berdiri di tepi atap, wajahnya menatap hujan yang jatuh perlahan.
Tidak ada lagi kacamata.
Tidak ada lagi air mata.
Hanya tatapan lega… dan sedikit sedih.
> “Rasanya ringan banget… tapi kenapa hati gue tetep sakit, ya?” gumamnya lirih.
Di tangannya, ia memegang ponsel.
Satu pesan terakhir belum terkirim.
> “Bel, maaf… gue nggak bermaksud nyakitin lo. Gue cuma pengin semua orang tahu siapa mereka sebenarnya. Lo berhak tau kebenarannya. Kalau gue nggak ada lagi, jangan lupa gue pernah sayang sama lo sebagai sahabat.”
Air mata menetes, bercampur dengan hujan.
---
Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat.
Randa menoleh…
> “Kamu?”
Siluet itu mendekat.
Orang itu tersenyum tipis.
> “Kamu nggak seharusnya di sini sendirian, Ran.”
> “Aku… aku cuma mau sendiri sebentar. Habis ini aku turun kok…”
Langkah itu semakin dekat.
Angin di atap berembus kencang.
> “Terlambat. Kamu udah terlalu jauh masuk permainan ini, Ran.”
> “Permainan…?”
Senyum itu berubah dingin.
> “Selamat tinggal.”
Dor!
Teriakan Randa tertelan angin dan suara hujan. Tubuhnya jatuh bebas dari atap sekolah.
---
Beberapa menit kemudian – Halaman Sekolah
> “AAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Jeritan siswi memecah suasana.
Tubuh Randa tergeletak di tanah, bersimbah darah.
Guru-guru dan murid berlarian keluar.
Olivia menutup mulutnya tak percaya, air matanya jatuh.
Bela tiba di lokasi, lututnya lemas.
> “RAN… RANDAAA!!!”
Irel berdiri di belakang, wajahnya pucat.
Dia memandang tubuh Randa tanpa kata-kata.
Untuk pertama kalinya, dinginnya retak oleh rasa bersalah yang menusuk.
---
Keesokan harinya – Ruang BK
Kepala sekolah mengumumkan bahwa Randa dinyatakan meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.
Pihak sekolah menyebutnya bunuh diri akibat tekanan sosial.
Tapi di antara bisik-bisik murid, muncul rasa ragu.
Mengapa Randa terlihat bahagia setelah membongkar rahasia?
Mengapa ia sempat tersenyum sebelum keluar aula?
Dan siapa sosok terakhir yang terlihat di atap?
---
Di Markas Death Boys
Hening.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar jendela.
Malvin menatap ponselnya, membaca pesan singkat yang tak sempat terkirim dari Randa:
> “Makasih udah selalu baik sama aku. Maaf kalau aku pergi terlalu cepat.”
Tangannya bergetar.
> “Gue nggak bisa maafin diri gue sendiri…”
Kris yang biasanya cerewet hanya menatap kosong ke lantai.
Wajahnya pucat.
Revan mencoba bicara tapi suaranya serak.
> “Guys… kita… kita semua udah kebablasan…”
Irel menutup matanya erat, mencoba menahan rasa bersalah.
Di dalam hatinya, satu kalimat terus terngiang:
> “Siapa yang dorong dia…?”
---
To Be Continued – Bab 48: Sekolah Dalam Kekacauan
Misteri pelaku pendorongan Randa mulai jadi isu besar.
Bela hancur dan menyalahkan semua orang, terutama Death Boys.
Claudia Girls dan Death Boys mulai saling tuduh.
Perlahan, rahasia Kris mulai muncul karena ia terlihat makin pucat dan lemah.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
