"Ini salahmu, Jeongyeon..." ujar Mina datar sambil memilih buah-buahan.
Jeongyeon mengerutkan kening, bingung dengan pernyataan penuh ketidakjelasan istrinya itu. Dia bahkan tidak tahu kenapa Mina tiba-tiba menyalahkannya.
"Hah? Kenapa salahku?" tanya Jeongyeon bingung, masih tidak tahu apa kesalahannya.
Mina mendengus kemudian berbalik menatap Jeongyeon yang berada di belakangnya.
"Salahmu karena eomma Yoo selalu bersikap seenaknya...."
Setelah mengatakan hal itu, Mina kembali memilih bahan-bahan makanan dengan cuek, seakan dia tak mengatakan sepatah katapun sebelumnya.
"Ohh...jadi, maksudmu kau tidak menyukai eommaku? Kenapa baru bilang sekarang? Kalau kau bilang sebelumnya, kau kan bisa tidak ikut denganku. Aku bisa pergi menemui eommaku sendiri dan membuatkan alasan yang bagus untuk ketidakhadiranmu. Jadi, kau tidak akan terjebak di sana dan mendengarkan kekhawatiran eommaku akan kesehatan menantu serta cucunya..." ucap Jeongyeon kesal karena tidak suka mendengar perkataan Mina tentang ibunya.
Biar bagaimana pun sifatnya, wanita yang dibicarakan Mina itu tetaplah ibunya.
Dia bahkan sangat bangga memiliki ibu seperti nyonya Yoo yang sangat perhatian, tegas, disiplin, cantik dan sewaktu-waktu bisa menjadi wanita yang lemah lembut dan manis.
Jadi, dia tak masalah jika nyonya Yoo mempunyai sedikit sifat buruk dan dia tak pernah suka ada orang yang menjelek-jelekkan orang tuanya.
Mina yang mendengar perkataan Jeongyeon kembali mendengus, dia berbalik dan menusuk-nusuk dada suaminya itu dengan telunjuknya.
"Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak menyukai eommamu. Aku memang jengkel dengan sikapnya, tapi bukan berarti aku tidak menyukainya..." tekan Mina dengan bibir mengerucut.
"Paham?" tanya Mina sambil mengangkat wajahnya dan menatap Jeongyeon dengan senyum kecil.
Jeongyeon mengangguk tapi dia tidak tersenyum dan malah memalingkan wajahnya, berpura-pura memandang sesuatu yang pastinya bukan Mina.
Mina yang melihat itu menghela napas, dia lalu memegang kedua pipi Jeongyeon dan memaksa agar suaminya itu melihat ke arahnya.
"Dengarkan aku...kalau kau benar-benar paham akan maksudku, kau pasti tidak akan mungkin membiarkan wajahmu cemberut seperti ini..."
Jemari lentik Mina berpindah menuju bibir Jeongyeon dan menarik kedua sudutnya, membentuk sebuah senyuman yang aneh.
"Jadi tersenyumlah...kenyataannya, aku selalu menyukai eomma Yoo karena dia baik dan perhatian padaku..." lanjut Mina.
Dia belum melepaskan jarinya dari bibir Jeongyeon, bahkan ketika pemuda itu memandangnya dengan takjub entah karena apa.
Sadar atau pun tidak, itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting saat ini adalah apa yang dilakukan Jeongyeon pada Mina.
Entah apa yang Jeongyeon pikirkan hingga tiba-tiba memegang jari-jemari yang lebih kecil dari miliknya itu dan menciuminya di setiap tempat.
"E-eh...J-jeongyeon?" wajah Mina seketika berubah menjadi merah.
Dia berpikir harus melepaskannya, tapi tangannya terlalu lemas untuk melakukan hal itu.
Di sisi lain, seakan terkena pengaruh hipnotis, Jeongyeon sulit untuk menyadari apa yang sedang dia lakukan saat ini.
Dia telah terpesona...
Terpesona dengan aroma Mina yang khas serta rasa halus kulit istrinya itu.
Rasa itu seakan menariknya untuk terus menciumnya.
