"Berhenti," ucap satya kepada thesa.
Mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe atas permintaan satya di sekolah, dan aneh nya thesa menyetujuinya dengan mudah, hari itu, thesa melihat kemarahan yang begitu kental di mata satya, mata elang nya menatap nya begitu tajam seolah mengintimidasi, dan benar, satya membuat thesa tidak berkutik hanya dengan merasakan aura pria itu.
Thesa mengernyit, kata 'berhenti' yang keluar dari mulut satya membuat nya bingung, apakah ini karena gadis itu?
"Maksud lo?"tanya thesa hati hati, bagaimanapun pria yang duduk dihadapannya ini adalah satya, seorang putra tunggal dari antony xie, seseorang yang mungkin bisa menghancurkan keluarganya dengan sekejap mata
Satya memandang thesa datar, sama seperti sebelumnya, "saya bersumpah thesa, jika anda tidak juga berhenti, maka saya sendiri yang akan menghancurkan kalian"ucapnya mengancam
"Hanya karena dia?---"
Brak
"Dia adalah adik kandung anda thesa erland raheja."bentak satya setelah menggebrak meja di depan nya
Tidak peduli jika seluruh mata menatap keduanya sekarang, tidak peduli jika tindakan nya akan di anggap menganggu, satya maju mendekati thesa, mata elang nya terus menatap tajam thesa ingin mencabik cabiknya sekarang juga. Tidak akan ada yang bisa menghentikanya
"Saya tahu anda bodoh, tapi saya tidak menyangka anda juga gila. Berhenti mengusik dia, atau anda akan berhadapan langsung dengan saya"bisiknya menekan
Entah sudah yang keberapa kali thesa meminum minuman berakohol itu, membuatnya kian berada dalam ketidak sadaran. Untuk pertama kalinya, thesa merasa begitu kacau hingga mengkonsumsi minuman yang bahkan tidak pernah dia sentuh sebelumnya.
Rambutnya, penampilan nya begitu berantakan, ditambah wajahnya yang babak belur membuat pria itu terlihat semakin menyedihkan.
"Maaf..."lirihnya sendu bahkan hampir menangis
Seharusnya hari itu, disaat satya memperingatinya untuk berhenti, thesa menurut saja, membuang jauh jauh ego dan emosi nya yang tidak jelas. Seharusnya dia mendenggarkan hatinya.
Banyak hal yang begitu janggal terjadi, dan bodohnya thesa tidak pernah tau itu. Tidak, lebih tepatnya adalah thesa memang tidak pernah berniat mencari tahu apapun.
"Thea.....abang hiks nyesel.."isaknya tertahan
Sejak kecil thesa tidak pernah mengetahui wajah dari adiknya itu, bertahun tahun lamanya kedua orang tuanya hanya memperbolehkannya berada disisi tania, memberitahukan bahwa sang adik tidak pernah ingin menganggap thesa sebagai kakaknya. Konyol emang, tapi bodoh nya thesa justru mempercayai setiap ucapan mereka tentang adik kandung nya sendiri.
Hingga suatu hari ibunya membawa seorang gadis memasuki rumah raheja untuk pertama kalinya, disitulah pertama kali thesa melihat wajah thea.
Sikap thea yang cenderung seperti pengemis untuk sebuah perhatian membuat nya geram, menempelinya di setiap kesempatan membuatnya risih, ditambah dengan perilaku thea yang juga seperti gadis murahan di depan giur membuatnya semakin membenci gadis itu
Dimatanya, apapun yang dilakukan thea adalah sebuah kesalahan, hingga apapun bentuk kesialan yang menimpa dirinya dan keluarganya akan thesa anggap sebagai kesalahan thea yang membawa dampak buruk.
"Maafin abang dek.....maaf"lirih nya
"Abang janji gak akan nyakitin adek lagi, balik ya sayang...abang nunggu kamu disini...abang mau peluk kamu sayang..."sambung nya semakin meracau tidak jelas
Sekarang, satya telah mengabulkan ancamannya dulu, membuat thesa merasakan apa itu penyesalan. Menyesal karena tidak pernah mencoba memahami bagaimana keadaan adiknya, menyesal karena selalu menyakiti adiknya, menyesal karena begitu mempercayai tania hingga membuatnya begitu jauh dari thea.
Rasanya sangat sesak, saat melihat gadis yang biasanya selalu mendambakan kehadiranya, menginginkan kasih sayangnya justru akan berlari saat menatapnya.
Thea yang dulu selalu ingin berada disisinya kini pergi jauh darinya, meninggalkanya sendirian dengan penyesalan yang begitu luar biasanya, bahkan gadis itu juga melepaskan nama ayahnya dari namanya sendiri.
"Thea...."lirihnya sendu
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHEASTORY
Romans. . . "apa aku juga tidak berhak bahagia?" . . . "im thea not tania" . . .
