Thea mengerjabkan matanya perlahan, pusing di kepala nya begitu terasa hingga untuk duduk aja rasanya thea kesulitan.
Usai kesadaranya terkumpul sepenuhnya, thea mengedarkan pandangan nya ke sekeliling ruangan yang ia tempat i sekarang, begitu mewah,rapi,wangi dan mengesankan. Ini asing baginya
"Syukur lo udah sadar," seru satya memasuki kamar sembari membawa segelas air putih untuk thea.
Satya menarik kursi mendekati ranjang, ia cukup tau diri untuk tidak duduk di ranjang yang sama bersama thea, disaat mereka baru saja saling mengenal, "tadinya kalau lo gak sadar juga,mau gue bawa ke rumah sakit" ucap satya lagi
Thea mengernyit "kita dimana?"
"Apartemen, gue gak tau rumah lo mana,di sekolah lo pingsan jadi gue bawa deh kesini" jelasnya
Bohong jika satya tidak mengetahui rumah gebetanya, jauh sebelum satya memutuskan untuk berpindah sekolah di tempat thea belajar, satya sudah menyuruh anggota geng nya untuk mencari tau semua informasi mengenai thea, siapa thea,bagaimana thea, baik yang thea suka atau gak suka, hingga apa yang sangat thea inginkan,
"Minum dulu, tenang aja gue gak punya niat jelek" ucap satya menyerahkan segelas air, diterima baik oleh thea
"Makasih ya"
Satya tersenyum "sama sama, gue ada di dapur kalau lo nyari gue. Sementara itu, tenangin diri lo dulu okey?" ucap satya
Thea mengangguk, sebegitu frustasinya kah dia tadi?
"Oke, gue keluar dulu" ucap satya, mengusap lembut puncak kepala thea, membuat gadis itu tercenggang, menatap satya dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.
Hampir setengah jam lamanya thea berdiam diri di kamar milik satya, akhirnya gadis itu memutuskan untuk beranjak pergi mencari keberadaan satya.
Matanya sedikit memancarkan kekaguman, menatap pria yang saat ini sedang sibuk berkutat di dapur, dalam keadaan seperti ini thea akui, satya itu tampan, sangat, bahkan ketampanan giur dengan mudah dikalahkan oleh pesona satya.
Walaupun hanya memakai outfit serba hitam, ketampanan satya memancar begitu sempurna. Apalagi pria itu sangat mahir memasak, sungguh idaman bukan?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue tau gue tampan" seru satya yang sedari tadi sadar telah di perhatikan
Thea mengerjabkan matanya untuk mengembalikan kesadaranya "satya ngapain?"
Satya mengernyit "gue?___gue lagi nyuci baju" jawab nya
Thea memanyunkan bibirnya kesal "gak lucu"
"Ya menurut lo, kalau gue di dapur, berhadapan sama semua alat masak ini ngapain thea?"
Thea menyengir, menunjukan giginya yang putih bersih "iya maaf,thea yang salah, maksud nya satya masak apa?"
"Duduk aja di situ, dikit lagi siap" ucap satya
"Thea bisa masak kok, mau dibantu?"
Satya menggeleng "hari ini lo ratunya, jadi duduk aja yang manis disitu ya"
Thea menurut, duduk di salah kursi meja makan yang ada di sana. Satu per satu menu masakan yang telah satya siapkan tertata rapi di atas meja. Dari harum nya saja bisa thea tebak jika rasanya pasti enak.
Satya tersenyum, mengambil piring lalu memasukab nasi beserta lauk pauk nya, "makan ya, gue denger, makan makanan yang enak bisa mengembalikan mood" ucap satya ramah.
"Emm enak banget, satya pinter masak nya" puji thea kegirangan setelah mencicipi hasil kerja keras satya di dapur tadi
Satya hanya tersenyum saja, matanya menatap lekat bagaimana senyuman thea tercetak jelas sekarang, gadis itu terus memasukan makananya, sikap nya yang begitu bahagia seperti anak kecil begitu menghibur hati satya.
"Gue udah biasa hidup sendiri dan bebas te, jadi____" jeda satya menyendokan makananya ke mulut "jadi, untuk memenuhi kebutuhan gue sendiri,gue belajar masak," jelas nya
Thea mengangguk, seolah mendengarkan cerita satya padahal mulut dan matanya tidak berhenti menjelajahi menu di hadapanya.
Satya kembali tersenyum manis, sangat menggemaskan sekali, "gak boleh ada sisa ya thea"
"Boleh dibawa pulang gak?buat makan di rumah, thea gak pernah makan makanan seenak ini soalnya" tanya nya
Tanpa sadar satu kalimat dari thea membuat senyuman satya seketika luntur, apalagi sesaat kemudian air mata kembali menetes dari pelupuk mata indah itu.
"Gini ya rasanya di meja makan" lirih thea tapi mampu di dengar satya.
Satya beranjak berdiri mendekati thea, menarik kursi di samping thea, memutar kursi gadis itu menjadi menghadap nya. Dengan lembut satya mengusap bulir jernih di pipi thea. "Mau cerita?gue siap jadi pendengar lo" ucap nya
Thea menggeleng, "thea boleh minta satu hal?" tanya nya
"Apa itu"
"Pelukan"
Satya tersenyum, merentangkan kedua tanganya, memberi celah untuk gadis itu masuk ke dalam dekapan hangat seorang satya. Tidak ada yang mereka katakan, hanya ada keheningan yang terjadi, thea yang mencari kenyamanan pada laki laki yang baru saja dia kenal, dan satya yang mendekap erat thea, seolah mengatakan bahwa tidak akan ada lagi yang terjadi, selama satya ada bersamanya.
5 menit, 10 menit, 20 menit, lamanya mereka saling berpelukan. Satya menunduk, melihat bagaimana thea sekarang. Dirasa sudah aman, satya mengendurkan pelukanya,
"Udah?"
Thea mengangguk, "terimakasi, dan maaf"
"Makanan nya enak gak?"
Dengan semangat thea mengangguk "enak banget"
"Jadi temen gue yuk, nanti gue masakin apapun yang lo mau dan kapanpun itu" tawar nya
"Nanti satya di bully gimana?"
Satya tertawa lucu, polos sekali gadis ini "gak akan ada yang berani ngusik gue thea, gue jamin" ucap nya menyakinkan
"Kenapa harus thea?"
Satya mencubit pipi berisi thea dengan gemas "karena gue belum punya temen selucu lo"
"Thea jelek kok,gak lucu"
"Eh eh, siapa yang bilang gitu, mana orang nya, mana"
Thea tertawa "banyak tau, satu angkatan malah,"
"Tapi di terima gak gue nya?"
Thea mengangguk yakin, "mau, tapi besok menu nya ayam kecap ya" ucap nya