Hujan deras membuat Hwi semakin menenggelamkan dirinya di bawah selimut. Hari ini masih hari minggu, itulah mengapa Hwi dan yang lainnya masih bermalas-malasan.
Mau Hwi ataupun Junhyeok, keduanya masih belum tahu-menahu tentang luka di tangan Sungjun, mereka juga belum bertemu dengan tiga kakak kelasnya.
"Hwi, Jun, bangun yuk!" Sungjun berteriak mencoba membangunkan kedua temannya.
"Masih pagi, jangan teriak-teriang," ucap Hwi.
Sedangakan Junhyeok, ia memilih untuk bangun, ia segera bergegas ke kamar mandi sebelum Hwi mendahuluinya.
"Masih pagi mata lo, udah jam sepuluh lo ini!" Sungjun terus menggoyangkan badan Hwi agar sang empu bangun.
"Iya, iya gue bangun. Masih ngantuk gue, Jun."
Sungjun tersenyum senang, akhirnya Hwi mau menuruti keinginannya. "Gak ada acara tidur lagi, lo sama Junhyeok belum sarapan. Gue mah udah."
"Tega lo gak nungguin gue," ucap Hwi yang masih mengumpulkan kesadarannya.
"Gak ada kerjaan banget gue nungguin lo yang susah banget dibangunin."
Hwi mendelik, ia tak terima dengan itu. "Baru hari ini gue susah dibangunin." Setelah mengatakan itu Hwi meraih handuknya lalu pergi ke kamar mandi dengan kesadaran yang baru setengah terkumpul.
Brak!
Sungjun sontak tertawa melihat Hwi yang menabrak pintu kamar mandi. "Hwi, kumpulin dulu nyawa lo!"
🕸🕸🕸
Hyunsoo tengah membereskan meja belajar miliknya, ditinggalkan selama libur semester cukup membuat meja dan beberapa buku miliknya itu berdebu. Sesekali ia menatap jengah dua teman seasramanya, mereka berdua terus meributkan antara ayam atau telur yang ada lebih dulu.
"Kalau gak ada ayam gak bakal ada telur, Jun."
"Justru kalau gak ada telur gimana bisa ada ayam, Hun."
"Pokoknya ayam duluan."
"Telur lah."
"Ayam."
"Telur."
"Ayam."
"Tel-"
"Udah Jun, udah. Jangan sampe ya, ini buku yang gue pegang melayang kena kepala lo," ucap Hyunsoo geram.
Kyungjun bergidik ngeri, bukan karena takut tapi ia sedang meledek Hyunsoo. "Gak cocok lo begitu, biasanya juga lo yang ribut."
Hyunsoo menatap datar Kyungjun, tapi apa yang laki-laki itu katakan memang benar.
"Junhyeok sama Hwi udah ke sini belum?" tanya Taehun memecah keheningan antara Kyungjun dan Hyunsoo.
"Harusnya sih udah ya, kan besok kita udah mulai masuk," jawab Hyunsoo.
Toktoktok.
Suara ketukan pintu membuat atensi ketiganya teralihkan. Hyunsoo yang posisinya berada paling dekat dengan pintu berinisiatif membukanya.
"Bang Unco... Gue kangen!"
Hal yang Hyunsoo dapatkan setelah membuka pintu adalah sebuah pelukan dari Junhyeok.
"Jun, lepasin, Jun. Pengap gue."
Akhirnya Junhyeok melepaskan pelukan itu lalu tersenyum tanpa dosa. "Hehe ... Maaf, Bang."
"Jun, jangan di depan pintu. Gue mau masuk," sahut Hwi dari belakang.
Junhyeok memang tak datang seorang diri, ia datang bersama Hwi dan Sungjun.
"Lo gak kangen sama gue, Hwi?" tanya Hyunsoo.
"Gue?" tanya Hwi seraya menunjuk dirinya sendiri. "Nggak lah."
Sudah Hyunsoo duga, ia juga tidak merindukan laki-laki bermarga Eun itu.
"Lo pada mau di depan pintu aja?" tanya Kyungjun.
Akhirnya satu persatu dari mereka masuk.
Libur semester memang bukan waktu yang lama, tapi mereka benar-benar merindukan momen dimana mereka berkumpul seperti ini.
"Udah kumpul 'kan? Ayo adu nasib," ujar Hwi.
"Sabar lah, Hwi. Tapi kayanya lo tertekan banget libur semester kali ini?" tanya Taehun.
"Iya anjir, Bang. Masa selama libur semester gue di rumah aja gak dibolehin kemana-mana. Mending kalau di rumah ada orang, mereka berdua aja gue gak tahu pergi kemana. Eh ada orang deng, tapi bodyguard."
"Bukannya bonyok lo udah tobat ya, Hwi?" Kali ini Junhyeok yang bertanya.
"Tobat sambel itu mah, bonyok gue juga gitu. Sekarang gue lagi didesak buat tanda tangan balik nama perusahaan yang kakek gue kasih," ucap Taehun.
"Terus lo mau?"
Taehun menggeleng. "Ya nggak lah, kakek gue pernah bilang buat gak serahin perusahaan itu ke mereka."
Kyungjun menghela nafasnya kasar. "Kayanya kita emang gak bisa keluar dari keluarga gila harta itu deh. Gue capek hidup kaya gini terus."
"Satupun dari kita gak ada yang orang tuanya berubah, nih?" tanya Junhyeok.
"Lo berharap orang tua kita berubah jadi apa? Superman? Atau Batman?" Bukan Hyunsoo jika tidak dijadikan bahan candaan.
"Kita gak bisa berharap sama mereka. Bahkan yang seharusnya gak kaya gitu ternyata sama aja." Taehun berkata seperti itu seraya melirih Sungjun yang kini terdiam gugup.
Hwi menyadari tatapan Taehun, ia ikut melihat Hwi yang duduk di sebelahnya. "Sungjun, lo kenapa?"
"Liat aja lengan kiri dia."
Interupsi dari Taehun membuat Hwi bergerak menaikan lengan baju Sungjun, sedangkan sang empu hanya pasrah dengan apa yang Hwi lakukan.
"Ini kenapa?" tanya Hwi panik.
"Kok tangan lo biru gini?" Junhyeok ikut bertanya.
"Akh ... Jangan dipencet, itu masih agak sakit," ucap Sungjun.
Junhyeok dan Hwi menatap Sungjun meminta jawaban dari pertanyaan mereka tadi.
"Kepentok gesper sama nyokapnya." Hyunsoo sudah geram melihat Sungjun yang hanya diam saja.
"Lah anying, bukan kepentok dong namanya. Bisa-bisanya lo gak cerita ke kita, Jun." Junhyeok benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ibu dari Sungjun itu lakukan.
"Kami juga gak akan ada yang tahu kalau gak keliatan sama Taehun," ujar Kyungjun.
"Gue cuma gak mau bikin kalian khawatir," ucap Sungjun. "Ini juga udah mau sembuh kok."
Maaf ya, aku telat upnya...
Gimana sama cerita barunya? Suka gak?
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanfictionBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
