LIMA PULUH SATU

25 5 5
                                        

Kyungjun menatap Taehun yang berada di sebelahnya, tatapan temannya itu sangat fokus. Berbeda dengan dirinya, sejak pelajaran di mulai ia sama sekali tidak bisa memutuskan dirinya. Selain karena kejadian pagi tadi, Kyungjun juga masih memikirkan ucapan Taehun.

"Kita gak akan pernah bisa tahu isi hati orang lain, Woo Kyungjun."

Kyungjun tidak bisa berhenti memikirkannya, rasanya seperti berada dalam mimpi buruk, Kyungjun ingin bangun sekarang juga. Lima tahun mereka menghabiskan waktu bersama, baru kali ini persahabatan mereka retak separah ini.

Hyunsoo yang berada di belakang Kyungjun menyadari gerak-gerik aneh dari temannya sedikit heran. Namun, ia tidak begitu mempedulikan hal ini.

Tak lama, Hyunsoo dibuat terkejut kala Kyungjun berdiri secara tiba-tiba dan pergi setelah mengucapkan sesuatu pada sang guru, Hyunsoo sendiri tidak tahu apa yang Kyungjun katakan.

Dengan sengaja Hyunsoo melemparkan pulpen pada Taehun, sang empu yang merasa ada sesuatu yang mengenai punggungnya refleks berbalik.

Taehun hanya menaikan alisnya seolah bertanya, "Kenapa?"

Dengan cepat Hyunsoo menulis pertanyaan yang akan ia ajukan pada Taehun.

"Dia mau ke mana?"

Setelah membaca tulisan Hyunsoo, Taehun hanya meresponnya dengan mengangkat bahu lalu kembali berbalik menghadap depan.

Hyunsoo menghela napasnya, pikirannya tengah berkelana saat ini. "Semoga dia gak bikin ulah lagi," ucapnya dalam hati.

🕸🕸🕸

Hwi menatap Jia yang berada cukup jauh darinya, ini adalah kali pertama Hwi melihat Jia berinteraksi dengan banyak orang. Jam pelajaran yang tengah kosong itu membuat Hwi leluasa mengamati sekitarnya.

Ponsel yang bergetar mengalihkan perhatiannya Hwi, ia segera melihat siapa yang mengiriminya pesan saat jam pelajaran.

"Kyungmin," gumam Hwi.

Setelah melihat pesan yang Kyungmin kirimkan, Hwi seketika langsung melempar ponselnya lalu beralih memijat pangkal hidungnya.

Sungjun dan Junhyeok yang melihat itu langsung menghampiri Hwi.

"Lo kenapa?" tanya Junhyeok.

"Dia lagi?" Sungjun ikut bertanya.

Hwi lantas mengangguk. "Gue kesel, kalau emang bukan dia, kenapa sama sekali gak mau berusaha?"

Junhyeok yang semalam sempat sedikit berbincang dengan Kyungjun duduk di sebelah Hwi, memejamkan matanya lalu berkata, "Gue rasa, dia ada masalah lain makanya gak kaya orang lagi berusaha."

"Maksud lo ada masalah yang lebih berat dari ini?" tanya Sungjun yang ikut duduk di sebelah Hwi.

Hwi menghela napasnya. "Kyungmin malah nuduh kita yang fitnah Kyungjun."

Junhyeok yang semula memejamkan mata langsung melotot terkejut mendengar hal itu, begitu pula dengan Sungjun. Mereka tak menyangka dan tak percaya.

Sungjun langsung meraih ponsel Hwi, ia segera menyalakannya dan membaca pesan dari kakak temannya itu.

Kyungmin

|Belum ada kabar
|dari Kyungjun
|Udah gue bilang, bukan
|dia yang fitnah kalian.
|Atau kalian yang fitnah dia?
|Kalian sengaja masukin
|benda tajam itu, dan
|suap guru buat bilang
|dapet informasi itu dari
|Kyungjun

Sungjun benar-benar tak bisa berkata-kata, ia tak menyangka jika malah mereka yang dicurigai. Kyungmin, yang Sungjun tahu laki-laki itu tidak gegabah, tapi kali ini Sungjun rasa bukan Kyungmin yang biasanya.

Karena penasaran, Junhyeok meraih ponsel itu dari tangan Sungjun. Ia sama terkejutnya, kemarin kakak dari temannya itu masih berbicara baik-baik. Tanpa ragu Junhyeok memfoto pesan itu lalu memblokir nomor Kyungmin di ponsel Hwi.

"Eh, kenapa lo blokir?" tanya Sungjun.

"Buat apa? Nambah masalah doang."

"Apa yang Junhyeok bilang bener, nanti lama-lama malah kita merasa terganggu. Bukan nanti sih, sekarang aja gue udah merasa. Gue tahu maksud dia baik, tapi kalau kaya tadi udah gak-" Ucapan Hwi terhenti kala matanya menangkap basah Jia yang tengah memperhatikan dirinya juga kedua temannya. "Bolos aja yuk," lanjut Hwi.

Sungjun dan Junhyeok saling pandang.

"Aneh lo, jangan ngada-ngada. Kita baru selesai hukumannya, mau dihukum lagi lo?" Sungjun sudah tak habis pikir dengan apa yang Hwi katakan.

"Gue sih ayo aja," balas Junhyeok.

"Sesat," umpat Sungjun. "Gue aduin pak Jun-"

"Gak ada, dia dipenjara," sela Hwi sebelum Sungjun menyelesaikan ucapannya.

"Jadi bolos gak? tanya Junhyeok.

Akhirnya Hwi menggeleng kuat. "Gak, gue cuma becanda, jangan gila."

🕸🕸🕸

Masih tiga belas menit lagi istirahat berlangsung, namun Kyungjun sudah sangat malas untuk kembali ke kelas. Pada akhirnya Kyungjun memilih pergi berkeliling dan merasakan sepinya sekolah itu ketika pelajaran berlangsung.

Entah ada dorongan dari mana Kyungjun pergi ke ruang kesehatan, ia seakan menemukan alasan mengapa ia tidak kembali ke kelas.

Saat Kyungjun memasuki ruangan itu kegeningan yang ia dapatkan. Kyungjun tak peduli, ia tetap masuk meski ruangan itu terkesan menyeramkan sekarang.

Tak banyak yang Kyungjun lakukan di sana, hanya diam dan memikirkan cara bagaimana dia mendapatkan bukti jika bukan dia yang melakukan ini, tapi orang tuanya.

Kyungjun sudah mengirimkan pesan pada sang ibu untuk meluruskan masalah ini, tapi Kyungjun tidak mendapatkan respon apapun.

"Main-main sedikit apa salahnya?"

Samar-samar Kyungjun mendengar suara orang berbicara dan langkah kaki yang terdengar semakin mendekat. Tak lama ada suara pintu yang dibuka, tapi bukan pintu ruang kesehatan melainkan pintu di ruangan sebelah, ruang keamanan.

Setelahnya Kyungjun tak mendengar apa-apa lagi, karena penasaran dengan suara yang terdengar tak asing itu Kyungjun keluar dan mencari tahu suara siapa itu.

Ruang keamanan, satu-satunya ruangan yang berada tepat di sebelah ruang kesehatan. Kyungjun sedikit melihat ke dalam melalui kaca dan gorden yang sedikit terbuka.

Kyungjun segera kembali ke ruang kesehatan setelah melihat siapa yang berada di sana.

"Gimana bisa?" batin Kyungjun.


















Halo!
Dikit lagi nih, kemungkinan 3-5 bab lagi tamat, baru kemungkinan ya!

After Big Secret 1990Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang