"Kenapa sih lo bandel banget dibilanginnya? Nurut sama gue kali ini aja."
Entah sudah berapa nenit Hyunsoo terus berbicara. Remaja laki-laki itu tengah mencoba menghentikan Taehun yang hendak pulang. Berbeda dari empat temannya yang lain, mereka terus diam memperhatikan Taehun yang berkemas dan Hyunsoo yang mengomel tanpa henti.
"Gue bisa jaga diri baik-baik, Soo," ucap Taehun. "Gue pergi ya, kalian hati-hati di sini," lanjutnya lalu pergi begitu saja.
"Hun!" Hyunsoo hendak mengejar Taehun namun langkahnya tergenti lalu memandang temannya satu per-satu. "Kenapa kalian diem aja?"
"Udahlah, Soo. Biarin aja, lo gak boleh maksain kehendak lo sama orang lain," ucap Kyungjun.
"Kita tahu lo khawatir, Bang. Tapi gak seharusnya kaya gini. Do'ain aja bang Tae balik dalam keadaan selamat," imbuh Hwi. Laki-laki bermarga Eun itu sebenarnya juga merasakan hal yang sama, ia khawatir dan mempunyai feeling yang buruk.
Terkadang mereka merasa dekat satu sama lain, tapi kadang terasa berkebalikan dengan itu.
Sungjun menghela nafasnya lalu berkata, "Jun, Hwi, balik yuk. Gue kayanya butuh istirahat."
Hwi dan Junhyeok tak berkata apa-apa, mereka hanya bangkit dan mengikuti ajakan Sungjun.
Tersisa Kyungjun dan Hyunsoo yang masih terdiam. Kyungjun kini memilih merebahkan dirinya di atas kasur tanpa mempedulikan Hyunsoo yang tengah menatapnya.
"Lo kenapa se-khawatir itu sama Tae?" Pertanyaan dari Kyungjun memecah keheningan di antara keduanya.
Hyunsoo duduk di meja belajarnya lalu menghela nafas, ia sendiri bahkan tak mengerti bagaimana dirinya bisa seperti ini. Kemarin ia sangat marah pada Taehun, tapi hari ini ia sangat khawatir pada temannya itu. "Gue cuma ngerasa khawatir aja, Jun. Kaya bakal ada sesuatu yang terjadi."
"Lo sadar gak, kalau khawatir lo kali ini cukup berlebihan?"
"Gue sepenuhnya sadar. Mungkin gue kaya gini karena gak ada satupun dari kalian yang nyoba larang Tae buat pulang."
Kyungjun yang masih berbaring itu tersenyum simpul. "Lo gak tahu aja gimana Junhyeok kemarin malem."
🕸🕸🕸
Sabtu pagi biasanya Hwi gunakan untuk bermalas-malasan, tapi kali ini ia sudah sangat rapi. Hwi berencana pergi ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Jam baru menunjukan pukul tujuh pagi, Hwi cukup bingung harus melakukan apa sebelum ia berangkat ke tempat itu. Mengganggu Sungjun? Temannya yang paling muda itu bahkan masih belum bangun. Hwi tak tega membangunkannya di hari libur seperti ini. Sedangkan Junhyeok tengah mengeringkan rambutnya.
"AWAS!"
Hwi dan Junhyeok sama-sama terperanjat kala Sungjun yang masih tidur itu berteriak. Mereka berdua saling pandang lalu dengan cepat berlari ke arah Sungjun.
"Jun, bangun, Jun." Hwi mencoba membangunkan Sungjun dengan mengguncang badannya.
"Bang..."
Kali ini ucapan Sungjun terdengar lirih. Junhyeok yang panik langsung menepuk nepuk pipi Sungjun hingga sang empu terbangun.
"Syukur lo bisa bangun, ayo gue bantu duduk." Junhyeok membantu Sungjun agar bisa duduk dengan nyaman.
Meskipun Sungjun sudah terduduk dengan mata terbuka, kesadaran remaja laki-laki itu seakan hilang.
Junhyeok dan Hwi menganggap hal itu wajar, mengingat Sungjun baru saja bagun dari tidurnya. Tapi setelah bermenit-menit mereka baru menyadari ada yang salah di sini, Sungjun masih belum juga bergerak apalagi berbicara.
"Sungjun, sadar." Hwi menggoyangkan bahu Sungjun, saa itu barulah Sungjun bergerak mengucek matanya.
Junhyeok meraih segelas air putih lalu menyerahkannya pada Sungjun. "Minum dulu, Jun. Pelan-pelan."
Sungjun menerima gelas itu lalu meminumnya hingga tandas, mimpi buruk seakan membuatnya kehilangan banyak tenaga.
"Lo mimpi buruk?" tanya Hwi.
"Kenapa gue di sini?" Bukannya menjawab, Sungjun malah balik bertanya. "Gue harusnya di rumah sakit."
"Jun, lo baru aja bangun tidur. Gimana bisa harusnya di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Junhyeok.
Mendengar itu seketika membuat Sungjun tersadar akan sesuatu. "Syukurlah itu cuma mimpi," ucapnya seraya mengusap wajahnya kasar, ia hampir tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan nyata. "Mungkin ini yang dikhawatirin bang Hyunsoo semalem," lanjutnya.
"Apa?" tanya Hwi dan Junhyeok bersamaan.
Sebelum menjawab, Sungjun mencubit tangannya terlebih dahulu untuk memastikan. Ia benar-benar bersyukur jika itu hanya mimpi. "Gue mimpi bang Tae kecelakaan. Mimpi itu sama kaya mimpi yang pernah gue ceritain, cuma kali ini gue liat siapa korbannya."
Mendengar hal itu Hwi langsung mencari ponselnya dan mencoba menghubungi Taehun.
"Gimana Hwi, diangkat gak?" tanya Junhyeok.
Hwi menggeleng, ini sudah panggilan kelima tapi masih belum ada jawaban. Hwi sudah hendak beranjak mengambil jaket serta dompetnya namun, ponselnya berbunyi dan menampilkan nama Taehun. Dengan tangan bergetar Hwi menggeser tombol hijau pada ponselnya.
Mereka akhirnya bisa tersenyum lega setelah melihat Taehun dari layar ponsel. Ya, panggilan itu adalah panggilan video.
"Kenapa? Gue baru dari kamar mandi tadi?"
"Lo gak papa kan, Bang? Baik-baik aja kan? Di jalan gak ada kejadian aneh kan? Semalem sampe jam rumah jam berapa? Kenapa gak ngabarin gue?" Bukannya menjawab, Sungjun malah mencecar Taehun dengan banyak pertanyaan.
Di rumahnya Taehun terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Gue baik-baik aja. Semalem saking capeknya gue gak pegang hp lagi."
"Syukur deh lo gak papa, Bang. Lo hati-hati ya. Tadi katanya Sungjun mimpi buruk tentang lo, makanya Hwi langsung telepon lo berkali-kali," ucap Junhyeok.
"Mimpi apa?"
"Kecelakaan mobil waktu itu, Bang. Di mimpi gue, korbannya itu lo."
Sekadar mimpi atau bukan ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
Fiksi PenggemarBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
