EMPAT PULUH ENAM

30 4 12
                                        

Semenjak kejadian tempo hari, ponsel Hyunsoo sama-sekali tak mendapatkan notifikasi apapun dari orang yang telah membuatnya berada dalam keadaan ini.

Kyungjun, Hyunsoo cukup merindukan sosok itu. Ia sedikit berharap ada pesan  permohonan maaf dari temannya itu.

Di tengah lamunannya itu, Hyunsoo samar-samar mendengar mobil yang berhenti di depan rumahnya. Karena penasaran dirinya sedikit mengintip dari balik jendela. Hyunsoo tak mendapatkan apapun di depan rumahnya, ia malah melihat mobil asing berada di depan rumah tetangganya, Minsoo.

"Bang-"

Hyunsoo seketika terperanjat kala mendengar ada yang memanggilnya. Ia mengusap dadanya setelah melihat siapa yang telah membuatnya terkejut.

"Hwi! Lo ngagetin gue tahu gak?"

Hwi memutar bola matanya malas, harusnya ia yang kesal di sini. Sejak berpisah jalan dengan teman-temannya yang lain, Hyunsoo seperti menganggap dirinya tidak ada. "Gue pulang aja lah! Gak jadi gue nginepnya!"

"Jangan elah ... Sini deh." Hyunsoo menarik lengan Hwi dan menyuruhnya melihat apa yang membuatnya merasa tak asing. "Lo tahu gak itu mobil siapa?"

Perasaan Hwi yang tengah kesal itu teralihkan oleh mobil yang terasa akrab. "Itu, bukannya mobil bokapnya bang Tae ya?"

Hyunsoo menatap Hwi. "Yang bener lo?"

Hwi tak membalas tatapan Hyunsoo, ia meraih ponselnya lalu memotret mobil itu. "Bang, lihat!" pekik Hwi.

🕸🕸🕸

Sesuai dengan janjinya kemarin pada sang ibu, hari ini Kyungjun akan pulang ke rumah untuk membicarakan tentang kepindahannya. Kyungjun tentu akan menolak sekuat yang ia bisa.

Halaman yang cukup luas itu entah mengapa begitu terasa asing di matanya. Padahal baru beberapa minggu yang lalu ia mengunjungi tempat ini.

Baru membuka pintu utama Kyungjun sudah dikejutkan dengan suara tamparan. Kyungjun menggigit bibirnya, ia mencoba memberanikan diri melihat apa yang tengah terjadi di rumahnya ini.

"Apa gak ada sambutan yang lebih baik dari ini?" tanya Kyungjun pada tiga orang dewasa yang berstatus sebagai keluarganya.

Ketiga orang itu terdiam melihat kedatangan Kyungjun, mereka tidak mengira jika anak bungsu di keluarga itu akan datang lebih pagi.

"Bodoh, pergi lo dari sini!"

Plak!

Lagi, Kyungjun memejamkan matanya kala sang ayah menampar sang kakak di  hadapannya.

"Ini sebagai contoh buat kamu, Woo Kyungjun."

Kyungjun kembali membuka matanya ketika mendengar suara sang ibu yang kini sudah berada di dekatnya.

Rasanya begitu cepat, Kyungjun hampir tak sadar jika dirinya sudah di tarik keluar oleh wanita setengah baya itu.

"Jun, lari!"

Teriakan kakaknya itu terdengar samar, entah mengapa Kyungjun merasa semua ini sudah direncanakan dengan baik.

Kyungjun menghentikan langkahnya seraya mengherankan tangan sang ibu dari lengannya.

Tatapan marah dari sang ibu tentu membuat Kyungjun takut, tapi mau bagaimana lagi, kali ini ia ingin memilih jalan hidupnya sendiri.

"Berani kamu? Masuk mobil sekarang!"

Kyungjun tentu menggeleng, ia tahu sang ibu akan membawanya ke mana. "Sabar Mah, tinggal beberapa bulan lagi. Setelah itu terserah Mamah mau kirim Kyungjun ke mana pun."

"Ngelawan ya kamu! Pasti ini pengaruh buruk dari temen-temen kamu itu 'kan? Mereka aja udah gak nganggap kamu, jadi lebih baik kamu nurut aja apa kata Mamah."

"Apa maksud Mamah?" Kyungjun tak terima mendengar hal itu, pengaruh buruk dari mananya? "Ini sama sekali gak ada sangkut pautnya sama mereka. Mamah sendiri yang dulu pengen banget aku sekolah di sini, dan sekarang disaat aku udah nyaman Mamah mau aku pergi?"

Tatapan Kyungjun memicing, ia baru memahaminya sekarang. "Gimana Mamah bisa tahu? Atau Mamah ... yang ada di balik semua ini?"

"Mamah ngelakuin semua ini demi kamu, Woo Kyungjun," ucapnya seraya menguncang bahu Kyungjun. Tangannya kini mengusap pipi tirus anak bungsunya itu. "Nurut ya?" lanjutnya.

Kyungjun menggeleng, kini air matanya jatuh seiring dengan kakinya yang jatuh berlutut di hadapan sang ibu. Hati Kyungjun terasa hancur mendengar kenyataan ini, ia tak menyangka, ia juga kecewa.

"Demi kebaikan? Memfitnah anak sendiri demi kebaikan? Kebaikan apanya Mah?" Kyungjun memukul dadanya, berharap sesak di hatinya itu sedikit mereda.

"Yang benci bukan cuma mereka, tapi hampir seisi sekolah."

🕸🕸🕸

Sungjun menatap kue yang akan ia bawa dengan senyum merekah, ia dan ibunya membuat banyak kue kemarin sore setelah teman-temannya pulang.
Rasanya seperti mimpi bisa sedekat itu dengan sang ibu setelah bertahun-tahun tak merasakan kasih sayangnya.

"Bawanya banyakan ya, Ibu dengar Junhyeok masih ada di sana."

Masih dengan senyumannya, Sungjun mengangguk. "Makasih, Bu."

Heera yang tengah menyiapkan kue-kue itu tersenyum melihat anak tunggalnya. Ada rasa sesal dalam hatinya, mengapa baru sekarang ia bisa menerima Sungjun di hidupnya dengan baik.

"Kamu memiliki banyak kemiripan dengan ayahmu, sayang ... Maafkan Ibu, nak," ucapnya dalam hati.

"Ini ya, hati-hati ya di jalannya."

Sungjun mengangguk, lantas menerimanya dan kembali di ledakan di meja. "Bu," panggilnya seraya merentangkan tangan.

Heera dengan senang hati memeluk anaknya yang kini sudah lebih tinggi darinya. "Anak Ibu kenapa sekarang tinggi banget? Hati-hati ya, kalau udah sampe jangan lupa kasih kabar," ucapnya seraya melepaskan pelukan itu.

"Oke Bu, siap. Anak Ibu yang paling ganteng ini pergi dulu ya? Kalau ada apa-apa langsung telepon, pintunya jangan lupa di kunci. Sungjun gak mau Ibu kenapa-napa."

"Iya sayang ... udah sana, ketinggalan bus nanti."

Sungjun mengangguk lalu meraih tas berisi kue itu lalu pergi, tak lupa melambaikan tangannya.













Sudah mendekati end guys!
Ayo semangat, besok senin hehe ...

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang