LIMA PULUH EMPAT

31 3 14
                                        

"Sejak kapan Papah tahu semua ini?"

Taman rumah sakit menjadi saksi di mana Taehun dan sang ayah berbincang santai setelah sekian lama.

Minjae menatap langit, ia mencoba untuk tidak meneteskan air di hadapan anak semata wayangnya. "Sejak Papah dengar jika Daeyoon di penjara. Tak lama setelah itu Minsoo bekerja dengan Papah, jadi dari sana Papah tahu semuanya."

"Apa Papah tahu tentang Tae dan mamah di, masa lalu?"

"Semua itu cukup jadi masa lalu."

Taehun tersenyum tipis, ia tahu jika sang ayah masih tidak tahu tentang dia dan sang ibu di masa lalu. "Tae yakin papah masih belum tahu."

Minjae menatap Taehun lalu menggeleng. "Memang, lagipula itu semua udah gak lagi penting. Papah sama Mama udah gak lagi berada di jalur yang sama."

Hati anak mana yang tak sakit mendengar hal itu, Taehun kira ucapan sang ayah kala itu hanya untuk menggertak sang ibu. Taehun tahu betul sebesar apa cinta Minjae untuk Nara, tapi ternyata ayahnya sudah menyerah untuk mendapatkan cinta sang ibu sepenuhnya.

"Mau seberusaha apapun, Papah akan terus kalah. Mama mu itu masih belum terlepas dari trauma dan cintanya," lanjut Minjae. "Maafin Papah ya, Papah telat tahu semuanya. selanjutnya kamu mau ikut siapa?"

Lagi, pertanyaan ini menyakiti hatinya. "kayanya adik aku milih buat gak lahir karna ini ya, Pah? Kalau aku ikut kakek sama nenek aja gimana?"

Minjae sontak menggeleng kuat, tangannya mengguncang bahu Taehun pelan. "Tolong jangan, ikut siapapun tapi jangan mereka. Kamu masih punya Papah, Mama dan teman-teman kamu. Kalau kamu memilih pergi gimana sama  mereka?"

"Terus gimana sama aku, Pah? Kenapa mesti ada pilihan kaya gini?"

"Maaf, sekali lagi maaf."

Taehun menghela napasnya, ia mencoba mengikhlaskan apa yang sudah terjadi meski hatinya sangat sakit kali ini. "Oke." Setelah mengatakan itu Taehun bangkit dan pergi dari sana.

Minjae menatap kepergian putra sulungnya, iya putra sulung karena sejatinya ia adalah seorang kakak untuk adiknya yang telah tiada.

🕸️🕸️🕸️
            
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    "Di mana bang Tae?"


Sungjun telah sadar, di sana sudah ada Hyunsoo, Hwi juga Junhyeok tapi Sungjun malah mencari seseorang yang tidak ada di sana.

Hyunsoo mendekat dan duduk di sebelah sungjun. "Taehun lagi ada urusan sama bokapnya. Nanti dia ke sini kok."

Sungjun menghela napasnya lalu menatap wajah teman-temannya satu-persatu hingga terhenti di Hwi. sungjun tak tahu seberapa sakit waktu Hwi mendapatkan tikaman di perut dan beberapa luka di area tangan, rasanya membayangkan hal itu membuatnya jadi merasa jika rasa sakit yang ia rasakan saat ini tidak ada apa-apanya.

"Hwi, gimana rasanya waktu itu?"

Pertanyaan dari Sungjun membuat mereka menatap laki-laki itu heran, mereka tak mengerti apa yang sedang Sungjun maksud di sini.

"Apa?" tanya Hwi.

Bukannya menjawab pertanyaan dari Hwi, Sungjun malah memanggil seseorang yang kini ada di belakang mereka.

"Bang Tae," ucapnya dengan mata berbinar.

Pada akhirnya mereka bertiga menoleh, melihat Taehun yang datang dengan keringat berucucuran. "Gimana? gak ada yang parah kan?"

"Lo dari mana sampe keringetan kaya gini?" Bukan Sungjun, melainkan Hyunsoo. Laki-laki itu menatap aneh teman seperjuangannya itu.

"Bokap lo gak ada main tangan lagi kan, Bang?" tanya Junhyeok, ia masih takut kejadian waktu itu terulang lagi.

Taehun menggeleng lalu menjawab, "Gue gak kenapa-napa, jangan khawatirin gue. Sekarang gimanaa keadan Kyungjun? dan Sungjun, apa ada luka selain ini?"

Hwi rasanya sudah muak menghadapi Taehun yang seperti ini. Hanya memikirkan orang lain dan tak mau memikirkan dirinya sendiri, padahal ia juga terluka. "Sebelum tanya keadaan orang lain, apa lo bisa tanyain diri lo sendiri?" tanya Hwi yang langsung mendapatkan tatapan aneh dari empat temannya. "lo juga luka, lihat tangan lo sekarang!"

Dengan santai Taehun mengusap darah yang mengalir dari tangannya yang terluka, ia baru ingat saat perjalannan ke ruangan Sungjun ia sempat menabrak seseorang. "Ini cuma kebuka dikit harusnya gak papa."

Dengan kesal Hwi menarik tangan Taehun yang tidak terluka. "Ayo obatin!" Ucapnya seraya manarik Taehun dari sana.

Junhyeok dan Hyunsoo hanya bisa diam, mereka menyetujui tindakan Hwi.

"Abang lo itu keras kepalanya keterlaluan, Jun. Sesekali di giniin tuh gak papa," ucap Hyunsoo kala melihat Sungjun yang hendak bersuara.

"Tapi itu Hwi-"

"Demi kebaikannya, lo tenang aja," sela Junhyeok cepat.

Sungjun mengerti hanya saja ia tengah merasa khawatir melihat Taehun yang terlihat jauh berbeda dari biasanya, kali ini Sungjun melihatnya sangat berantakan.

🕸🕸🕸

Di hadapan Minsoo juga Hyuna, Juyeon tersenyum seolah tak ada yang terjadi padahal dirinya kini tengah berada di kantor polisi dengan tuntutan berlapis. Pertama atas kekacauan dan kekerasan yang telah ia buat, dan yang kedua atas pencemaran nama baik yang ia lakukan pada Kyungjun, meski kenyataannya lebih dari itu.

Awalnya di sana ada Jeongwoo dan Haruto, namun Hyuna telah menyuruh keduanya untuk pergi ke rumah sakit melihat keadaan Doyoung, Kyungjun, Taehun, dan Sungjun.

Minsoo tertawa sinis, ia sungguh kesal melihat senyuman Juyeon. "Baru kali ini gue liat ada orang yang mau membusuk di penjara malah senyum bahagia. Gila ya lo?"

Bukannya marah atas ucapan Minsoo, Juyeon malah semakin mengembangkan senyumnya. "Biarpun gue bakal membusuk, setidaknya salah satu dari mereka ada yang mati."

"Minsoo!"

Jika saja Hyuna terlambat menahan Minsoo, mungkin saja akan ada kekerasan yang terjadi. "Lo jangan berlaku bodoh! Mending kita ke rumah sakit sekarang."

Tanpa sepatah kata apapun lagi, keduanya pergi meninggalkan Juyeon yang tersenyum puas.















Hallo!

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang