Matahari pagi menembus celah jendela di kamar Taehun hingga mengenai mata sang pemilik kamar.
Karena merasa terganggu, perlahan mata itu terbuka. Taehun cukup terkejut saat ia bangun berada di lantai, tapi setelah mengingat apa yang ia lakukan semalam Taehun tidak heran lagi, ia tertidur setelah puas menangis sambil memeluk dirinya sendiri di dekat pintu.
"Udah lama gue gak kaya gini," gumamnya.
Taehun akhirnya bangkit dan pergi membersihkan diri, ia akan kembali ke asrama setelah ini. Rumahnya benar-benar berasa tidak nyaman.
Kini, Taehun sudah rapi dengan kemeja hitam putihnya, ia menatap dirinya sendiri dari kaca. Taehun sadar jika matanya sedikit bengkak pagi ini, tapi apa boleh buat? Ia tidak bisa menutupi itu.
"Tae, Bangun sayang!"
Taehun menoleh ke arah pintu, Nara berteriak dari luar.
"Iya, Ma." Taehun segera meraih tas yang selalu ia bawa, setelah sarapan bagaimanapun caranya Taehun harus
kembali ke asrama.
Dari ujung tangga Taehun sudah bisa melihat sang ayah yang tengah membaca koran. Seketika Taehun kembali teringat kejadian semalam.
"Papah jam berapa sampe rumah?" Taehun sengaja, ia memilih bersikap seolah tak tahu apa-apa.
Choi Minjae, ayah dari Choi Taehun itu menoleh pada sang anak yang berjalan ke arahnya. Ia tersenyum tipis sebelum berkata, "Jam tujuh malam. Papah kira kamu udah kembali ke asrama. Gimana keadaan kamu sama teman-teman yang lain?"
"Baik, Pah. Cuma ya ... yang namanya masalah mah, selalu ada. Oh iya, abis sarapan Tae pamit balik ke asrama ya?"
"Iya, hati-hati. Apa perlu Papah antar? Hari ini Papah gak ke kantor."
Taehun menggeleng, biarpun ini adalah kali pertama sang ayah menawarkan diri mengantarnya ke asrama. "Gak perlu, Pah. Papah istirahat aja hari ini."
Minjae menggeser, mencoba mendekati Taehun yang kini duduk di sampingnya. "Dengerin Papah, apapun yang terjadi jangan pernah setuju sama perjodohan konyol ini. Soal Mama, biar Papa yang urus," bisiknya.
🕸🕸🕸
Sungjun benar-benar tidur dengan nyenyak di kasur milik Taehun, berbeda dengan Junhyeok dan Hwi yang tak bisa tidur semalaman.
Mereka bertiga sengaja menginap hanya karena malas untuk kembali ke kamar mereka. Sekarang keduanya sudah kembali ke asrama, mereka sengaja meninggalkan Sungjun karena teman mereka yang satu itu masih belum terbangun dari tidurnya.
"Sarapan yuk!" ajak Junhyeok pada Hwi yang kembali berbaring setelah membersihkan diri.
"Nanti aja gue mah, ngantuk banget, Jun," balas Hwi dengan mata terpejam.
Akhirnya Junhyeok tak jadi pergi dan malah mengikuti apa yang Hwi lakukan, berbaring namun tidak menutup penglihatannya.
"Lo masih belum cerita sama gue. Sebenernya kemarin lo kemana?"
Hwi yang masih setia pada posisinya itu menjawab, "Jengukin si Yujin."
Junhyeok cukup terkejut mendengar hal itu. "Nagapain? Gak ada kerjaan amat lo? Khawatir lo sama dia?"
Hwi tertawa pelan mendengar respon Junhyeok yang terdengar kesal. "Iya gue khawatir. Khawatir dia belum membusuk di penjara, dan ternyata emang belum."
"Sadis lo, Hwi."
"Lo inget gak, Jun sama cerita Bang Hyunsoo?"
"Yang mana?" Junhyeok cukup bingung dengan pertanyaan Hwi, apa temannya itu berpikir jika Hyunsoo hanya pernah bercerita sekali.
"Yang ketemu kak Hyuna sama kak Minsoo, terus mereka bilang kalau kehancuran Daeyoon kehancuran kita juga? Nah, gue mau buktiin kecurigaan mereka sama Yujin itu bener. Gue juga yakin kalau yang terjadi sama kita akhir-akhir ini dia dalangnya," jelas Hwi.
"Terus dia ngaku?"
"Nggak."
Sontak Junhyeok tertawa, temannya yang satu ini memang tak pernah gagal dalam hal bercanda. "Sumpah, Hwi. Yang ada dalam pikiran lo itu apa sih? Yang namanya penjahat ya gak akan ngaku mau lo tanya atau ancem kaya gimanapun, terlebih ini Yujin."
"Terserah lo deh, gue ngantuk. Mau tidur."
Junhyeok melempar bantal miliknya hingga mengenai wajah Hwi. "Masih pagi anjir!"
🕸🕸🕸
Taehun telah berhasil pergi dari rumahnya, tapi ia harus pergi ke toko roti untuk mengambil pesanan sang ibu. Namun sialnya saat ia keluar dari toko itu, Taehun malah bertemu dengan orang yang akhir-akhir ini membebani hidupnya.
"Lo gimana sih? nyuruh gue ke sini tapi malah lo yang telat!"
Jujur saja, Taehun tak mengerti apa yang orang ini bicarakan padanya. "Telat apa sih? Kapan gue nyuruh lo ke sini?"
"Bibi Nara yang bilang."
Dalam hati Taehun sudah berdecak kesal, ternyata ada alasan di balik baiknya sang ibu. "Lo mau aja dibegoin sama dia. Sekalipun, gue gak pernah minta lo buat ke sini."
Karena kesal, Taehun langsung memberhentikan taksi, ia tak mau berlama-lama berada di sekitar Jia. Namun saat ia hendak membuka pintu, Jia dengan tak sopannya masuk terlebih dulu.
"Lo nyari lagi yang lain," ucapnya. "Ayo pak, jalan."
Taehun menatap kesal mobil yang mulai menjauh darinya itu. "Cewek gila!"
"Ayo."
Hampir saja Taehun mekemparkan barang bawaannya, karena kesal ia sampai tak menyadari jika ada mobil yang berhenti di sampingnya.
"Nagapain lo di sini?" tanya Taehun pada orang yang mengendarai mobil itu, Hwang Minsoo.
"Ini jalanan umum, wajar gue ada di sini. Udah cepet, mau naik gak? Gue anterin deh dari pada lo kaya anak hilang."
Taehun akhirnya pasrah, ia memilih untuk ikut bersama Minsoo dari pada mencari taksi lagi.
"Lagi patah hati ya lo, Hun?" tanya Minsoo yang mulai menjalankan kembali mobilnya.
"Hati gue baik-baik aja, gak patah tuh."
Minsoo menggeleng mendengar ucapan Taehun. "Lo mau sampe kapan curiga sama gue?"
Membebani hidup gak tuh.
Kenapa aku jadi ikutan kesel sama Jia ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
Fiksi PenggemarBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
