EMPAT PULUH TUJUH

23 4 7
                                        

Kyungjun menatap lagit-langit kamar kakaknya. Setelah keributan pagi tagi, sang kakak membawanya pergi ke apartemen yang biasa ia tempati selama tiga tahun terakhir.

Woo Kyungmin, laki-laki yang berstatus sebagai kakak kandung Kyungjun, sangat nenolak keras keputusan kedua orang tuanya.

Kyungmin selalu menegaskan bahwa cukup dirinya saja yang merasakan menjadi boneka kedua orang tuanya, Kyungjun jangan. Mimpinya sudah ia kubur, tapi mimpi Kyungjun jangan. Kyungmin sungguh tak akan tega melihat Kyungjun merasakan apa yang ia rasakan juga.

"Jun, gue udah tahu semuanya," ujar Kyungmin.

Masih dengan tatapan kosong Kyungjun menjawab, "Sejak kapan?"

Kyungmin yang semula jarak duduknya sedikit jauh kini bergeser mendekat. "Bulan lalu, pas lo lagi ujian semester."

Kyungjun tersenyum hambar mendengar hal itu, Kyungmin mengetahui lebih dulu dari dirinya. "Gue gak nyangka mereka bisa lakuin ini."

"Lo tenang aja, gue gak akan biarin rencana mereka berjalan lancar. Jangan pernah ngerasa sendiri, selain temen-temen lo, gue juga akan terus ada di sisi lo."

"Lo harus bahagia, Jun."

🕸🕸🕸

Kediaman Choi mendadak ramai namun sunyi ketika Minsoo, Jina, Hyuna, Hyunsoo, Hwi dan Sungjun datang.

Kedatangan teman-teman sekolah Taehun memang sudah tak aneh bagi Nara, tapi sekarang ia malah mendapatkan tamu teman-teman sekolahnya dulu.

Suasana canggung itu tentu membuat Nara tidak nyaman, ia memilih untuk pamit beralasan membuatkan minum. Kejadian di masa lalu tina-tiba terputar kembali dalam ingatannya setelah melihat Minsoo, Jina dan Hyuna.

Sementara di sisi lain Taehun masih belum mengetahui maksud dan tujuan mereka datang secara serentak ke rumahnya seperti ini.

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba datang barengan begini?" tanya Taehun memecah keheningan di ruangan itu.

Tanpa menjawab ucapan Taehun, Hyuna tiba-tiba mengeluarkan beberapa foto dari tasnya. "Yujin udah keluar dari penjara."

Ucapan Hyuna membuat kelimanya terkejut, bahkan satu tahun pun belum tapi Yujin sudah terbebas dari hukumannya.

"Kok bisa? Bukanya hukuman dia harusnya masih lama?" tanya Junhyeok.

"Jia, kemungkinan dia yang bebasin Yujin," ujar Taehun.

Apa yang Taehun ucapkan membuat semua mata tertuju padanya. Mereka kembali terkejut mendengar Taehun yang dengan mudahnya mengatakan bahwa Jia yang ada di balik semua ini.

"Hun, kamu gak salah kan? Mana mungkin Jia," kata Jina yang tak mau terjadi kesalahan pahaman.

"Bener, Hun. Ngapain dia mati-matian nyari bukti kalau pada akhirnya dia sendiri bantuin Yujin keluar dari penjara," imbuh Hyunsoo.

Junhyeok yang sudah mengetahui bagaimana sikap Jia sekarang hanya bisa diam. Jika benar itu Jia, maka apa yang Taehun katakan saat di rumah sakit itu benar, tidak semua orang bisa menggunakan otaknya dengan baik.

"Jaga ucapan lo, Hun. Jia gak mungkin ngelakuin itu," peringat Minsoo.

"Jangan samain Jia di masa lalu sama Jia di masa sekarang, mereka berdua jelas berbeda. Bukannya mau nuduh, tapi apa yang Bang Tae ucapin bisa aja bener." Sungjun yang datang paling awal itu akhirnya kembali membuka suara setelah kedatangan teman-temannya yang lain.

Entah mengapa Sungjun merasa setuju begitu saja dengan ucapan Taehun, meskipun terdengar janggal tapi sikap Jia setelah libur semester benar-benar berbeda.

Hyuna hendak kembali berbicara namun matanya tak sengaja melihat Nara dari arah dapur, teman sebayanya itu tampaknya penasaran dengan apa yang mereka bahas.

"Kayanya lebih baik kita bicarain hal ini di luar, gak enak juga sama mamanya Tae."

Taehun yang menoleh ke arah dapur seketika menggelengkan kepalanya. "Maaf ya Kak, kalau gitu gak papa kita bahas ini di luar aja."

"Yaudah ayo," ucap Minsoo sambil berdiri.

"Kalian duluan aja, gue sama Jina mau minta izin bawa kalian pergi," kata Hyuna.

Minsoo hanya mengangguk mengiyakan, ia dan kelima remaja itu pergi terlebih dulu.

"Gue dari awal gak mau ke sini, gue masih-"

Hyuna tentu tak mau Jina mengingat atau bahkan mengucapkan tentang masa lalu, jadi ia dengan cepat menempelkan jari telunjuknya di bibir Jina hingga sang empu diam.

"Itu masa lalu. Udah, yuk." Hyuna menarik tangan Jina, membawanya menghampiri Nara yang tengah duduk terdiam.

Ternyata Hyuna salah sangka, Nara bukan sedang menguping pembicarannya, melainkan tengah melamun dengan tatapan kosong.

"Nara," panggil Hyuna.

Saat itu barulah Nara tersadar, ia menatap Hyuna dan Jina terkejut. "Nagapain kalian masih di sini?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Nara.

Plak!

Lebih dari sekadar terkejut, Jina menutup mulutnya saat suara tamparan terdengar sedikit menggema di ruangan itu.

Dengan kesadaran 100% Hyuna menampar Nara. "Itu sebagai tanda bahwa lo gak becus jadi ibu!"

Hyuna hendak kembali melayangkan tamparan, tapi dengan sigap Jina menahannya. "Na, lo kenapa tiba-tiba begini?!"

"Lo gak tahu apa-apa, tapi dengan santainya lo bilang gue gak gecus jadi ibu? Lo bahkan sama sekali gak ngerasain jadi seorang ibu."

Plak!

Lagi, dan Jina tak sempat menahannya.

"Ini buat lo yang rela anak lo sakit-sakitan asalkan lo bisa dapet duit dari itu. Lo manusia tergila, Nara."

Jina benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Hyuna, biasanya ia tidak seperti ini. "Na, udah Na. Kita lebih baik pergi dari sini."

Hyuna menahan tangan Jina yang hendak menariknya pergi. "Sekali lagi lo jadiin Taehun sebagai alat, siap-siap aja apa yang lo punya semua ini lenyap tanpa sisa."




















Pagi guys!
Tadinya mau update semalem, tapi ternyata malah ketiduran :(
Semangat seninnya ya!

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang