Sungjun meletakan segelas air hagat di meja dengan helaan nafas. Ia merasa sangat khawatir pada kakak kelasnya yang kini tengah terbaring di kasur.
Pagi tadi, ia Junhyeok dan Hwi dikejutkan dengan Taehunyang tak merespon saat Kyungjun dan Hyunsoo yang mencoba membangunkannya. Sekarang semuanya sudah lebih baik, Taehun sudah berhasil mereka bangunkan bahkan Sungjun sudah memberinya makan dan obat, tapi tetap saja rasa khawatir itu akan terus ada. "Maaf ya, karena gue lo jadi gak masuk-"
"Gue gak ngijinin lo minta maaf, Bang," sela Sungjun cepat seraya duduk di samping Taehun. "Lo selalu jagain gue, gak salah dong gue yang jagain lo sekarang," lanjutnya.
Memang yang menjaga Taehun saat ini hanya Sungjun. Laki-laki itu bersikeras untuk menjadi orang yang menjaga Taehun hingga yang lainnya berakhir mengalah.
"Kalaun gitu, makasih udah mau jagain gue," ucap Taehun dengan senyumannya.
"Iya, Bang. Cepet sembuh ya? Gue gak bisa liat lo sakit kaya gini. Sekarang lo harus istirahat, gue mau ganti baju dulu." Sungjun hendak berdiri tapi Taehun menahannya.
"Jangan lama-lama, gak tahu kenapa gue ngerasa takut kali ini."
Dengan ragu Sungjun tersenyum lalu mengangguk sebelum melenggang pergi.
Sungjun tidak heran jika Taehun merasa begitu, karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Rasa takut yang Sungjun rasakan bahkan sudah berlangsung sejak tadi malam.
Dari balik pintu asrama miliknya, Sungjun menangis. Entah mengapa ia ingin menumpahkan semuanya lewat air mata.
"KENAPA SEMUANYA GAK SEPERTI YANG GUE HARAPKAN!"
🕸🕸🕸
"Rasanya gue mau pulang aja, Soo. Gak tenang banget ninggalin Tae," ucap Kyungjun yang terus berjalan bulak-balik bak setrikaan.
"Kalau bisa gue juga mau. Lo coba telepon Sungjun deh, tanya Taehun dibawa ke rumah sakit atau nggak."
Kyungjun menggeleng. "Kalau kata gue jangan deh, Soo. Kita udah tahu sendiri jawabannya, kalau Sungjun gak ngabarin berarti nggak."
Hyunsoo mengangguk mengerti. "Terus apa yang harus kita lakuin sekarang? Bosen juga gue gak belajar gini."
Bukannya menjawab pertanyaan dari Hyunsoo, Kyungjun malah berjalan menghampiri Doyoung. Hal itu tentu membuatnya kesal, ingin sekali Hyunsoo mengerjarnya untuk memberikan setidaknya sedikit pelajaran. Namun keinginannya itu tidak bisa terwujud karena Hyunsoo tahu jika Kyungjun bisa membalasnya dua kali lipat.
"BANG! KAK!"
Satu kelas dibuat terkejut oleh teriakan serta kemunculan Hwi dengan segala raut khawatirnya.
Meskipun dengan nafas tersenggal, Hwi dengan lancar memberitahukan apa yang membuatnya seperti ini. "Junhyeok hilang."
Dua kata itu mampu membuat Kyungjun dan Hyunsoo terdiam di tempat. Mereka terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang Hwi ucapkan.
"Yang bener aja, Hwi. Gak mungkin Juhnyeok hilang," kata Kyungjun mencoba membuat Hwi tidak panik.
Hyunsoo menarik Hwi sekaligus Kyungjun keluar dari kelasnya. Ia takut ada hal yang tak sengaja dua temannya ucapkan.
"Lo udah telepon dia? Pamit dulu gak sama lo pas mau pergi?" tanya Hyunsoo pada Hwi.
"Dia pamit ke toilet, tapi gak balik-balik. Udah berulang kali gue telepon dia, tapi gak aktif," jelas Hwi.
Kyungjun mengusap wajahnya prustasi. "Kita cari Junhyeok sekarang."
🕸🕸🕸
Sungjun sudah kembali ke asrama Taehun, sebelumnya ia sudah memastikan jika matanya tidak sembab setelah menangis tadi dan untungnya saat ia masuk Taehun sudah kembali tertidur.
Tak ada yang bisa Sungjun lakukan lagi selain duduk di samping Taehun lalu mencari kabar dari teman-temannya yang lain.
Awalnya Sungjun sangat ragu untuk menghubungi teman-temannya yang hari ini sekolah, tapi setelah melihat jam yang menunjukan waktu istirahat, Sungjun melanjutkan niatnya yang sempat urung.
"Angkat telepon gue kak Jun," gumam Sungjun setelah berulang kali menghubungi tiga temannya yang lain.
Pada akhirnya Sungjun menyerah, ia berpikir jika teman-temannya itu tengah menikmati makan siang dengan ponsel yang berada dalam mode getar.
Setelah meletakan ponselnya, Sungjun menyandarkan punggungnya disandaran kursi dengan memejamkan matanya, mencoba menyusul Taehun ke alam mimpi. Sayangnya, baru lima menit Sungjun memejamkan matanya, ponsel miliknya berbunyi. Mau tidak mau Sungjun kembali terbangun.
"Iya, hallo?"
"Datang ke tempat yang saya kirim jika temanmu ingin selamat."
Ucapan dari orang tengah meneleponnya membuat Sungjun mengerutkan alisnya bingung. Ia melihat nomor siapa yang mrnghubunginya dan itu tidak ada dalam daftar kontak.
"Lo mau nipu ya? Lo nelpon ke orang yang salah," ucap Sungjun sebelum mematikan panggilan itu.
Sungjun hendak meletakan kembali ponselnya namun kembali urung karena ada yang mengiriminya pesan dan itu dari orang yang meneleponnya tadi.
+62xxxx
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
|Semuanya sudah |terlambat.
Karena besok lebaran, aku mau minta maaf sama kalian, maafin ya udah bikin emosi terus-terusan🙏 Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin🙏