LIMA

33 5 3
                                        

Sesuai kesepakatan, sepulang sekolah mereka berkumpul di asrama Taehun, Kyungjun dan Hyunsoo untuk mendengarkan cerita dari Sungjun.

"Jadi lo dapet gosip apa, Jun?" tanya Hyunsoo, laki-laki itu sudah menyiapkan cemilan untuk mendengarkan.

Sungjun mendengar kata 'gosip'menjadi sedikit canggung. "Bang, sebenernya ini bukan gosip."

"Terus apa?" Kyungjun ikut bertanya.

"Ini soal Jia," ujar Sungjun.

Taehun yang mendengar itu sudah hendak pergi, namun Sungjun segera menahan tangannya.

"Gue gak ijinin siapapun pergi, termasuk lo, Bang."

Akhirnya mau tak mau Taehun kembali duduk.

"Emangnya Jia kenapa?" tanya Junhyeok.

"Jia gak masuk hari ini, tapi tasnya ada. Gue yakin ini ada kaitannya sama yang kemarin."

"Terus apa hubungannya sama kita?" tanya Taehun. "Gue ngantuk, kalau cuma mau bahas ini kalian aja."

Langkah Taehun terhenti oleh ucapan Kyungjun.

"Lo gak peduli sama masa depan lo, Hun? Dia itu takdir-"

"Itu cuma buat masa lalu, bukan masa depan," sela Taehun cepat.

Seketika suasana menjadi asing, mereka belum pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Ini benar-benar membuat mereka tidak nyaman.

Sungjun merasa ini semua adalah kesalahannya, jadi sebisa mungkin ia harus mencairkan suasana mencekam itu.

"Jangan tidur dulu, Bang. Gue belum ceritain apa yang gue maksud tadi pagi," ucap Sungjun seraya menepuk tikar di sebelahnya.

Taehun menghela napasnya, ia akhirnya kembali duduk ditempatnya semula.

"Ada cerita lain?" Hwi mencoba membantu Sungjun agar mereka bisa melupakan kejadian tak terduga itu, ah tidak Hwi bahkan sudah mendengar kaliamat yang sama dari Taehun.

"Ini soal mimpi."

Taehun yang semula malas mendengarkan kini tertarik pada cerita Sungjun. Bukan karena menarik, tapi ada yang ingin Taehun pastikan.

"Mimpi yang serem-serem ya, lo?" tanya Hwi seraya memakan cemilan yang sudah Hyunsoo siapkan.

Sungjun mengangguk. "Buruk banget sampe gue yakin itu bukan mimpi biasa, gue udah mimpiin ini dua kali."

"Kayanya cuma mimpi deh, Jun. Kita udah selesai sama masa lalu, harusnya jam tidur lo juga udah gak keganggu lagi," ucap Hyunsoo.

Kyungjun menghela nafasnya, ia setuju tidak setuju dengan hal ini. "Gue setuju sama Hyunsoo, tapi emangnya lo mimpi apa?"

Sungjun terdiam sebentar, ia bingung harus menceritakan mimpinya itu mulai dari mana. "Langsung ke intinya aja ya? Soalnya rumit, gue juga gak begitu inget detailnya. Pokoknya ada dua mobil yang bertabrakan dari lawan arah dan yang bikin gue khawatir salah satu korbannya murid di sekolah kita."

"Maksud lo gimana? Murid di sekolah kita?" Junhyeok sudah sangat penasaran sekarang.

"Di mimpi gue itu salah satu korbannya pake jas seragam kita, tapi gue gak inget dia cewek atau cowok."

Taehun benar-benar tidak percaya dengan hal ini, dirinya dan Sungjun ternyata masih terhubung. "Jun, mobil itu... Dua-duanya warna hitam?"

Sungjun sontak mengangguk namun setelahnya ia tersadar akan sesuatu. "Lo mimpi juga, Bang?"

Anggukan dari Taehun membuat yang lainnya dilanda rasa khawatir. Mereka takut itu akan terjadi dan salah satu korbannya ada diantara mereka.

"Kenapa kalian masih terhubung? Janji sama keinginan kita dimasa lalu 'kan udah selesai," tanya Kyungjun.

Ini menjadi perbincangan yang cukup serius sekarang. Semuanya sudah berakhir, tapi mengapa masih seperti ini.

"Itu mungkin karena kita cuma dapetin keadilan, bukan kebahagiaan. Kita tahu sendiri, kita dimasa lalu kaya gimana. Tinggal di panti asuhan, belum lagi gangguan Daeyoon," ucap Taehun, ia mencoba menerka.

Semuanya setuju dengan terkaan Taehun, namun ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka, terutama Hwi.

"Kalau kita dimasa lalu mau bahagia dan semuanya belum selesai, terus buat apa mereka datang dan ngucapin terima kasih?"

Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Hwi, tidak ada yang menjawab, mereka tidak bisa menjawab itu.

Dering telepon milik Taehun memecah keheningan di antara mereka berenam.

"Gue angkat telepon dulu, ya?" Taehun bangkit lalu keluar dari kamar asramanya.

Sungjun sedikit curiga pada Taehun, laki-laki itu tidak biasanya menjawab panggilan sampai rela keluar.

"Lo kenapa?" tanya Junhyeok.

Sungjun menggeleng. "Gak papa, cuma aneh aja gak biasanya bang Tae kaya gini."

"Mungkin itu privasi, Jun," kata Kyungjun.

"Oh iya, soal Jia. Gue juga mau ceritain soal dia. Tadi pagi 'kan gue sama Junyeok piket, kalian tahu lah gimana cerewetnya dia?"

Kyungjun dan Hyunsoo sontak menggeleng menanggapi pertanyaan dari Hwi.

"Bukannya Jia kalem ya?" Kyungjun balik bertanya.

"Kalem kalau gak akrab." Bukan Hwi yang menjawab, melainkan Sungjun.

"Udah deh, gue lanjutin ceritanya. Nunggu Hwi mah lama." Hwi sudah ancang-ancang hendak melempari Junhyeok, tapi Junhyeok sudah tersenyum padanya hingga niatnya urung.

"Hwi itu kalau nyapu di sekolah suka mau gak mau, kurang bener gitulah. Nah, biasanya si Jia nyerocos ngomel-ngomel tapi tadi, jangankan ngomel ditanya aja marah-marah, terus 'kan gue nanya kenapa dia diem aja-" lanjut Junhyeok.

"Suka-suka gue, kalian gak berhak ngatur," ucap Hwi menirukan suara Jia saat marah pagi tadi.

"Mungkin dia lagi ada masalah, kita gak berhak tahu apa masalahnya. Kita udah gak ada kepentingan juga sama dia, kecuali kalau dia minta bantuan kita," ujar Kyungjun

"Iya sih, Kak. Cuma aneh aja gitu," ucap Junhyeok. "Tapi yang lebih aneh, kenapa Bang Tae kaya gak suka banget kita bahas Jia?"









Hallo!
Aku sengaja up rada awal, soalnya kemarin gak up hehe..

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang