Kyungjun kira ia akan keluar dari rumah sakit tanpa melihat kedua orang tuanya, namun ternyata ia salah besar. Pagi hari kedua orang tuanya datang dan meminta teman-temannya untuk kembali ke asrama. Kyungjun tentu kesal, datang tak diundang dan mengusir teman-teman yang menjaganya sepagi itu.
"Buat apa kalian ke sini?" tanya Kyungjun dengan perasaan dongkol.
Keduanya tidak ada yang menjawab, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Sang ayah yang sibuk dengan laptopnya dan sang ibu yang terus berkutat pada ponselnya.
Ingin rasanya Kyungjun membantingkan vas bunga yang berada di nakas untuk mengalihkan perhatian kedua orang tuanya, tapi ia masih sadar untuk tidak melakukan hal itu.
"Gak ada gunanya kalian ke sini," gumam Kyungjun.
"Besok kita akan urus surat kepindahan kamu," ujar Juyook, ayah Kyungjun.
Ucapan Juyook bagaikan petir yang menyambar. Kyungjun sangat terkejut mendengar hal itu. Sebelumnya ia dan kedua orang tuanya telah membuat perjanjian mengenai masalah ini.
"Pah, aku gak mau! Kenapa kalian ingkar janji? Kesepakatan kita gak gini!"
"Turutin aja apa yang Papah kamu mau, apa susahnya?" kata Yera, selaku sang ibu.
"Aku siap mau kalian kirim ke mana pun, tapi gak sekarang." Kekhawatiran Kyungjun kemarin pagi kini menjadi kenyataan, tapi bagaimanapun caranya ia akan menggagalkan rencana ini.
"Jangan jadi pembangkang Woo Kyungjun!" bentak Juyook.
Kyungjun tentu tak terkejut mendengar bentakan dari sang ayah. Ia sudah terbiasa. "Setelah aku lulus, Pah! Cuma itu syarat dari aku. Kalian gak bisa maksa kaya gini!"
"Park Yera, lihat kelakuan anakmu! Bagaimana kamu mendidiknya hingga bisa menjadi pembangkang seperti ini?"
Yera tak terima dengan pertanyaan dari suaminya itu. "Kenapa tidak bertanya pada dirimu sendiri?" Tatapan Yera beralih pada anak bungsunya. "Pasti ini semua karena teman-temanmu itu 'kan? Sudah Mamah bilang berkali-kali, jangan berteman sama mereka. Mereka membawa pengaruh buruk buat kamu!"
🕸🕸🕸
Setelah mendengar cerita dari Hyuna kemarin, Hyunsoo jadi lebih banyak diam. Ia berpikir bagaimana ia bisa menceritakan kembali pada teman-temannya.
Diamnya Hyunsoo menjadi pertanyaan besar teman-temannya, mereka terus bertanya tapi Hyunsoo terus menjawab jika ia baik-baik saja.
Saat ini, ia tengah sendirian di asrama, Taehun tengah berada di asrama ketiga adik kelasnya.
Helaan nafas terdengar, Hyunsoo benar-benar tak habis pikir dengan apa yang terjadi.
"Kalau aja di tahun 1990 gue sama yang lainnya gak masuk sekolah ini, gak dapetin beasiswa dan gak ketemu Daeyoon, mungkin semuanya bakal baik-baik aja. Gak akan ada pertumpahan darah, gak akan ada orang yang dirugikan, dan gak akan ada orang yang bunuh diri karena kesalahannya sendiri," gumam Hyunsoo.
Tiba-tiba Hyunsoo terkekeh pelan, jika diingat-ingat sudah banyak rintangan yang ia dan teman-temannya alami, dan itu harus mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.
Tatapan Hyunsoo beralih pada kasur yang biasa Taehun tempati. "Gue kira setelah Daeyoon mati hidup kita bakal kerasa aman, tapi ternyata semuanya bakal terasa lebih gak aman."
Hyunsoo rasa ia akan gila jika terus berbicara sendiri. Ia mencoba menyingkirkan pikiran buruk itu dengan menemui teman-temannya. Hanya dengan itu, ia bisa mengalihkan pikiran buruknya walau hanya sebentar.
Berjalan sendirian mengingatkannya pada Junhyeok yang bertemu dirinya versi masa lalu. Beberapa bulan lalu mereka sangat takut bahkan hanya untuk pergi sendiri.
Terlintas sedikit pikiran bagaimana jika ia bertemu dengan dirinya di masa lalu. Jika itu terjadi, Hyunsoo ingin menanyakan apa saja yang telah mereka alami dan bagaimana mereka pada masa itu. Sekarang ia sudah tidak takut lagi.
Hyunsoo tersadar jika sepanjang perjalanan hanya itu yang ia pikirkan. Sekarang dirinya sudah berada di depan kamar tiga adik kelasnya.
Tok tok tok.
Hyunsoo mengetuk pintu itu dan tak lama Taehun membukanya.
"Lah, nyusul juga. Tadi diajak gak mau," ucap Taehun seraya menutup pintu setelah Hyunsoo masuk.
"Gabut juga gue lama-lama. Wih ... Adik-adik gue rajin ya, pada belajar," kata Hyunsoo yang kini ikut duduk di sebelah Junhyeok.
"Iya, Bang. Kita mah rajin, gak kaya lo," balas Sungjun dengan santai.
Hyunsoo melotot tak terima. "Gue juga rajin, ya! Cuma gak ditunjukin di depan kalian aja."
"Masa? Gak percaya gue," ucap Hwi.
"Iyain aja Hwi, biar cepet." Junhyeok yang tengah menulis itu akhirnya bersuara.
Hyunsoo tak lagi mempedulikan ucapan temannya, ia mulai melihat materi apa saja yang tengah mereka pelajari hingga ia menemukan soal yang masih ia ingat bagaimana cara menyelesaikannya.
"Ini mah gampang-"
"Lo tahu jawabannya, Bang?" Ucapan Hyunsoo terpotong oleh Sungjun.
Hyunsoo mengangguk, namun setelahnya ia mendapat tatapan tajam dari Taehun.
"Awas keluar, gitu banget tatapan lo."
"Asal lo diem. Biarin mereka ngerjain sendiri," kata Taehun.
"Tapi ini susah banget," eluh Junhyeok, entah sudah berapa lembar kertas ia gunakan hanya untuk satu soal matematika itu.
"Hyeok, lo baru bilang susah? Gue mah udah nyerah dari tadi." Hwi sudah menatap buku-buku di hadapannya tak minat.
"Ini tuh baru mau dipelajari minggu depan, ya mana kita ngerti kalau Bang Tae gak mau jelasin," ucap Sungjun kesal.
Taehun menghela nafasnya. "Terus yang tadi gue jelasin apa?"
"Yang lo jelasin kan contohnya bukan soal yang ini," imbuh Hwi.
"Ya kalau Tae jelasin soal yang ini, terus kalian mau jawab apa? Kan udah Taehun kasih tahu jawabannya." Hyunsoo sudah tak habis pikir dengan ketiga adik kelasnya.
"Ternyata versi masa lalu sama masa depan banyak perbedaannya," batin Hyunsoo.
"Lo gak usah sok gak tau ya, Bang. Matematika cuma gampang di contohnya aja, soalnya mah susah!"
Udah mau seminggu aja aku gak up. Waktu gak kerasa banget ya?
Aku ada pesan nih, jangan marahin orang tuanya Kyungjun ya hehe...
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanfictionBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
