Taehun menghela napasnya setelah mendengarkan kebenaran yang lain dari Haruto juga Jeongwoo. Ia merasa bersalah atas apa yang telah ia katakan dan lakukan.
"Lo mau ke mana?"
Langkah Taehun terhenti, selain karena ucapan Doyoung, juga karena seseorang di depan pintu.
"Pak Junwook?"
Junwook tersenyum, lantas menghampiri Taehun lalu memeluknya. Bukan marah, ia merasa bangga terhadap anak didiknya itu.
"Maaf Pak..." lirih Taehun.
Junwook menggeleng lalu berkata, "Gak ada yang salah, benar apa kata Junhyeok waktu itu kalau kita sama-sama korban."
Pria setengah baya itu tak hanya diam di depan salah satu muridnya, ia beralih mendekati Sungjun. Ia tak berucap apa-apa, hanya memandangi kaki Sungjun yang terluka.
"Pak-"
"Ini gak akan lama, cepet sembuh dan kembali masuk di pelajaran Bapak ya," ucap Junwook setelah melihat keadaan Sungjun, setelahnya ia melihat muridnya yang ada di sana. "Kalian juga. Bapak masih ada urusan, kalian jadi diri ya," lanjutnya sebelum kembali pergi.
Ini nyata, namun terasa mimpi. Baru pertama kali mereka merasakan aura Junwook se-hangat itu, biasanya pria setengah baya itu hanya menunjukan ekspresi dingin seolah tak berserakan.
Jeongwoo menghela napasnya, sebelum akhirnya berkata, "Kami juga harus pamit. Jun, cepet sembuh ya, Bang Tae juga. Kami tunggu kalian balik ke sekolah kaya biasa."
"Iya, kalian hati-hati ya. Makasih udah mau jenguk," kata sungjun sambil tersenyum.
Setelah kepergian Jeongwoo dan Haruto, kini tersisa lima orang. Mereka kini sama-sama merasa lega, masalah mereka selesai secara bersamaan. Dari siapa pelaku teror di rumah Hyunsoo, seseorang yang menyamar jadi Kyungjun serta siapa yang telah berniat mencelakakan mereka terungkap dalam satu waktu.
Kedatangan Haruto dan Jeongwoo tak hanya untuk menjenguk keadaan Sungjun maupun Taehun, tapi juga untuk menjelaskan tentang apa saja yang sudah terjadi di kantor polisi.
"Bang, apa boleh gue ke ruangannya kak Jun?"
Pertanyaan dari sungjun memecah keheningan diantara mereka.
"Kayanya jangan dulu deh," kata Hwi sebelum ada yang menjawab pertanyaan Sungjun. "Lo di sini aja, biar gue aja jemput kak Jun ya?"
"Emang lo tahu kak Jun di mana Hwi?" tanya Junhyeok.
"Kalau lo tahu, bisa kasih tau gue? Gue kayanya perlu minta maaf," imbuh Hyunsoo.
"Harusnya gue yang minta maaf, Soo."
Mereka berlima sama-sama berbalik, melihat siapa yang berkata demikian.
Dari ambang pintu Kyungjun tersenyum namun di pipinya terdapat bekas air mata, ia bahagia dan mencoba merelakan sesuatu di waktu yang sama. Kyungjun tak sendiri, ada Doyoung di belakangnya yang mendorong kursi roda Kyungjun.
Taehun, Hyunsoo, Junhyeok dan Hwi berhambur memeluk Kyungjun, mereka menghilangkan rasa rindu setelah beberapa hati tak bertemu dan terlibat dalam kesalah pahaman.
Dari bangsal, Sungjun menatap teman-temannya dengan senyuman. Ia juga ingin turun dan ikut memeluk kakak tertua mereka, tapi ia sedang tidak bisa melakukan itu sekarang.
"Kak ..."
Mereka tersadar jika Sungjun tak bisa turun dan ikut berpelukan bersama mereka.
Tanpa perintah, Doyoung mendorong kursi roda Kyungjun mendekat pada Sungjun.
"Makasih, Doy."
Doyoung mengangguk, ia sama sekali tak keberatan. Ia masih merasa bersalah karena telah ikut menuduh Kyungjun yang tidak-tidak.
🕸🕸🕸
Permintaan maaf sudah mereka katakan satu-sama lain, semuanya kesalah pahaman sudah selesai.
Mereka berharap di masa depan tak ada lagi kesalah pahaman semacam ini.
"Gue jadi penasaran hukuman apa yang bakal Yujin dapetin kali ini, padahal dia baru aja keluar, dah masuk penjara lagi aja," ucap Hyunsoo.
"Intinya harus setimpal aja sih, kesalahan dia banyak banget dimulai dari sekongkol sana Juyeon buat teror rumah Bang Unco, sampe kecelakaan Jia dia dalangnya," jawab Junhyeok. Remaja itu sangat kesal tiap mengingat dua nama kriminal itu.
"Udah, Hyeok. Jangan sebut nama mereka lagi, gue beneran kesel dengernya. Gue hampir kehilangan seorang kakak gara-gara dua aki-aki itu." Sungjun sungguh sangat marah saat mendengar fakta jika kecelakaan Jia adalah rencana Yujin untuk Taehun.
Hwi menatap Sungjun penuh selidik. "Kakak, siapa yang lo maksud?"
Dengan cepat Sungjun meraih tangan Taehun lalu mengangkatnya. "Dia pernah janji mau jadi kakak gue soalnya."
Doyoung yang masih berada di sana terkekeh pelan dengan percakapan mereka sejak awal. "Padahal kita semua bisa jadi kakak lo, Jun."
Hyunsoo mengangguk, menyutujui apa yang Doyoung katakan. "Gue juga Abang lo ya, kok gak di akui?"
"Jangan mau Jun, darah rendah lo biasa langsung berubah jadi darah ting-" Belum selesai ucapan Hwi, ia segera berlari menghindar karena Hyunsoo kini mencoba meraihnya.
Saat-saat seperti inilah yang akan sangat mereka rindukan setelah kelulusan nanti. Tapi tidak bagi Kyungjun, mulai besok ia akan mulai merindukan semuanya.
"Ada yang mau gue bicarain sama kalian."
Mereka yang tengah tertawa karena Hwi dan Hyunsoo seketika menoleh pada Kyungjun secara bersamaan.
Kyungjun mengulum bibirnya, ia bingung harus mengatakannya seperti apa. "Gue ... mulai besok gue udah gak tinggal di sini lagi."
"Jun ..."
"Maaf, gue udah gak bisa nentang lagi." Kyungjun menunduk, ini adalah keputusan yang sangat berat untuknya. "Ini yang orang tua gue mau dari awal, gue gak mau ada lain hal lagi yang terjadi setelah kejadian kemarin. Jadi, kali ini gue memilih buat nurut apa kata mereka. Maaf, sekali lagi."
Sebelumnya tak ada yang pernah menyangka, mereka kecewa tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Mereka tersenyum tapi mata mereka menitikan air mata. Sebelumnya mereka sudah mendapat bocoran mengenai ini dari Kyungmin, jadi mau tidak mau, bisa tidak bisa mereka harus menerimanya.
"Apapun keputusan lo, kita dukung kok, Kak. Rasanya pisah sama orang yang kita sayang emang berat, tapi kita harap lo terus bahagia dan jangan putus hubungan sama kita walau udah gak di negara yang sama ya," ujar Junhyeok.
Kyungjun tersenyum lalu merentangkan tangannya. Lagi, setelah pelukan tanda damai kini pelukan tanda perpisahan.
"HEY, GUE DI SINI YA!"
Mereka terkekeh kecil mendengar teriakan Sungjun. Akhirnya setelah itu mereka beralih memeluk teman paling muda itu, meski Kyungjun belum bisa ikut berdiri dan memeluknya.
"Semoga kita semua bisa terus bahagia."
Pertama dan terakhir setelah keputusan itu.
END.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
Fiksi PenggemarBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
