"Ini bukan hari libur, kenapa kalian ada di sini?"
Satu kalimat itu mampu mengalihkan perhatian Taehun dan Junhyeok. Mereka masih berada di restoran yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat Jia dirawat.
"Kak Hyuna? Kakak juga ngapain di sini? Ini bukan hari libur kerja?" tanya Taehun, meniru pertanyaan yang Hyuna ucapkan.
Tanpa ada yang menyuruhnya, Hyuna ikut duduk bergabung dengan dua remaja laki-laki itu.
"Cuma beberapa bulan gak ketemu, kamu berubah drastis ya? Atau ... Kakak yang lupa kalau kamu itu bukan dia-"
"Jagan lagi bicarain hal itu Kak," sela Junhyeok cepat. "Jelas mereka berbeda."
Hyuna tersenyum tipis mendengar itu. Tidak ada yang salah, tapi hatinya sedikit tak terima.
"Wajah yang sama, suara yang sama, bahkan nama yang sama, tapi dengan watak yang berbeda. Puluhan tahun pun kayanya gak cukup buat terbiasa," ucap Hyuna dalam hati.
"Taehun, Junhyeok, apa masih ada hal yang buat kalian penasaran sama mereka di masa lalu?"
Taehun dan Junhyeok saling pandang setelah mendengar hal itu. Jika boleh jujur, keduanya sama-sama ingin tahu kisah sebelum Deyoon mulai menjalankan rencananya.
"Ada, banyak hal. Tapi kayanya gak aka cukup sama waktu istirahat-"
Hyuna tertawa mendengar ucapan Junhyeok. "Kalian masih berpikir kalau Kakak ini kerja? Kakak ini cuma ibu rumah tangga biasa yang lagi nyari kesibukan."
"Tapi selama ini ..."
"Itu gak penting. Jadi, apa yang masih bikin kalian penasaran?"
"Kita sebelum rencana Daeyoon," jawab Junhyeok tanpa ragu.
Hyuna diam sejenak, mencoba mengingat kembali masa-masa bahagia puluhan tahun lalu. "Oke, kakak mulai dari saat pertama kalian datang sebagai murid baru. Saat itu satu sekolah dibuat heboh dengan kedatangan enam murid baru secara tiba-tiba terlebih saat pemilik sekolah bilang kalau mereka mendapatkan beasiswa sehingga bisa bersekolah di sana."
"Semua berjalan tanpa ada hambatan. Cuma kurang lebih satu minggu mereka bisa diterima oleh semua siswa, kita kecualikan Youngjae dan teman-temannya. Dia, punya tiga teman yang selalu membantunya berbuat nakal, entah itu bolos, merusak fasilitas sekolah, bahkan mengganggu siswa lain," Hyuna menjeda ucapannya lalu menatap Taehun dan Junhyeok yang kini terlihat sangat serius mendengarkan. "Kalian di masa lalu, jadi siswa paling sering diganggu Youngjae dan ketiga temannya. Itulah kenapa kami sejak awal menuduh Youngjae, dia dulu sebenci itu sama kalian."
"Terus Daeyoon? Gimana sama dia?" tanya Taehun.
Hyuna tersenyum tipis sebelum kembali berkata, "Dia kebalikan dari Youngjae. Dia pintar, baik, ramah dan namanya dikenal bukan hanya karena statusnya sebagai anak dari pemilik sekolah. Tapi sayang ternyata dia berhati iblis."
"Terus persahabatan kalian gimana?" Kali ini Junhyeok yang bertanya.
"Kakak, Taehun, Sungjun dan Jina berada di kelas yang sama. Di kelas itu nggak ada yang namanya memilih, semuanya teman. Kita jadi lebih akrab sebelum semester tiga, kita lebih banyak tertawa saat itu hingga semuanya di mulai saat pembagian hasil ujian semester. Kamu, Taehun di masa lalu," ucap Hyuna seraya menunjuk Taehun. "Sukses menggeser posisi Daeyoon yang biasanya mempunyai nilai paling tinggi. Setelah kejadian itu semuanya terasa baik-baik saja, Daeyoon masih seperti biasa cuma lebih sering menyendiri. Dari kejadian itu perlahan tercipta perbandingan diantara Daeyoon dan kalian di masa lalu, puncaknya setelah ujian kenaikan kelas, Daeyoon benar-benar tergeser dari posisi pertama jadi ke tujuh setelah kalian dan dari sana semuanya di mulai. Satu-persatu dari kalian di temukan dalam keadaan tragis, kecuali lima enam orang yang jadi korban dari kebakaran tahun itu," lanjutnya.
"Enam orang? Bukannya cuma lima?" Taehun sedikit bingung dengan hal itu.
"Kamu lupa? Jia jadi salah satu korbannya juga, orang yang dicintanya ada di dalam sana. Kalian juga harus tahu, Youngjae hampir jadi salah satu korbannya. Dia satu-satunya yang selamat dari ketiga temannya yang lain."
"Seo Jia di masa lalu sama di masa depan gak ada bedanya, sama-sama gila," ujar Taehun dengan tatapan kosong.
Hyuna mengerti apa yang Taehun maksud, biarpun dirinya terlihat berdiam diri namun nyatanya tidak. Dirinnya tahu apa yang sedang terjadi diantara Taehun juga Jia.
"Kim Nara sama Seo Jia, apa kalian mau tahu tentang mereka berdua?"
Junhyeok sangat ragu untuk mengangguk, hubungan teman yang berada di sampingnya dengan dua orang itu tengah kacau.
Di luar dugaan Junhyeok, Taehun malah mengangguk menyetujui sebelum dirinya.
"Tahun pertama mereka adalah teman, tapi di tahun kedua hubungan keduanya cukup renggang karena kelas yang terpisah. Hubungan keduanya semakin jauh setelah Nara dengan berani menyatakan perasaan di tengah lapangan, namun ia ditolak dengan tegas karena orang yang dicintainya sudah mempunyai pengisi hati."
"Taehun ... Kamu ngerti kan, apa yang kakak maksud?"
Taehun yang pernah memimpikan kejadian itu mengangguk.
"Tapi ada hal yang mungkin perlu kamu ketahui. Kim Nara dulu sangat bergantung pada orang yang dicintainya, mereka dekat dan Nara salah telah menjadikannya rumah." Hyuna menarik napasnya sebelum kembali melanjutkan, karena ini cukup berat baginya. "Satu bulan sebelum kejadian di lapangan waktu itu, Nara kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan dan kabar yang beredar semua harta yang ditinggalkan dikuasai oleh pamannya. Dia benar-benar membutuhkan sandaran waktu itu, dan tanpa sengaja dia salah mengartikan perhatian Taehun, padahal yang memperhatikannya saat itu bukan cuma Taehun, tapi hampir semua siswa maupun siswi karena keadaannya yang terkadang datang dengan tangan atau wajahnya yang terluka."
Hallo!
Malem dikit gak papa lah ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanficBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
