DUA PULUH

22 4 6
                                        

Taehun tersenyum tipis melihat Sungjun yang sudah tertidur pulas. Malam ini ia terpaksa menginap di rumah sakit. Tidak, bukan karena keadaan Junhyeok tapi karena keadaan dirinya sendiri.

Akhir-akhir ini ia tengah mempunyai beban pikiran hingga membuat kondisinya memburuk, ditambah kejadian tadi siang yang membuat beban pikirannya bertambah. Taehun masih tidak bisa menebak siapa di balik semua ini. Sebelumnya selalu tertuju pada satu orang, tapi sekarang orang orang itu sudah tiada.

"Gimana kondisi lo mau membaik kalau jam segini masih belum tidur?"

Taehun sedikit tersentak mendengar itu, tadi ia sangat yakin jika adik kelasnya itu sudah tertidur lelap.

"Gue tadi kebangun, ini juga mau tidur lagi," jawab Taehun.

"Dosa lo nambah satu, bohong lo ketahuan. Udah cepet tidur, masalah tadi siang kita pikirin besok," ucap Sungjun yang mulai menutup matanya lagi.

Di ruangan Taehun memang hanya ada Sungjun yang menaninya, di ruangan Junhyeok ada Hwi, sedangkan Kyungjun dan Hyunsoo pulang ke asrama. Kyungjun masih belum lama sembuh setelah terjatuh di kamar mandi, sedangkan Hyunsoo masih merasa kesal pada Taehun.

"Mimpi indah, Jun. Selagi kita masih bisa," gumam Taehun, ia juga mulai menutup matanya, menyusul Sungjun ke alam mimpi.

🕸🕸🕸

Suasana asrama tanpa salah satu anggota penghuni sungguh terasa sepi bagi Kyungjun. Ia sudah sering merasakan ini, tapi entah mengapa kali ini terasa berbeda.

Kyungjun baru saja membereskan buku yang akan ia bawa hari ini. Ia kini tengah mengeringkan rambutnya di depan kaca, sedangkan Hyunsoo masih berada di kamar mandi. Awalnya Kyungjun tidak merasakan hal yang aneh dari dirinya ataupun seragam yang ia pakai, tapi saat ia hendak beranjak ada sesuatu yang membuatnya diam dan memandangi pantulan dari kaca.

Kyungjun meraba dada kirinya, ia baru menyadari ada yang hilang dari sana.

"Hun, lo liat name tag gue gak?!" Kyungjun menutup mulutnya seketika, ia lupa jika Taehun sedang berada di rumah sakit.

"Kebiasaan, lo! Mulai sekarang biasain buat gak bergantung sama dia," ucap Hyunsoo yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Kyungjun menunduk, apa yang Hyunsoo katakan memang benar. Sudah tak seharusnya ia bergantung pada Taehun. Bagaimana ia kedepannya jika terus bergantung pada temannya yang satu itu.

"Asal lo tahu, Jun. Dia lebih percaya sama orang yang kenalnya lebih akhir daripada kita."

Ucapan Hyunsoo tersengar sedikit aneh di telinga Kyungjun. "Apa maksud lo?"

Hyunsoo yang tengah membereskan buku berbalik menatap Kyungjun yang menatapnya aneh. "Lo belum tahu ya? Taehun lebih percaya sama Junhyeok ketimbang lo, yang udah lebih lama dia kenal."

Tak percaya? Tentu saja. Kyungjun hanya bisa tersenyum miris, disaat waktu bersama teman-temannya yang tersisa sedikit malah terjadi ketidak jelasan.

"Kenapa semuanya jadi kaya gini, Soo?" tanya Kyungjun pelan.

"Tanya aja sama adik kelas lo itu. Gue berangkat duluan, bye!" Setelah mengatakan itu Hyunsoo langsung beranjak pergi meninggalkan Kyungjun yang sudah mengepalkan tangannya.

"JANG HYUNSOO!"

🕸🕸🕸

"Gue pulang hari ini."

Pernyataan itu membuat Sungjun menggeleng kuat. "Enak aja, nggak ya! Lo ngaca gih, Bang. Masih lemes begitu-"

"Pulang ke rumah," sela Taehun cepat.

"Apa lagi itu!" Hwi yang tengah berada di sana ikut menyahut. "Pulang ke asrama aja gue gak setuju apalagi ke rumah. Bukannya keadaan lo makin membaik, yang ada makin memburuk."

Taehun menghela nafasnya. "Gue bisa jaga diri kali. Kalau gue terus-terusan di sini, kapan kalian mau sekolahnya."

"Kapan-kapan."

Jawaban santai dari Hwi sukses membuat Sungjun mendorongnya ke samping secara spontan. "Mau lo begitu! Udah sana lo pergi jagain Junhyeok."

"Junhyeok lagi diperiksa, makanya gue di sini. Kemungkinan besar dia hari ini udah bisa pulang."

Taehun tersenyum mendengar kabar baik itu. "Junhyeok aja pulang, masa gue nggak boleh?"

"Beda keadaannya, Bang." Sungjun sebenarnya sudah lelah melarang Taehun yang sudah sangat ingin keluar dari rumah sakit itu.

"Bener apa kata Sungjun, Bang. Beda keadaan, lagipula biarin aja lo di sini sampe bener-bener sembuh, biayanya juga ditanggung sekolah kok," ujar Hwi.

"Kata siapa ditanggung sekolah? Bang Tae nangung biayanya sendiri," kata Sungjun.

Hwi sedikit terkejut mendengar hal itu, ia baru mengetahui hal ini. "Bukannya ditanggung sama sekolah ya? Kok gue baru tahu hal ini?"

Sungjun sontak tertawa mendengar hal itu, menurutnya ini terlalu lucu untuk tidak ditertawakan. "Kemana aja sih lo, Hwi? Mungkin seharusnya emang ditanggung sekolah, tapi kita kan murid spesial yang dibenci pemilik sekolah. Gue bahkan baru tahu kalau kita dirawat semua biaya ditanggung sekolah."

"Tapi kan dia udah gak ada."

Hanya dengan itu Sungjun berhenti tertawa. "Iya juga sih, harusnya hak-hak kita kembali gak sih?"

"Gak semua biaya ditanggung, tapi cuma setengahnya, itu sih yang gue baca waktu daftar di FIS," ujar Taehun. "Biarpun Daeyoon udah gak ada, bukan berarti hak-hak kita bisa kembali secepat itu. Masih ada orang yang gak suka sama kita."

"Siapa?!" tanya Sungjun dan Hwi secara bersamaan. Mereka terkejut mendengar hal itu.

"Kalian bakal tahu nanti."

Hwi dan Sungjun yang sudah sangat penasaran seketika menatap Taehun malas.

"Gue bukan cenayang ya, Bang," protes Hwi.

"Tahu tuh, Bang Tae gak asik!"











Tahu gak siapa yang benci sama mereka? Tebak deh hehe

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang