Foto dan pesan singkat itu membuat Sungjun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa terdiam dengan tangan yang bergetar.
Luka Junhyeok pada foto itu mengingatkannya pada sesuatu, saat itu tahun 1990 sebelum kebakaran. Ingatan itu membuat Sungjun bergerak cepat menghubungi Kyungjun dan yang lainnya lagi, kali ini ia tidak akan berhenti sebelum panggilannya itu terjawab.
"Gue mohon angkat, gue gak bisa ke mana-mana. Gue gak mungkin ninggalin bang Tae," gumam Sungjun.
Setelah belasan panggilan akhirnya Hwi menjawabnya, membuat Sungjun sedikit merasa tenang.
"Kenapa Jun?" tanya Hwi dari balik telepon.
"Hwi, Junhyeok dalam bahaya! Ah nggak, dia udah kenapa-napa. Gue kirim fotonya, lo sama yang lainnya harus cari sampe ketemu!" Sungjun benar-benar tak membiarkan Hwi bertanya banyak hal, setelah mengatakan itu ia langsung mematikannya sepihak dan langsung mengirimkan screenshot chat misterius itu.
Tak ada balasan lagi dari Hwi, tapi Sungjun yakin jika mereka sudah bergerak.
"Jun, ada apa."
Hampir saja Sungjun berteriak karena terkejut. "Bang, lo bikin gue kaget tahu gak?"
"Jun." Taehun menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan agar Sungjun duduk di sana.
Sungjun tentu tak menolak, ia juga membantu Taehun agar duduk dengan posisi yang nyaman.
Sebisa mungkin Sungjun menyembunyikan raut kekhawatirannya pada Junhyeok, ia tidak ingin keadaan Taehun semakin memburuk setelah mendengar kabar Junhyeok.
"Raut lo kaya orang khawatir, ada apa?"
Sungjun menunduk, usahanya gagal tapi tidak dengan rencananya, lagi pula ia tidak akan berbohong saat ini. "Gue khawatir sama keadaan lo, Bang."
Taehun tersenyum tipis, tangannya beralih menggenggam tangan Sungjun. "Gue takut, Jun. Gue gak punya siapa-siapa selain kalian, tolong jangan tinggalin gue, mereka gak peduli sama gue, Jun."
Sungjun menatap Taehun tak percaya. Kalimat itu, kalimat yang tak pernah Sungjun kira akan terucap dari bibir Taehun. Selama ini, Taehun hanya mengandalkan dirinya sendiri.
Dengan cepat Sungjun merengkuh bahu Taehun, membawanya pada pelukan hangat. Tak butuh waktu lama, Sungjun dapat merasakan bahu kakak kelasnya itu bergetar.
"Keluarin aja Bang semuanya, jangan karena kita laki-laki kita gak boleh nangis. Kita juga manusia, Bang."
Sepenggal kalimat yang Sungjun ucapkan adalah kalimat Taehun beberapa tahun lalu padanya. Hati Sungjun sebenarnya merasakan sakit mendengar isakan Taehun yang terdengar pilu.
"Gue mimpi, Jun. Gue mimpi ... Kita semua terpecah belah."
🕸🕸🕸
Kyungjun, Hyunsoo dan Hwi berlari mendorong brankar yang Junhyeok tempati. Benar, mereka sudah menemukannya dan membawanya ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.
Setelah Junhyeok masuk ke ruang darurat, ketiganya hanya bisa diam menunggu.
"Gue kabarin Sungjun, ya?" Hwi sudah meraih ponselnya namun Kyungjun mencegahnya.
"Jangan Hwi, biar gue langsung jemput mereka aja."
Hyunsoo menggeleng. "Lo mending liat seragam lo, Woo Kyungjun. Lo mau bikin Taehun panik disaat keadaannya gak stabil? Gue aja yang jemput mereka," ucapnya dan langsung pergi dari sana.
Kyungjun melihat seragamnya yang kembali mendapatkan noda darah dari salah satu temannya. Ia tak pernah menyangka jika seragam miliknya akan mendapatkan hal ini lagi.
Dulu Hwi dan sekarang Junhyeok. Kyungjun hanya bisa berharap keadaan Junhyeok saat ini tidak separah Hwi saat itu.
"Lo gagal untuk ke-sekian kalinya, Woo Kyungjun," ucap Kyungjun dalam hati.
"Kak." Hwi menepuk pundak Kyungjun yang tengah terdiam itu. Bukannya menjawab, Kyungjun malah pergi meninggalkan Hwi sendirian di sana.
Hwi yang tak mengerti keadaan hati Kyungjun hanya diam, membiarkan laki-laki itu pergi. Ia tidak bisa mengejarnya dan meninggalkan Junhyeok yang tengah ditangani oleh dokter.
"Apa gue kasih tahu orang tua Junhyeok ya?" Hwi sudah kembali menyalakan ponselnya. "Pihak sekolah pasti udah ngabarin, gak usah deh," lanjutnya.
Secara tiba-tiba Hwi menertawakan dirinya sendiri, kebingungan membuatnya bertingkah seperti orang bodoh.
"Hwi, Hwi. Mereka gak ada bedanya sama orang tua lo, mau di kasih tahu juga kalau masih ada urusan ya mana bisa."
Hwi jelas tahu, kedua orang tua Junhyeok sangat jarang berada di rumah. Jangankan di rumah, berada di kota yang sama dengan anaknya saja bisa dihitung menggunakan jari dalam satu bulan.
🕸🕸🕸
Hyunsoo sudah berada di asrama, tapi ia masih menyiapkan banyak jawaban untuk Taehun, entah mengapa ia sangat yakin jika dirinya akan ditanyai beragam pertanyaan.
Tanpa ketukan pintu Hyunsoo langsung masuk. Hal pertama yang ia lihat adalah tatapan bingung dari teman sekamarnya.
"Kenapa pulang?"
Sudah Hyunsoo duga, itu adalah pertanyaan pertama yang akan ia dapatkan.
"Gue mau bawa lo ke rumah sakit, ayo siap-siap," ucap Hyunsoo.
Taehun menggeleng. "Buat apa? Gue udah baikan. Di mana yang lainnya? Lo bolos sendirian?"
Hyunsoo menghela nafasnya, jawaban yang sudah ia siapkan sebelumnya hilang begitu saja dalam ingatannya.
"Seenggaknya kalau gak dirawat, ya diperiksa, Bang. Lo mau bikin kita khawatir terus-terusan?" tanya Sungjun.
Pertanyaan dari Sungjun membuat Hyunsoo bisa bernafas lega. Adik bungsunya itu terkadang memang bisa diandalkan.
Taehun tampak berpikir sejenak sebekum akhirnya mengangguk meng-iyakan.
"Cari mobil warna putih," ujar Taehun.
Mendengar itu, Hyunsoo jadi teringat sesuatu. Saat perjalanan ke asrama ia tak sengaja menaiki mobil berwarna hitam. "Kayanya bukan kita deh, Hun Korbannya. Gue sampe sini baik-baik aja."
"Lo harus jelasin hal itu di rumah sakit nanti."
Hyunsoo merutuki dirinya sendiri. Ia telah membuat Taehun curiga padanya. Itu karena jarak sekolah yang tak jauh dari asrama.
Aku baru bisa up :(
Dari kemarin sinyalnya kosong, sekarang baru ada huhu....
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanfictionBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
