Sungjun terdiam kaku di balik pintu asrama Taehun yang terbuka sedikit itu, tangannya bergetar bahkan kakinya hampir tak bisa menompang tubuhnya. Ia baru saja mendengar persis seperti apa yang Hwi dengar semalam.
"Stop, Ma! Tae gak akan pernah nerima perjodohan demi harta ini. Masa lalu sama masa depan itu beda Ma, Jia sama Tae yang sekarang bukan lagi takdir. Mama cuma mau harta kan? Oke, warisan dari kakek Tae alihin ke Mama. Kalau perpisahan kalian jadi, Tae bakal ikut Papah biar gak ngurangin harta Mama."
Ucapan Taehun terus terngiang di kepala Sungjun hingga tanpa sadar air mata yang tertahan dari pelupuk matanya jatuh. Awalnya Sungjun hanya berniat menyusul Taehun yang mengambil buku tulis untuk dirinya, tapi ia malah mendengar semuanya.
Karena tak mau tertangkap basah, Sungjun segera berlari kembali ke kamarnya sebelum Taehun sadar akan kehadirannya.
Hati Sungjun ikut sakit mendengar kalimat terakhir yang Taehun ucapkan, ia jadi teringat dua belas tahun lalu saat ia menyaksikan pertengkaran hebat antara ibu dan ayahnya.
"Cukup gue aja yang ngerasain semua ini, kalian jangan," batin Sungjun. Dengan perasaan yang masih tak karuan itu Sungjun mengusap air matanya lalu membuka pintu.
"Abang lo mana?" tanya Hyunsoo.
Mereka memang tengah belajar bersama di asrama Junhyeok, Hwi dan Sungjun, semua ini atas permintaan Junhyeok.
"Gue kira udah balik ke sini," jawab Sungjun seraya duduk di samping Hwi.
"Kan tadi gue nyuruh lo susul dia, Sungjun. Terus lo ke mana?" Kyungjun yang merasa heran itu ikut bertanya.
Sungjun tersenyum tanpa dosa, ia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. "Gue tadi muter-muter, nyari udara seger."
Kyungjun hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Sungjun. Berbeda dengan Hwi yang memperhatikan raut wajah Sungjun yang menurutnya sedikit aneh dengan mata yang sedikit berair.
"Mata lo kayanya berair ya, Jun?" Pertanyaan dari Hwi tentu membuat Sungjun gelagapan, ia tidak menyiapkan jawaban untuk ini.
"Lo abis nangis ya?" Junhyeok ikut bertanya.
"Itu, anu. Gue ... Gue abis kelilipan makanya berair, gue cuci muka dulu deh," jawabnya lalu pergi ke kamar mandi.
Kyungjun, Hyunsoo, Junhyeok dan Hwi menatap kepergian Sungjun, mereka menyadari gelagat aneh dari teman paling muda itu.
Ceklek.
"Kalian lagi lihatin apa?" Pertanyaan itu datang dari Taehun yang baru saja membuka pintu.
Seketika semua tatapan beralih padanya.
"Sungjun abis dari luar gerak-geriknya jadi aneh," jawab Kyungjun yang mulai melanjutkan kembali tulisannya.
"Sungjun kaya gini abis dengerin ucapan gue, Jun," batin Taehun. Ia menyadari kehadiran Sungjun saat menutup panggilan dari ibunya. Jika waktu bisa diulang, ia akan membiarkan ponselnya terus berbunyi agar Sungjun tak mendengar masalah yang sedang ia hadapi.
🕸🕸🕸
"Lo sebenernya tadi sore kenapa sih, Jun?" tanya Hwi yang sangat penasaran.
Sekarang sudah pukul sepuluh malam dan mereka menyelesaikan belajar bersama pukul setengah delapan malam.
"Iya, Jun. Cerita dong," imbuh Junhyeok.
Sungjun menghela nafasnya kemudian mengisyaratkan agar kedua temannya duduk mendekat. Sekarang mereka duduk setengah lingkaran di kasur Sungjun.
"Sebenernya gue lagi kangen bokap gue," ujar Sungjun. "Udah dua belas tahun gue gak ketemu dia, bahkan sekarang gue udah lupa muka dia kaya gimana," lanjutnya.
Hwi dan Junhyeok saling pandang, mereka merasa bersalah telah mengingatkan kesedihan Sungjun sore tadi.
"Jun, sorry... Kita-"
"Lah kenapa? Gue cuma kangen dia, kenapa kalian malah minta maaf?" sela Sungjun dengan pertanyaan.
Hwi menggaruk tengkuknya tak gatal. "Ya, karena udah bikin lo inget kesedihan lo lagi."
"Iya, Jun. Bahkan tadi sore lo sampe nangis," imbuh Junhyeok.
Sungjun tersenyum tipis lalu merangkul kedua temannya itu. "Gue nangis bukan karena itu. Ngapain gue nangisin orang yang sama sekali gak peduli sama gue? Dia gak ada bedanya sama si musang."
"Musang? Siapa yang lo sebut musang?" tanya Junhyeok.
"Mantan bokap tiri gue yang kemarin, kan bang Unco manggil dia musang karena sering main tangan sama gue," jelas Sungjun.
Hwi tertawa pelan mendengar hal itu. "Bang unco lo ikutin. Terus kenapa lo nangis? Kalau bukan karena bokap kandung lo?"
Sungjun menundukan kepalanya, ia bingung harus menceritakannya atau tidak. Di sisi lain ini adalah masalah pribadi Taehun, tapi Sungjun sangat tak mau melihat laki-laki itu memendam masalahnya sendiri.
"Gue tahu seseuatu tentang bang Tae. Dia nyembunyiin masalah besar dari kita semua, tapi jangan salah paham. Ini masalah pribadi dia," kata Sungjun pada akhirnya.
Hwi memandang Sungjun sendu. "Gue tahu masalah apa yang lo maksud di sini, Jun. Gue bahkan denger lebih dulu dari pada lo," batinnya.
"Lo tahu dari mana?" tanya Junhyeok.
"Sebenernya gue sore tadi emang beneran nyuslulin bang Tae, tapi cuma sampe depan pintu."
"Jun, ceritain aja semuanya. Karena yang belum tahu di sini cuma Junhyeok."
Ucapan Hwi membuat Sungjun menatapnya tak percaya, begitu pula dengan Junhyeok.
"Sejak kapan dan dari mana lo bisa tahu?" tanya Junhyeok.
"Kemarin, pas kalian jenguk Jia. Gue tidur di kamar bang Tae terus kebangun gara-gara dia telepon sama tante Nara, dan ya gue tahu dari sana kalau bang Tae dijodohin sama Jia," balas Hwi.
"EH SUMPAH?" Junhyeok benar-benar terkejut mendengar hal itu. "Itu berarti alasan kenapa tante Nara ada di rumah sakit kemarin," lanjutnya.
"Tapi masalah bang Tae bukan cuma itu, kemungkinan dia bakal bernasib sama kaya gue," ucap Sungjun.
Kali ini Sungjun jadi muridnya Hyunsoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanficBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
