EMPAT PULUH SEMBILAN

25 4 11
                                        

Taehun dan Hyunsoo sudah berada di asrama, tepatnya di depan pintu kamar mereka. Keduanya tampak ragu, mereka sama-sama masih belum siap bertemu dengan Kyungjun.

"Hun, apa perlu kita minta kamar baru?" tanya Hyunsoo.

Taehun menghela napasnya lantas menggeleng, kamar di depannya begitu nenenangkan jadi rasanya tidak mungkin meminta pindah dari kamar lama.

"Apa kepercayaan lo buat Kyungjun udah beneran gak ada, Soo?"

"Kepercayaan itu kaya kesempatan, adanya cuma sekali. Kalaupun ada lagi, semuanya gak akan sama kaya yang pertama."

Taehun mengerutkan alisnya bingung. "Maksudnya? Lo gak akan percaya lagi sama Kyungjun? Lo beneran percaya kalau Kyungjun yang fitnah kita?"

"Iya." Singkat, jelas dan padat. Taehun tak menyangka jika Hyunsoo benar-benar percaya, ia kira selama ini sikapnya hanya sandiwara.

"Jang Hyunsoo? Lo gak salah kan?"

Bukannya membalas, Hyunsoo malah membuka pintu dan masuk. Sepi, itu yang ia rasakan ketika memasuki kamar yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah pada teman-temannya.

🕸🕸🕸

"Lo terlalu banyak sembunyiin banyak hal."

Hyuna menghela napasnya, Jina sengaja datang ke rumahnya hanya untuk menanyakan alasannya menampar Nara kemarin. Jina terus bertanya tanpa jeda hingga Hyuna tak diberi waktu untuk menjawab.

"Kim Jina! Stop dulu!"

Akhirnya Jina diam dan tersenyum, ia baru tersadar akan perbuatannya. "Maaf, jadi karena apa? Dia bilang lo gak tahu rasanya jadi seorang ibu, padahal lo udah punya dua anak."

"Jina, kasih gue waktu buat bicara."

Lagi-lagi Jina tersenyum tanpa dosa, tapi kali ini ia tidak lagi berbicara.

Hyuna menarik napasnya sebelum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Nara.

"Sebenarnya gue udah ketemu Taehun dari sepuluh tahun yang lalu, di rumah sakit."

Jina yang mendengar hal itu menatap Hyuna tak percaya. Bukan karena bertemu Taehun, tapi masa itu adalah masa kelamnya Hyuna.

Hyuna menunduk. "Kita berdua ketemu dan kita berdua sama-sama kehilangan saat itu."

"Kehilangan?" Jina semakin mendekatkan dirinya pada Hyuna, ia menangkup wajah Hyuna agar menatap dirinya.

"Di waktu yang sama saat anak pertama gue menghembuskan napas terakhirnya, Nara juga kehilangan anak kedua yang baru berumur satu tahun saat itu." Hyuna bercerita dengan tatapan yang tak dapat Jina artikan.

"Jadi maksud dari memanfaatkan Taehun itu apa? Nara yang gak becus jadi ibu itu apa, Na?"

Hyuna meraih tangan Jina yang menangkup wajahnya lalu menggenggam tangan itu. "Gue baru sadar kalau anak kecil yang waktu itu Nara bentak dan Nara pukul waktu itu Taehun."

"Lo gak bisa simpulin gitu aja, Na."

"Nara berkali-kali hampir bunuh anaknya sendiri, Ji!" Hyuna makin mengeratkan genggamannya. "Dari Taehun kecil, hingga sekarang. Gue udah tahu semuanya Ji-"

"Dari mana?" tanya Jina memotong ucapan Hyuna. "Lo selidikin semuanya tanpa gue juga Minsoo? Kalau gitu lo udah tahu dong siapa yang teror rumah Hyunsoo dan buat persahabatan mereka ancur?"

Dengan ragu Hyuna mengangguk. "Yujin."

🕸🕸🕸

Sungjun terus memperhatikan Junhyeok yang tengah merapikan lemari pakaiannya. Kebanyakan baju yang Junhyeok miliki berwarna hitam dan putih hanya ada beberapa yang berwarna lain. Namun, ada satu yang membuat Sungjun merasa asing, ia baru melihatnya.

"Daripada liatin doang, mending bantuin sini," kata Junhyeok yang sadar akan tatapan Sungjun.

Sungjun akhirnya duduk di samping Junhyeok, bukan membantu melainkan kembali memperhatikan dengan jarak yang lebih dekat. "Gue baru lihat baju lo yang itu deh, gak pernah lo pake ya?"

"Itu dikasih sama Bang Tae kemarin," jawab Junhyeok tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Pantes. Oh iya, gimana tinggal di rumah bang Tae? Seru pasti ya?" tanya Sungjun antusias, ia ingin mendengarkan cerita Junhyeok. Selama ini Sungjun tidak diperbolehkan menginap selama Junhyeok, paling hanya satu malam.

"Seru dari mananya? Ya ... agak lumayan sih, lumayan bikin gue merinding. Baru dateng aja udah disambut."

Cerita Junhyeok di luar ekspetasi Sungjun. "Mereka bikin lo syok ya? Kali ini sambutannya apa?"

"Ocehan ya?" Hwi yang tadinya tengah berbaring kini menghampiri dua temannya dan ikut bergabung.

"Tamparan." Satu kata yang membuat keduanya terkejut. "Gue emang gak kena, tapi sama aja."

"Mereka main fisik lagi?" Hwi benar-benar tak mengerti dengan kepribadian kedua orang tua kakak kelasnya itu.

"Pedulinya mereka jelek pokoknya."

Hwi teringat sesuatu, ia mencondongkan badannya lalu berkata, "Kalian mau tahu gesuatu gak, tapi abis ini kalian jangan dulu berburu sangka."

Melihat ekspresi wajah Hwi yang tak biasa keduanya lantas menggangguk secara bersamaan.

"Gue lihat mobil Minjae ada di rumah Minsoo," ujar Hwi.

Junhyeok dan Sungjun yang sudah serius seketika memutar bola matanya malas, mereka mengira Hwi tengah bercanda sekarang.

"Minjae? Siapa lagi? Kita gak ada kenalan yang namanya Minjae ya!" kata Junhyeok.

"Kita udah serius loh, Hwi." Sungjun ikut menimpali.

"Bokapnya bang Tae, masa gitu aja gak tahu! Bukan cuma mobilnya tapi gue lihat kalau orangnya juga ada di sana." Hwi meraih ponselnya yang berada di atas meja, ia menunjukan gambar plat dan dua orang yang tengah berjabat tangan.

"Apa hubungan Minsoo sama bokapnya bang Tae?" tanya Sungjun.

"Kok gue jadi takut ada musuh dalam selimut ya," ujar Junhyeok.

"Kita gak boleh berburu sangka, tapi kita harus tetap waspada. Inget, Minsoo bantuin kita juga karena uang."

















Hallow!
Dah lama gak up hehe...
Dadah, abis ini mau ngilang lagi. Kalau kangen dm aja wkwk

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang