DUA PULUH ENAM

25 3 11
                                        

Taehun menatap roti buatan sang ibu tak nafsu, ia masih terbayang-bayang cerita Sungjun. Taehun khawatir jika mimpi itu adalah peringatan untuknya.

"Kenapa cuma diliatin aja? Tadi kamu bilang mau roti panggang kan? Ayo dimakan," ucap Nara.

Taehun menatap Nara, dalam sekejap Taehun mempunyai prasangka yang buruk terhadap ibunya sendiri. Namun tak lama, Taehun menggelengkan kepalanya, ia tak boleh berburuk sangka apalagi pada wanita yang sudah melahirkannya.

"Sore ini Tae pulang ke asrama lagi ya, Ma," ujar Taehun sebelum memakan roti itu.

Nara menatap putra tunggalnya itu sendu. "Besok masih libur, besok aja ya? Temenin Mama, selagi Papah kamu di luar kota."

"Gak bisa, Ma. Tae punya banyak tugas sekolah yang belum selesai." Akhirnya mau tidak mau Taehun mengatakan sesuatu yang berkebalikan dengan kenyataan.

Helaan nafas terdengar, kali ini Nara tidak akan menyerah. "Sayang, kali ini aja, dengerin apa kata Mama."

Taehun tersenyum miring, ia mengerti apa yang dimaksud ibunya saat ini. "Emang kapan Tae gak dengerin apa kata, Mama? Soal warisan ya?"

Nara menggeleng, sebelumnya ia memang menginginkan hal itu, tapi sekarang tidak lagi. "Nggak sayang, kamu cukup berangkat besok pagi dan terima perjodohan ini."

"Maksud Mama apa?!" Taehun yang sejak awal terduduk spontan berdiri setelah mendengar hal itu. "Mama gak maksa Tae soal warisan karena Mama tahu ada yang lebih menguntungkan dari warisan itu?"

Nara tertegun, tapi sebisa mungkin ia bersikap seolah semuanya bukan semata-mata karena harta. "Kenapa bentak Mama? Mama cuma mau perbaikin semuanya. Kamu sama Jia itu takdir," ucapnya seraya menangkup kedua pipi Taehun.

Takdir katanya, sedangkan di masa lalu? Nara yang mencoba memisahkan keduanya.

"Mama mau memperbaiki kesalahan-"

"Mama sadar kalau Mama salah?" tanya Taehun sebelum Nara menyelesaikan ucapannya. "Mama tahu mereka takdir, tapi kenapa Mama hampir buhuh Jia di masa lalu? Semua udah terlambat, Ma. Mereka udah pergi, apalagi yang perlu diperbaiki? Hubungan anak Mama ini, sama Choi Taehun di masa lalu itu udah selesai."

"Mama..." Nara hampir tak bisa berkata apapun lagi, ia tak mengerti bagaimana Taehun bisa mengetahui semuanya.

"Jangan Mama kira Tae gak tahu apa-apa. Choi Taehun, Seo Jia dan Kim Nara di masa lalu, Tae tahu kisah mereka, Ma! Bahkan Tae tahu alasan Mama siksa Tae waktu kecil karena apa, karena Mama masih gak terima anak Mama adalah reinkarnasi dari orang yang Mama cinta! Dan sikap Choi Taehun di masa lalu kebalikan dari yang Mama ceritain sama Tae!" ucap Taehun menggebu-gebu, ia sudah tidak bisa menahan semuanya.

"Dengerin Mama dulu, Mama punya alasan kenapa bilang kaya gitu."

Taehun tak lagi membalas, ia memilih kembali ke kamarnya. Berdebat dengan Nara terlalu membuang-buang waktu dan tenaganya.

🕸🕸🕸

Di sinilah Hwi, di tempat Park Yujin dan Lee Youngjae menjalankan hukumannya.

Setelah semua yang terjadi pada ia dan teman-temannya, Hwi mempunyai keyakinan besar bahwa Yujin lah dalang di balik semuanya, meskipun masih belum ada bukti apapun.

Tatapan Hwi semakin tajam kala Yujin duduk di hadapannya. Melihat wajahnya saja Hwi sudah sangat muak, ia sedikit menyesali keputusannya datang ke tempat ini. Kejadian saat Yujin menggoreskan benda tajam pada tubuhnya seketika terputar kembali dalam ingatan Hwi. Jika ada kata yang levelnya lebih tinggi dari kata benci, mungkin Hwi sudah ada di level itu.

"Eun Hwi, apa kabar?"

Pertanyaan dari Yujin benar-benar membuat Hwi ingin memukulnya.

"Gak usah basa-basi. Apa yang lagi lo rencanain sekarang?"

Yujin terkekeh pelan, ia sudah menyangka jika kedatangan Hwi bukan untuk melihat keadaannya. "Lo pikir apa yang bisa gue lakuin? Ah, udah lama gue gak ngomong kaya anak muda gini. Menurut lo cocok gak gue kaya gini?"

Hwi tersenyum miring lalu menggeleng. "Sama sekali gak cocok. Bahkan lo bisa bernafas tanpa beban aja gak cocok."

"Lo masih benci sama gue? Gue udah di sini, di penjara. Sesuai sama apa yang mau."

Habis sudah kesabaran Hwi, Yujin sanagat pintar mengalihkan pembicaraan. "Kenapa kedengerannya jadi gue sama temen-temen gue yang salah di sini? Padahal jelas-jelas lo bisa ada di sini karena kelakuan lo sendiri. Sekarang jawab, apa yang lagi lo rencanain? Lo 'kan dalang di balik semua yang terjadi saat ini?"

Mendengar itu Yujin tertawa cukup keras. "Eun Hwi, Eun Hwi. Lo pikir apa yang bisa gue lakuin di penjara? Tiap hari gue cuma tidur, makan, ngelamun."

"Ngaku Park Yujin, lo kan yang udah fitnah Kyungjun?!"

Yujin berdecak kesal. "Sumpah, gue gak ngerti apa yang lo maksud. Kenapa jadi nuduh gue?"

Emosi Hwi sudah sangat tidak stabil, jadi ia memilih untuk pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Kedatangannya sia-sia, mau ia paksa bagaimanapun Yujin tidak akan mau mengaku. Tapi dalam hati Hwi, ia masih yakin jika Yujin ada gubungannya dengan apa yang terjadi saat ini.

Hwi melihat ponselnya setelah ada pesan yang masuk, Junhyeok menanyakan keberadaannya. Hwi memang tidak memberi tahu siapapun jika ia datang ke sana.

Setelah membalas pesan dari Junhyeok, Hwi kembali memasukan ponsel pada sakunya. Ia akan segera pulang, tapi baru beberapa langkah Hwi berpapasan dengan orang yang ia kenal.

"Jia?"

















Kalian percaya Yujin atau ada di pihak Hwi yang masih belum punya bukti itu?

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang