LIMA PULUH DUA

23 5 5
                                        

Taehun menggigit bibirnya bawahnya guna menahan tangis. Ia baru saja mendapatkan kabar jika kedua orang tuanya tengah mengurus perpisahan mereka.

"Hun..."

Panggilan lirih dari Hyunsoo membuat Taehun nenoleh dengan senyum dipaksakan.

Hyunsoo tak sengaja melihat pesan pada ponsel Taehun saat ia berencana mengejutkan temannya itu.

"Lo lihat ya? Gue gak papa, Soo. Ayo ke kantin, yang lain kayanya udah nungguin kita," ucap Taehun lantas pergi mendahului Hyunsoo.

Sebelum menyusul Taehun, Hyunsoo melirik meja Kyungjun, buku laki-laki itu masih berada di meja karena pemiliknya belum juga kembali sejak tadi. Entah mengapa Hyunsoo merasa sedikit khawatir.

"Semoga lo baik-baik aja deh, Jun," gumam Hyunsoo sebelum akhirnya perhi menyusul Taehun yang sudah cukup jauh di depannya.

🕸🕸🕸

"Gak ke kantin bareng?" tanya Sungjun pada Haruto juga Jeongwoo.

Kedua teman sekelasnya itu saling pandang sebelum akhirnya menggeleng.

"Kita ada urusan, maaf ya Jun." Setelah menyatakan itu, Haruto segera menarik tangan Jeongwoo dan pergi dari sana.

"Mereka kenapa?" tanya Hwi setelah melihat Haruto dan Jeongwoo berlari pergi.

"Gak tahu," jawab Sungjun sebelum akhirnya melenggang pergi.

Hwi dan Junhyeok mengikuti Sungjun dari belakang, tujuan mereka sama yaitu kantin.

Suasana kantin yang tidak brgitu ramai membuat Hwi, Junhyeok dan sungjun tak butuh waktu lama untuk menemukan kedua kakak kelasnya.

Taehun juga Hyunsoo melambaikan tangannya kala mata mereka bertemu. ketiganya segera menghampiri namun saat mereka hendak duduk bergabung tiba-tiba terdegar keributan dari luar area kantin. Para siswa yang penasaran berlari pergi melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.

Kelimanya saling pandang, mereka cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Tidak biasanya ada hal seperti ini.

"Kita perlu lihat gak sih?" tanya Hwi, ia penasaran namun di-iringi rasa lapar.

"Gak biasanya di sekolah kita ada ribut kaya gini," kata Junhyeok yang terus memandangi arah keluar kantin.

Hyunsoo menghela napasnya, entah mengapa ia sangat ingin bangkit dan melihat apa yang terjadi di luar sana.

"Kayanya perlu deh, Hwi," ucap Sungjun menanggapi pertanyaan dari Hwi.

Tiba-tiba Taehun bangkit lalu berkata, "Ayo, perasaan gue gak enak."

Akhirnya mereka ikut bangkit secara bersamaan dan pergi menuju keributan itu.

Sesampainya di sana mereka tak dapat melihat apa yang tengah terjadi karena banyaknya siswa yang menghalangi, namun anehnya suara keributan itu masih ada.

Bugh!

Mereka mendengarnya dengan jelas, itu suara pukulan.

"Hun, lo mau kemana?!" tanya Hyunsoo sedikit berteriak karena teman satu kelasnya itu berlari menerobos banyaknya siswa.

Mau tak mau mereka mengikuti Taehun. Sungguh, mereka benar-benar terkejut dengan apa yang menjadi bahan tontonan siswa/i di sana.

Doyoung sudah tersimpuh dengan wajah dihiasi lebam, sedangkan ditengah tengah ada Kyungjun yang sudah pasrah dengan apa yang terjadi kedepannya. Sebuah pisau yang berada 8cm dari lehernya lah yang membuatnya pasrah tak bisa berbuat apa-apa.

"WOO KYUNGJUN!" Taehun sudah hendak berlari menghampiri Kyungjun dan Yujin yang tengah mengunci pergerakan Kyungjun, namun Sungjun menahan tangannya lalu menggeleng.

"Jangan gila, Bang. Ini bahayain lo juga Kak Kyungjun, kalau salah langkah taruhannya nyawa," ujar Sungjun.

Perlahan langkah Taehun kembali mundur, benar apa yang Sungjun katakan. Tapi ia tidak bisa diam saja.

Im Juyeon merenggangkan ototnya, dia lah yang telah menghiasi wajah Doyoung dengan lebam. Laki-laki berumur 30-an itu menghampiri Yujin yang masih setia dengan posisinya.

"Ini udah lebih dari cukup, udah lepasin aja dia," ucapnya.

Bukannya melakukan apa yang Juyeon katakan, Yujin malah tersenyum. Namun senyuman itu membuat Juyeon menghela napasnya.

"Lo gak beneran mau bunuh salah satu dari mereka kan?"

"AYAH!"

Seketika semua atensi tertuju pada seorang gadis yang berteriak. Dia, Seo Jia atau Park Jia.

Yujin tersenyum sinis mendengar panggilan itu yang ditunjukkan padanya, panggilan yang sama sekali tidak ingin ia dengar dari manusia yang jelas-jelas telah membuatnya terkurung dalam penjara.

Jia yang terlihat hendak melangkah kembali terhenti setelah Yujin mendekatkan pisau itu pada leher Kyungjun.

"Jangan ada yang mendekat atau kalian bakal lihat pertunjukan yang menyenangkan," ucap Yujin.

Semua yang ada di sana benar-benar tak bisa berbuat apapun, pilihannya hanya ada satu yaitu menghubungi pihak berwajib.

"Lep-as." Kyungjun mencoba melawan tapi Yujin malah semakin mengunci pergerakannya.

"Park Yujin, udah," kata Juyeon. "Gue udah bersenang-senang, lepasin dia," lanjutnya.

"Jangan mimpi," balas Yujin. "Atau lo juga pengen mati?" Yujin beralih menyodorkan pisau itu pada Juyeon.

Melihat keadaan yang tengah kacau Hwi tertawa sangat kencang, hingga Juyeon dan Yujin melihat kearahnya. Di saat itulah Taehun menendang kaki Yujin dari sisi lain, namun sayangnya itu tak berjalan mulus karena Yujin segera menyadarinya. Pisau yang dipegangnya mengenai lengan atas Taehun.

"Bang Tae!"

Bruk!

Taehun bahkan ikut terjatuh saat Yujin dan Kyungjun terjatuh.

"Per-gi, H-un." Kyungjun terus berusaha terlepas namun tangan Yujin kini malah memiting lehernya hingga ia kesulitan bernapas.

"Bang tangan lo berdarah." Junhyeok benar-benar panik melihat lengan atas Taehun yang mengeluarkan cukup banyak darah akibat pisau itu.

Jarak mereka benar-benar dekat dengan Yujin yang memiting leher Kyungjun meskipun posisi mereka tak lagi berdiri.

"Lepasin dia Park Yujin! Kita gak punya urusan sama lo!" ucap Hyunsoo menggebu.











Hallo!
Gimana sama part ini?
Desa vu gak?

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang