EMPAT PULUH LIMA

35 4 7
                                        

Hari yang semakin menggelap tak membuat Kyungjun bangkit dari duduknya. Sebuah taman yang pernah ia dan Taehun kunjungi menjadi saksi bisu lamunan laki-laki berharga Woo itu.

Kemarin dan hari ini tidak ada bedanya, keadaan seolah menusuk Kyungjun dari segala arah. Kyungjun ingin marah, tapi tidak tahu ia harus marah pada siapa.

"Kali ini apa lagi rencana lo, Woo Kyungjun?!"

"Apa? Gue gak rencanin apa-apa."

"Lo yang laporin pak Junwook, kan?!"

Kejadian tadi siang saat Doyoung menghampirinya dengan amarah yang membara terus terngiang di kepala Kyungjun. Ia sungguh tak dapat berpikir jernih.

Kyungjun menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya, padahal dirinya sudah dua jam berada di tempat itu. Apa yang Kyungjun lakukan tak berselang lama karena dering telepon membuatnya mau tak mau harus membuka mata.

Mamah is cacing....

Halaan napas terdengar, Kyungjun sebenarnya sangat enggan mengangkat telepon ayah atau  ibu. Bukan karena apa, hanya saja Kyungjun sudah sangat bosan dengan apa yang orang tuanya katakan.

"Sebentar lagi, Mah. Tinggal beberapa bulan lagi, setelah itu semuanya selesai. Terserah Mamah mau kirim aku ke mana, tapi nanti setelah aku lulus dari sini." Entah Kyungjun sudah mengucapkan kalimat itu berapa kali

🕸🕸🕸

Hembusan angin malam menerpa kulit tangan Junhyeok yang hanya dilapisi kemeja tipis. Dirinya kini tengah menikmati secangkir kopi di Cafe yang letaknya tak begitu jauh dari kediaman Sungjun.

Di hadapannya ada Taehun yang masih berputar dengan handphonenya sejak sepuluh menit yang lalu, Junhyeok masih tidak tahu apa yang sedang kakak kelasnya lakukan dengan benda pipih itu.

Hukuman mereka masih tersisa dua hari lagi, Junhyeok masih menimbang kemana ia harus pulang. Ke rumah dingin itu, atau tetap ke rumah milik kakak kelas yang berada di hadapannya. Ia benci rumah tanpa kehangatan itu, tapi ia tidak enak hati jika harus pada Nara, ibu dari temannya itu.

"Junhyeok!"

"Ah, iya?" Junhyeok sedikit terperanjat saat Taehun memanggilnya.

"Lo kenapa ngelamun?" tanya Taehun dengan mata memicing, mencoba membaca gerak-gerik Junhyeok.

Junhyeok menunduk lemah, ia memainkan ujung bajunya sebagai penampilan. "Kayanya gue malem ini pulang je rumah aja deh, Bang."

Taehun tentu menyerit heran dengan apa yang ia dengar dari Junhyeok. "Mereka ada di rumah?"

Gelengan dari Junhyeok membuat Taehun membulatkan matanya. "Lo gila? Nggak, lo pulang ke rumah gue aja."

Sempat hening sejenak, sebelum akhirnya Taehun kembali bersuara. "Jun, bukan gue mau bermaksud kaya gimana. Tapi lo tahu sendiri keadaanya sekarang kaya apa, bahaya lagi ngancam keselamatan kita, Jun."

Junhyeok terkekeh pelan. "Udahlah, gue emang gak ada pilihan lain."

"Maksud lo apa?" tanya Taehun yang masih belum mengerti dengan kekehan pelan dari temannya itu.

"Bang, lo harus tahu. Kadang, eh nggak, sering banget gue denger ucapan lo yang rasanya kuat banget." Junhyeok menoleh pada Taehun yang masih diam. "Lo pasti belum ngerti ya? Entah gue doang atau gimana, tapi hampir semua ucapan lo gak bisa gue bantah. Kaya sekarang, lo bilang gue pulang ke rumah lo aja. Dan rasanya gue udah gak ada pilihan lain selain nurut sama apa yang lo bilang."

Taehun mengangkat sebelah alisnya, ia masih kurang begitu paham dengan apa yang Junhyeok maksud. "Kenapa bisa begitu? Gue cuma gak mau lo kenapa-napa, kalau lo mau tetep pulang ya ... gue gak bisa maksa."

"Nah, ini yang masih belum lo pahami, Bang. Kalau gue gak nurut sama apa yang lo bilang, rasanya gak tenang," ujar Junhyeok.

Akhirnya Taehun mengerti apa yang Junhyeok maksud. "Mungkin itu karena apa yang gue bilang punya alasan yang kuat. Contohnya sekarang, gue gak ngebolehin lo pulang karena di rumah lo masih gak ada siapa-siapa."

Benar memang, apa yang Taehun ucapkan selalu untuk kebaikan mereka. Tapi entah mengapa rasanya Junhyeok memiliki rasa ingin membantah hal itu, namun sekali lagi, ia tidak bisa.

Taehun tersenyum lalu menepuk pundak Junhyeok. "Kita masih punya waktu buat ketemu pak Junwook, mau pergi gak? Atau mau langsung pulang?"

"Ayo pergi."

🕸🕸🕸

Meskipun kasus yang dilakukan Junwook masih dalam penyelidikan, tapi pria setengah baya itu sudah berada di dalam sel.

Taehun dan Junhyeok menatap miris baju yang Junwook kenakan. Sungguh, mereka masih tak percaya jika guru sejarah mereka yang melakukannya.

"Ini sudah malam, harusnya kalian ada di rumah. Kenapa kalian ke sini?" tanya Junwook setelah duduk berhadapan dengan kedua anak didiknya.

"Pak-"

"Saya berani bersumpah, bukan saya yang melakukannya," sela Junwook cepat, sebelum Taehun memulai ucapannya.

Junwook tahu, jika yang membawa pecahan gelas itu untuk di selidiki adalah Taehun. Meskipun begitu, ia tidak bisa menyalahkan anak didiknya atas apa yang menimpanya sekarang. Pecahan gelas yang melukai Kyungjun saat itu memang gelas yang biasa ia pakai, tapi ia juga tidak mengerti mengapa gelas itu bisa pecah dan berada di atas meja Kyungjun pagi itu.

Junhyeok melirik Taehun, tangannya yang berada di bawah meja meraih tangan kakak kelasnya hingga sang empu menoleh.

"Pak ... kami-"

"Tapi kenapa hasilnya cocok dengan Bapak?" Taehun tahu apa yang ingin Junhyeok katakan, maka dari itu ia segera memotongnya.

"Gelas itu memang milik saya, tapi gelas itu sama sekali tidak pecah saat saya menggunakannya. Sepertinya ada yang menggunakan identitas saya untuk menutupi kesalahannya." Setelah mengatakan itu Junwook mengingat sesuatu, setelahnya ia menatap mata Taehun untuk melihat apa ada yang mencurigakan dari anak didiknya yang satu ini. Ia, sedikit menaruh rasa curiga.

"Kami tidak pernah membawa benda tajam ke sekolah, Pak dan apa yang saya lakukan semata-mata hanya untuk mencari keadilan."

Junhyeok menatap keduanya, tatapan Junwook sangat jelas mengatakan bahwa dirinya tengah mencurigai Taehun. "Ada baiknya jangan berburu sangka, Pak. Kita di sini sama-sama korban."


















Halo!
2 minggu ya? Kangen banget nih pasti ...


After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang