Kyungjun dan Hyunsoo tengah bersiap untuk pergi, sedangkan Taehun malah berbaring seraya memainkan ponsel.
Sudah puluhan kali Kyungjun dan Hyunsoo bertanya apa Taehun benar-benar tidak ikut, dan jawabannya tetap sama, "Kalian aja, gue males."
Kyungjun, Hyunsoo, Junhyeok, Hwi juga Sungjun berencana menjenguk Jia di rumah sakit. Sebenarnya bukan hanya mereka berlima, tapi ada beberapa siswa/i lainnya termasuk Doyoung juga Jeongwoo.
"Hun-"
"Sekali lagi lo nanya, gue lempar lo!" sela Taehun cepat, ia sudah sangat lelah menjawab pertanyaan yang sama dari Kyungjun juga Hyunsoo.
"Sensi amat lo, udah Jun ayo. Tinggalin aja dia sendiri di sini," ucap Hyunsoo menarik Kyungjun untuk keluar.
Taehun tak peduli dengan itu, biarpun Hyunsoo kesal tapi ini adalah pilihannya.
"Jaga diri lo di sini. Awas aja lo kalau kita pulang lo kenapa-napa," ujar Hyunsoo yang hanya memperlihatkan wajahnya dari balik pintu.
Apa yang Hyunsoo lakukan terlihat lucu di mata Taehun, tadi temannya itu terlihat kesal karena dirinya tak mau ikut namun ternyata kesal karena takut dirinya terluka.
Jika saja rencana Nara dan Jaera tidak ada, mungkin Taehun akan jadi orang pertama yang mengajak teman-temannya untuk menjenguk Jia.
🕸🕸🕸
"Mana bang Tae?" tanya Jeongwoo setelah kedatangan Kyungjun juga Hyunsoo.
"Gak ikut dia. Ini juga, yang lainnya ke mana? Kok kalian cuma berlima?" Hyunsoo balik bertanya.
Mereka memang janji berkumpul di lantai dasar, dan saat ini hanya ada Kyungjun, Hyunsoo, Junhyeok, Hwi, Sungjun, Doyoung dan Jeongwoo.
"Yang lainnya gak dibolehin sama Haruto, katanya kebanyakan," jelas Jeongwoo.
"Gue juga gak ikut deh, mau nemenin bang Tae aja di atas," ujar Hwi.
Sungjun menghela nafasnya, sejak mendengar jika Taehun tak akan ikut membuatnya sedikit khawatir, tapi sekarang ia tidak akan khawatir karena ada Hwi. "Yaudah, gue tutip bang Tae ya. Kalian hati-hati di sini, gue takut pikiran buruk gue bener."
Hwi mengacungkan ibu jarinya. "Iya, kalian juga hati-hati."
Mereka sama-sama mengagguk sebelum akhirnya pergi. Hwi menatap kepergian teman-temannya, ia berharap bisa mendapatkan kabar baik dari mereka nanti. Sekarang yang harus Hwi lakukan adalah pergi ke asrama Taehun.
Hwi sebenarnya masih penasaran mengapa Taehun menjadi se-anti ini terhadap Jia, sebelum-sebelumnya tidak seperti ini, bahkan dua orang itu malah terlihat saling mendukung satu sama lain.
Tinggal beberapa meter lagi jarak Hwi dengan asrama Taehun, karena malas untuk menunggu di bukakan pintu Hwi sudah mengirim pesan agar Taehun menunggunya di depan pintu dan Taehun mengikuti apa yang Hwi inginkan.
Hwi menambah kecepatan jalannya ketika melihat Taehun sudah berada di depan pintu.
"Padahal lo tinggal ketuk pintunya loh, Hwi," kata Taehun.
"Males gue, Bang. Udah ayo masuk, gak aman di depan pintu gini," balas Hwi seraya mendahului Taehun masuk.
Taehun hanya bisa menghela nafas melihat Hwi, ia juga pasrah dengan apa yang akan Hwi lakukan selanjutnya. "Perasaan yang tinggal di sini gue, ngapa lo yang nyuruh gue masuk?"
Hwi yang sudah duduk di kasur milik Taehun itu tersenyum lalu berkata, "Kalau gue gak gitu bisa lama gue kita di depan pintu. Oh iya, Bang, kenapa lo gak mau ikut sama yang lain?"
"Males gue, nanti juga dapet kabar dari yang lain. Lo sendiri kenapa gak ikut?"
"Karena lo gak ikut," balas Hwi.
Taehun mengerutkan alisnya tak mengerti. "Apa hubungannya? Kalau mau ikut ya ikut aja."
"Gue takut lo kenapa-napa, bahaya lo ditinggal sendirian." Hwi menjeda ucapannya. "Gue mau numpang tidur bentar ya?"
"Katanya mau jagain gue, kok malah tidur? Tapi dari awal udah gue duga sih."
"Gue gak susah dibangunin, kaya Sungjun. Selama gue tidur lo jangan kemana-mana, terus kalau ada apa-apa langsung bangunin gue," ujar Hwi.
Taehun memutar bola matanya malas. "Iya-iya, bawel lo."
🕸🕸🕸
"Gimana keadaan Jia, To?"
Itu adalah kalimat pertama yang Jeongwoo katakan saat mereka berenam sampai.
Haruto yang sejak kemarin berada di rumah sakit menggeleng pelan, meskipun beberapa hari yang lalu dirinya juga Jia terlibat pertengkaran hebat, Haruto tetap menyayanginya. "Keadaan Jia masih belum ada perubahan, atau mungkin gak bakal ada," ucapnya.
Mereka semua mengerti perasaan Haruto, mereka juga sedih melihat Jia yang terbaring lemah. Terlebih saat melihat Jaera, ibu dari Jia itu yang tampaknya masih belum berhenti menangis di samping Haruto. Tapi ada yang membuat mereka heran di sini, Nara juga berada di sana.
"Lo jangan kaya gitu, To. Kita harus optimis, gue yakin Jia bisa lewatin ini semua," kata Kyungjun dengan pandangan tertuju pada Jia yang berada di dalam ruangan.
Mereka memang belum diperbolehkan menunggu di dalam, bahkan menjenguk pun harus bergantian dengan waktu yang sangat singkat.
"Gue kira keadaan Jia gak separah ini," bisik Junhyeok pada Sungjun yang berada di sebelahnya.
Sungjun mengangguk menyetujui, ia juga mengira hal yang sama. "Iya, Jun. Pantes aja Haruto gak ngijinin banyak orang yang datang, ternyata keadaannya emang gak memungkinkan. Tapi kenapa tante Nara ada di sini ya?"
"Gue juga bingung, mungkin tenenan sama mamanya Jia."
"Iya juga sih."
"Tapi kenapa hati gue bilang ada yang gak beres di sini," batin Sungjun.
Nara lagi nyari muka di depan calon besan itu, Jun.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanficBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
