DUA PULUH SATU

28 4 5
                                        

Taehun akhirnya bisa tersenyum senang setelah dokter mengatakan jika dirinya sudah bisa pulang hari ini, begitu pula dengan Junhyeok. Mereka akan pulang bersama sore ini.

Sungguh, Taehun sangat tidak sabar untuk berkumpul kembali bersama teman-temannya, ia berniat menuntaskan segala kesalahan pahaman yang terjadi.

Junhyeok juga sudah berada di ruangannya, remaja laki-laki itu kini tengah duduk di samping Taehun.

"Lo kalau merasa belum sehat jangan balik dulu deh, di sini aja dulu. Biar gue yang jagain," ucap Junhyeok.

Taehun mengerti apa yang Junhyeok maksud di sini, dirinya ingin menghindar dari semua ini. "Kalau gue terus di sini, kapan kita bisa lurusin semuanya? Lagian lo juga denger apa kata dokter tadi, gue udah sehat."

Di ruangan itu memang hanya ada mereka berdua, Sungjun dan Hwi tengah mengisi perutnya di restoran depan. Mereka bisa tenang meninggalkan dua orang ini karena mereka sudah sama-sama sehat.

"Lo katanya percaya sama gue, Bang. Tapi kenapa-"

"Ada banyak orang yang mau persahabatan kita hancur, Jun. Dan gue gak mau itu terjadi. Biarpun gue percaya sama lo, bukan berarti gue langsung nyalahin Kyungjun gitu aja. Kita harus perjelas semuanya," sela Taehun cepat.

"Apa yang gue lihat gak mungkin salah-"

"Di zaman sekarang apa yang gak bisa kita lakuin?" Lagi-lagi Taehun menyela ucapan Kyungjun. "Semua cara bisa terasa halal bagi orang-orang jahat."

Junhyeok menghela nafasnya lalu berkata dengan nada pasrah, "Yaudah, gue pulang ke rumah aja."

Taehun mengangkat sebelah alisnya, ia tak mengerti dengan pola pikir Junhyeok saat ini. "Sejak kapan lo jadi pengecut kaya gini? Kalau lo terus menghindar kapan semuanya bisa selesai? Se-enggaknya kita perjelas semuanya. Kalau misalkan nanti Kyungjun emang bersalah, lo bebas mau benci atau gimanapun sama dia. Tapi kalau Kyungjun gak bersalah, itu berarti emang ada orang lain di balik ini dan lo sama Kyungjun harus saling minta maaf satu sama lain."

"Bang, gue gak mau ketemu lagi sama orang jahat kaya dia," bantah Junhyeok, kejadian kemarin membuatnya trauma.

"Lo tenang aja, gue bakal jagain lo. Lo percaya kan sama gue?" tanya Taehun seraya menggenggam tangan Junhyeok.

Pada akhirnya Junhyeok mengiyakan apa yang Taehun katakan. Dalam hati ia berdoa semoga keputusannya saat ini benar.

🕸🕸🕸

"Junhyeok sama bang Tae sore ini kan pulang, Hwi. Nanti malem udah pasti kita bakal kumpul buat bahas masalah Junhyeok sama kak Kyungjun. Kira-kira lo bakal mihak siapa?" tanya Sungjun ditengah makan sianganya bersama Hwi.

"Netral," balas Hwi singkat.

"Kenapa? Lo gak percaya salah satunya?"

Mendengar pertanyaan Sungjun yang satu itu membuat Hwi seketika menurunkan kembali sendok berisi makanan yang sudah ia angkat "Kalau semuanya mihak salah satu, siapa yang bakal jadi penengah? Bang Tae pasti sama Junhyeok, bang Hyunsoo sama kak Kyungjun."

Sungjun terkekeh pelan, ia heran dengan pertanyaannya sendiri. Sungjun tahu jika mereka sedang diadu domba, tapi ia malah bertanya hal konyol pada Hwi. "Lo bener, kalau gitu gue juga netral. Soalnya kak Kyungjun nggak salah, dan Junhyeok juga lagi ditipu sama orang."

"Kenapa lo bisa seyakin itu?"

"Gue percaya sama kak Kyungjun. Kalaupun dia mau nyelakain kita, kenapa gak dari dulu-dulu? Pas Daeyoon masih ada-"

"Jangan sebut nama dia pas gue lagi makan, bisa hilang nafsu makan gue, Jun."

Sungjun seketika menutup mulutnya, ia memang terlalu banyak berbicara saat makan kali ini. "Maaf, Hwi. Kita lanjut nanti deh."

Hwi mengangguk. "Jangan ngomong lagi, cepet abisin makannya. Abis ini kita pulang."

🕸🕸🕸

Sejak pertengkaran kecil bersama Hyunsoo pagi tadi, Kyungjun belum lagi bertegur sapa dengan temannya itu. Hyunsoo terus saja pergi tanpa memberitahu dirinya, hal ini tentu tidak biasa.

Jika Hyunsoo banyak pergi, maka Kyungjun jadi lebih banyak diam. Ia terus memikirkan bagaimana nasib persahabatannya dengan Junhyeok. Kyungjun memang tak terima dituduh tanpa bukti seperti ini, tapi Kyungjun yakin jika Junhyeok tak akan asal menuduhnya.

Ingin rasanya Kyungjun kembali menemui Junhyeok dan menanyakan semuanya. Ia sama sekali belum mendengar cerita bagaimana Junhyeok bisa yakin jika yang melakukan perbuatan keji itu adalah dirinya.

Waktu istirahat sudah hampir habis, tapi Hyunsoo masih belum juga kembali. Kyungjun tak begitu khawatir karena Hyunsoo pergi bersama Doyoung, meskipun begitu Kyungjun terus berdoa agar Hyunsoo tak bernasib sama seperti Junhyeok, pergi lalu hilang.

Bel masuk berbunyi diiringi air hujan yang turun membasahi bumi, di saat itu Kyungjun bisa bernafas lega karena Hyunsoo telah kembali dengan selamat. Sekolah itu memang tak aman bagi mereka.

"Hujan kayanya ngerti kebingungan gue sekarang," gumam Kyungjun seraya memperhatikan air hujan dari balik jendela, dan dirinya cukup lama berada di posisi itu.

"Jangan ngelamun, lo."

Kyungjun hampir saja melompat karena terkejut, Doyoung lah yang telah membuat lamunanya buyar.

"Nagapain lo di situ? Gurunya belum datang ya?" tanya Kyungjun.

Bukannya menjawab pertanyaan Kyungjun, Doyoung malah tertawa terbahak-bahak. "Lo kebanyakan ngelamun. Liat jam berapa sekarang!"

Kyungjun mengerutkan alisnya, ia cukup bingung sekarang. "Emang kenapa sih?" tanya Kyungjun seraya melihat jam di ponsel miliknya.

Dari situ, Kyungjun baru tersadar jika sekarang sudah jam pulang, kelas juga sudah sepi, itu berarti selama pelajaran terakhir ia terus melamun dan parahnya Hyunsoo sudah pergi tanpa mengajak dirinya.

Mungkin jika Doyoung tidak mengejutkannya, Kyungjun masih terus terdiam sampai malam. Kyungjun sangat berterima kasih pada Doyoung.














Untung ada Doyoung :)
Hyunsoo lagi ngambek itu...

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang