LIMA PULUH LIMA

19 4 7
                                        

"Lo kenapa gak bisa hati-hati sih, Bang?"

Taehun terkekeh pelan melihat Hwi yang berdiri di sampingnya dan terus mengomel tanpa henti. Bahkan Jina yang tengah mengganti perban di tagan Taehun merasa gemas dengan tingakah Hwi.

"Lo dengerin gue gak sih?"

Taehun mengangguk sebagai jawaban. "Ini cuma luka kecil, lo tenang aja."

"Luka kecil kalau gak diurus atau gak diobatin bisa infeksi, dan itu malah jadi lebih buruk, Hun," kata Jina.

Hwi merasa terbela dengan ucpan Jina, ia menatap Taehun seolah tatapannya itu berkata, "Dengerin tuh."

Jina menggeleng pelan melihat ekspresi Hwi. Namun setelahnya ia mengingat seseorang yang seharusnya masih jadi bagian dari mereka. "Kalian udah liat kondisi Kyungjun?"

Hwi dan Taehun menoleh serentak, keduanya sama-sama menggeleng.

"Jangankan tahu keadaannya tahu ruangannya aja nggak," kata Hwi.

"Kak Jina tahu di mana ruangan Kyungjun?" tanya Taehun.

Jina mengangguk namun dengan raut wajah sedikit gusar. "Ada yang perlu kalian tahu soal laporan itu, sebenarnya yang melaporkan kalian itu bukan Kyungjun melainkan Juyeon sendiri. dia yang masukin benda itu ke tas kalian dan berlaga seolah ia dapetin informasi itu dari Kyungjun."

Hwi dan Taehun saling pandang, mereka percaya tak percaya dengan apa yang Jina katakan.

"Dari mana Kak Jina tahu? Apa ada bukti kalau Kak Kyungjun gak bersalah? Rekaman cctv aja ga ada Kak," kata Hwi.

"Gak ada karena Juyeon udah ambil rekaman itu. Tapi Haruto sama Jungwoo udah berhasil dapetin rekaman cctvnya dan itu dijadiin salah satu bukti kejahatan Juyeon. Selain karena pencobaatn pembunuhan, dia juga digugat karena pencemaran nama baik," ujar Jina.

"Kyungjun baik-baik aja?" tanya Taehun.

Jina tersenyum tipis lalu menggeleng. "Kakak belum lihat lagi keadaanya, kamu pasti ngira kalau yang gugat itu Kyungjun kan? itu salah, yang gugat Juyeon itu salah satu guru di sekolah kalian yang jadi korban fitnah dia juga."

Hwi dan Taehun saling pandang, ini sedikit mengejutkan mereka. Hasil tes waktu itu ternyata salah, tapi bagaimana hal itu bisa terjadi?

"Bukan pak Junwook pelakunya?" tanya Taehun. "Terus kenapa sidik jarinya punya dia?"

jina menggeleng, ia tak tahu secara detail tentang hal itu, hanya Hyuna yang tahu semuanya secara rinci.

"Ini udah selesai, lebih hati-hati ya, Hun. Sekarang apa kalian mau ikut ke ruangan Kyungjun?" Jina sangat berharap jika keduangnya mengatakan 'iya'.

Rasanya sangat lega kala Taehun dan Hwi mengangguk besama, petemanan mereka memang tak akan hancur semudah itu.

🕸🕸🕸

Hal pertama yang Kyunjun lihat saat sadarkan diri adalah kedua orang tuanya, ia bersyukur keduanya masih peduli padanya setelah kejadian waktu itu. Namun Kyungjun kira kejadian waktu itu tidak akan diungkit sementara waktu, ternya tidak, mereka malah membahasnya sekarang dengan posisi Kyungjun yang baru sadarkan diri.

Mereka masih memaksa Kyungjun untuk pergi meskipun sudah ada Kyungmin yang menggantikannya.

Setelah kejadian yang menimpanya hari ini membuat Kyungjun berpikir untuk menuruti apa yang kedua orang tuanya inginkan.

"ini semua gak akan terjadi kalau kamu ikutin apa kata kita, Kyungjun. Mau apa lagi yang mesti di pertahanin? Teman-temanmu itu? mereka bahankan tak peduli."

Kyungjun setuju dengan apa yang ibunya ucapkan di awal, tapi kyungjun sama sekali tidak terima jika sahabatnya tak lagi peduli dengan dirinya. Karena kenyataannya tida begitu, Taehun bahnkan hampir menyerahkan nyawanya demi dirinya.

"Aku gak tahu selamat atau nggak kalau gak ada mereka, Mah," ucap Kyungjun elan namun msih bisa terdengar dengan jelas oleh sang ibu.

Meski mendengarnya dengan sangat jelas, keduanya memilih keluar tanpa mengatakan apapun lagi pada sang anak.

Kyungjun menghela napasnya, ia sudah tak lagi bisa berpikir apa-apa sekarang, semuanya terasa buntu. seoalah tidak ada lagi harapan untuknya berada di sini.

"Jun."

Perlahan Kyungjun mendongak, menatap orang yang memanggilnya dengan lembut. Dia Taehun, teman sekamarnya sekaligus orang yang hampir menjad korban karena dirinya.

Tanpa ada lagi kata yang terucap, Taehun dan Hwi belari kecil dan langsung memeluk Kyungjun hingga Jina terkejut melihat apa yang dua remja itu lakukan.

"Jangan terlalu erat,' perintah Jina.

Hati jina menghangat melihat hal ini. sesuatu yang sudah tidak ia lihat selama puluhan tahun, ini memeng berbeda tapi rasanya terasa sama.

"Kalian udah maain gue?" Pertanyaan dari Kyungjun membuat hwi juga Taehun seketika melepakan pelukannya.

Hwi menggeleng pelan. "Belum, kita cuma bahangia lihat lo gak kenapa-napa."

Kyungjun sudah menduganya, tapi ini adalah kesempatan yang bagus untuk mencoba meyakinkan jika bukan dirinyalah yang berada di baik itu semua.

"Pelakunya bukan gue, tolong percaya," ucap kyungjun seraya menatap Hwi dan Taehun secara bergantiann "Pelakunnya itu Juyeon, dan dibalik Juyeon itu orang tua gue," lanjutnya.

"Mungkin kalian berpikir gak mungkin ada orang tua yang rela fitnah anaknya sendiri, tapi ini orang tua gue mereka bakal ngelakuin apapun agar anak-anaknya mau nurut."

"Suttt... Kak, jangan bahas ini dulu, sekarang fokus buat pemulihan lo. Lo harus sehat dulu, nanti lo bisa jelasin semuanya," kaa Hwi.

"Gue..." Mata Kyungjun berkaca-kaca, tangannya bergetar ia merasa terharu mendengar ucapan Hwi. Rasanya sesuatu yang telah hilang kini kembali ke pelukannya. Meskipun semunya belum kembali seperti semula, setidaknya Kyungjun sudah bisa sedekat ini dengan dua dari lima temannya.

Dering telepon dari ponsel hwi mengalihkan perhatian mereka. sang pemilik dengan santai mengangkat panggilan suara dari Junhyeok.

"Kalian di mana?

Hwi kwmbali melihat nama yang tertera di layar, itu memang nama Junyheok tapi yang terdengar malah suara Hyunsoo.

"Gue ada urusan sebentar sama Bang Tae, ada apa?"

Terdengar helaan napas di sebrang sana. "Tinggal bilang ada di mana apa susahnya? Tolong jangan ada lagi rahasia-rahasiaan. Sekarang kalian mending balik, ada sesuatu hal yang penting." Setelah mengatakan hal itu Hyunsoo menutup panggilannya sepihak.

Hal itu tentu membuat Hwi panik dan kesal di waktu yang bersamaan. Hyunsoo selalu saja membuatnya kesal.

"Bang kayanya kita harus balik dulu deh," kata Hwi.

Taehun yang masih memiliki kekhawatiran berlebih seketika bangkit tanpa mengatakan apapun pada Kyungjun, dan menarik Hwi begitu saja.

Kyungjun mengerti, ia mengulum bibirnya dan berharap jika semua baik-baik saja. Kyungjun masih belum mengetahui kejadian apa saja yang telah terjadi setelah dirinya tak sadarkan diri.

"Kak Jina," panggil Kyungjun. "Apa semuanya baik-baik aja?"

Jina tersenyum tipis lalu duduk di samping Kyungjun. "Ada hal yang terjadi dan menurut kakak ini cukup serius. Sungjun dapetin luka setelah kami gak sadar," jawab Jina.

"Apa?"

"Sungjun dapaetin luka di kakinya karena Park Yujin."














Jangan dulu di close, ada satu lagi. Ayo scrol!

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang