Hwi menatap Junhyeok yang terus terdiam dengan tatapan kosong. Sekarang ia sudah bisa bernafas lega setelah dokter mengatakan jika luka temannya itu tidak parah. Namun yang ia khawatirkan sekarang adalah Kyungjun, laki-laki itu belum juga kembali.
Sudah berulang kali Hwi mencoba menghubungi Kyungjun, tapi satupun panggilannya tak ada yang dijawab.
Hwi menghela nafasnya kasar. "Lo mau ngediemin gue terus, Jun?"
Masih sama, Junhyeok masih tidak mau bersuara, remaja laki-laki itu hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Oke, gue kasih lo waktu. Pas gue balik gue harap lo udah mau ngomong sama gue." Setelah mengatakan itu, Hwi keluar dari ruangan Junhyeok.
Tepat saat ia membuka pintu Hyunsoo datang. Akhirnya mau tidak mau Hwi menarik Hyunsoo pergi dari sana.
"Lo ngapain sih narik-narik gue anjir? Gue mau lihat Junhyeok," ucap Hyunsoo.
"Gue lagi ngasih dia waktu sendiri. Nggak tahu kenapa dia gak mau diajak ngomong, dari tadi kalau gak geleng ya ngangguk," jelas Hwi. "Eh tunggu, lo tahu dari mana Junhyeok udah dipindahin?"
Hyunsoo tersenyum lalu berkata, "Kan gue punya-"
Belum selesai Hyunsoo berbicara tapi Hwi sudah menyelanya. "Iya, iya gue tahu. Udah diem."
"Kalau gak Minsoo sama Hyuna, ya Jina. Kenapa harus libatin mereka terus sih?" batin Hwi tak suka.
"Woy, lo ngapain ngelamun? Mau jenguk Taehun gak? Gue udah berhasil bawa dia ke sini," kata Hyunsoo.
Hwi mengangguk lalu berjalan mendahului Hyunsoo, padahal ia tidak tahu Taehun ada di ruangan mana.
"Tungguin gue bangke! Emang lo tau ruangannya di mana?"
"Jangan teriak-teriak ini rumah sakit!" ucap Hwi tak kalah keras.
"Lo juga teriak ya!"
🕸🕸🕸
"Udah yuk pulang lagi, gue gak mau lama-lama di sini," ucap Taehun pada Sungjun.
Sungjun tentu menolak, niatnya bukan hanya untuk memeriksa keadaan Taehun saja. "Lo gak denger dokter tadi bilang apa? Lebih baik lo di sini dulu."
Taehun memutar bola matanya malas. "Gue cuma demam biasa, nanti juga sembuh."
"Enak aja lo bilang nanti juga sembuh, gak usah ngeyel deh kalau dibilangin. Sesekali lo juga harus nurut sama kita." Hyunsoo yang baru saja datang bersama Hwi langsung menjawab ucapan Taehun.
"Lo diem aja, lo gak diajak."
Hyunsoo melotot tak terima mendengar ucapan Taehun. "Wah, bener-bener lo ya! Lagi sakit juga masih aja mancing emosi gue!"
Sejujurnya Hwi ingin tertawa, tapi disaat seperti ini ia tidak bisa mengekspresikan hal itu. Ucapan Taehun yang tak biasanya itu hanya untuk membuat mereka tidak khawatir.
"Tapi bener deh, Bang. Lo sebaiknya turutin aja mau Sungjun, pertama ini demi keadaan lo dan di sini bukan cuma lo aja yang sakit, kita gak bisa mencar buat jagain kalian di tempat yang jaraknya jauh," sahut Hwi.
Seketika ruangan itu menjadi hening setelah Hwi menyelesaikan ucapannya. Hyunsoo dan Sungjun memang masih belum memberitahukan apa yang sudah terjadi pada Junhyeok.
"Siapa yang sakit? Oh iya, di mana Kyungjun sama Junhyeok?" tanya Taehun.
Hwi menatap Hyunsoo dan Sungjun agar membantunya berbicara. Sungjun paham dengan tatapan Hwi, tapi ia memilih untuk pura-pura tidam mengerti. Sedangkan Hyunsoo, tengah mencari alasan yang pas. Menurutnya untuk memberitahukan keadaan Junhyeok yang sekarang waktunya masih belum pas.
"Oh itu, Hun. Yang sakit di sini bukan lo doang karena hati gue juga sakit gara-gara ditolak gebetan gu-"
"Lo gak bisa bohong Jang Hyunsoo! Ini bukan waktunya main-main. Jawab jujur, siapa yang sakit? Junhyeok atau Kyungjun?!" tanya Taehun sedikit menaikan nada bicaranya.
Sungjun duduk di sebelah Taehun, ia mengusap bahu Taehun agar laki-laki itu tidak lagi menaikan nada bicaranya pada Hyunsoo. "Kita kasih tahu tapi lo jangan kaya gini, lo nakutin gue, Bang."
"Maaf, Soo. Tapi kenapa kalian gak bilang dari awal kalau tujuan bawa gue ke sini bukan buat periksa keadaan gue doang?"
"Karena keadaan lo juga lagi gak sehat, Bang," jawab Sungjun. "Suhu badan lo aja masih belum normal," lanjutnya.
"Kita bakal ceritain, tapi lo harus janji, sebelum keadaan lo bener-bener sehat lo gak boleh ke mana-mana apalagi lakuin hal nekat," kata Hyunsoo yang kini mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan Taehun.
Karena tidak mau terus-terusan seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa, Taehun dengan cepat mengaitkan jari kelingkingnya. "Iya, gue janji."
Hyunsoo tersenyum kemudian beralih menatap Hwi.
"Oke, gue yang bakal jelasin. Jadi kejadiannya berlangsung pas pelajaran pak Junwook, Junhyeok saat itu izin ke toilet dan gak balik lagi ke kelas. Karena takut Junhyeok bolos atau kenapa-napa, pak Junwook nyuruh gue buat susul dia. Gue udah periksa ke tempat yang biasa Junhyeok kunjungin dan gak ada, panggilan gue gak ada satupun yang dijawab dan berakhir gue minta bantuan Bang Unco sama kak Jun. Akhirnya kita nyari gak cuma bertiga, tapi dibantuin beberapa orang dari kelas kalian, Bang. Gak lama Sungjun telepon gue dan ngasih tahu kalau Junhyeok dalam bahaya, dari situ kami baru bisa nemuin Junhyeok berkat foto yang Sungjun kirim," jelas Hwi panjang lebar hingga tidak ada yang terlewat.
"Foto?"
Sungjun langsung meraih ponselnya lalu memperlihatkan chat dari orang misterius itu.
Tangan Taehun mengepal melihat itu, lagi-lagi ia harus melihat temannya terluka.
"Apa semuanya bakal sama? Dulu Junhyeok sebagai pembuka, gue harap kali ini gak berakhir seperti sebelumnya."
Ayo tebak! Kenapa Junhyeok diem terus?
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanfictionBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
