Semangat Kyungjun sudah hilang sejak kejadian kemarin, terlebih setelah mendengar ucapan Hyunsoo yang sangat menusuk hatinya.
Tidak ada makan malam, sarapan atau bahkan makan siang, Kyungjun benar-benar tak selera meskipun ia tengah berada di kantin sekarang.
Rasanya Kyungjun ingin menangis untuk melupakan segala kesedihannya. Ia sudah dituduh, tidak lagi mendapatkan kepercayaan, kehilangan teman-temannya dan sekarang ia digunjing banyak siswa/i karena kejadian kemarin.
Kyungjun pikir ini semua adalah akibat karena terus menentang keputusan kedua orang tuanya. Ia bahkan kini sudah menggenggam ponselnya untuk menghubungi mereka, namun dalam hatinya yang paling dalam ia benar-benar ragu.
Di tengah rasa bimbangnya itu, ada seorang adik kelas yang duduk dihadapannya dengan senyuman hangat.
"Gue percaya sama lo, Kak."
Mendengar itu cukup untuk membuat Kyungjun tersenyum tipis, tapi tetap saja yang ia inginkan adalah kepercayaan dari kelima temannya.
"Makasih, To," ucap Kyungjun.
Haruto menghela napasnya setelah mendengar respon dari Kyungjun. Ia masih tak mengerti kenapa yang lainnya percaya begitu saja pada ucapan Juyeon.
"Kenapa lo gak makan, Kak?" tanya Haruto.
Kyungjun menggeleng pelan. "Setelah yang terjadi kemarin, selera makan gue hilang."
"Lo mau jelasin semuanya ke mereka soal kemarin kan? Tapi kalau lo gak bertenaga kaya gini, gimana lo bisa jelasin semuanya?"
"Gue tahu, makasih udah mau percaya sama gue," ucap Kyungjun sebelum pergi meninggalkan Haruto.
🕸🕸🕸
Di ruang tamu kediaman Hyunsoo ada Minsoo yang datang setelah mendengar kabar teror tadi malam. Pria setengah baya itu baru saja pulang pukul tujuh pagi dan langsung pergi ke rumah Hyunsoo.
"Udah deh, sana lo pulang dulu. Nanti sore baru ke sini lagi," kata Hyunsoo pada Minsoo yang terlihat sangat kelelahan.
Dengan tegas Minsoo menggeleng. "Gue gak bisa tenang kalau ini belum keungkap siapa pelakunya."
"Udahlah, Kak. Turutin aja apa yang Bang Unco bilang, demi kebaikan lo juga," imbuh Sungjun.
Minsoo menghela napasnya seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Di gue baik, tapi di kalian buruk. Lagi pula gue gak secapek itu, kasus Jia juga sedikit demi sedikit nemu titik terang."
"Masud dari buruk di kita apa?" tanya Hyunsoo.
Minsoo mengeluarkan pisau lipat dari sakunya yang sudah ia balut dengan sapu tangan. "Orang itu masih ada di sekitar sini."
Hyunsoo juga Sungjun terkejut mendengar itu, terlebih pisau itu sangat tak asing bagi mereka.
"Ini kan yang ada di tas Junhyeok!" Sungjun baru saja mengingat pisau yang Juyeon bilang milik Junhyeok sama persis dengan yang ada di hadapannya sekarang.
"Yang ada di tas Junhyeok? Maksudnya apa? Gak mungkin dia bawa pisau kemana-mana." Minsoo benar-benar terkejut mendengar apa yang Sungjun ucapkan.
Hyunsoo sudah sangat lelah memikirkan hal ini, semenjak dirinya juga Sungjun melihat diri mereka di masa lalu pergi ke ruangan gelap itu semuanya berubah, tidak ada lagi hidupnya yang berjalan normal.
"Mungkin ini cuma mirip, Jun. Yang kaya gini banyak dijual dipasar, gue yakin orang ini tahu kalau persahabatan kita lagi gak baik-baik aja, makanya dia beli pisau yang sama," ujarnya.
Minsoo yang akir-akhir ini sangat sibuk dan tak bisa mengawasi reinkarnasi dari temannya di masa lalu itu kini terdiam tak mengerti. Namun tak lama setelahnya ia teringat akan satu hal.
"Ini kan bukan hari libur, kenapa kalian ada di rumah?"
"Tanyain aja sama Kyungjun," jawab Hyunsoo singkat. "Udah deh, lo sana pulang. Gue mau pergi sama Sungjun," lanjutnya.
🕸🕸🕸
Junhyeok menatap Taehun yang berada di sampingnya dengan tatapan iba. Senyum yang selalu tergambar di wajahnya itu hilang setelah kejadian kemarin dan pagi ini.
Taehun terpaksa ada di ruangan serba putih karena ibunya, ia membenci bau obat-obatan dan seorang gadis yang tengah berbaring dengan kondisi yang masih lemah itu. Berkat gadis itu, hidup Taehun menjadi lebih tertekan dari sebelumnya.
"Jangan cemari udara gue, pembunuh," kata Jia pelan.
Kalimat pertama yang Jia ucapkan setelah Taehun dan Junhyeok berada di sana.
Junhyeok sangat bingung sekaligus terkejut mendengar hal itu, hatinya bertanya-tanya siapa yang Jia maksud. Berbeda dengan Taehun yang kini malah tersenyum tipis.
"Semua manusia punya otak buat berpikir, tapi ada beberapa orang yang ngejadiin otak buat pajangan doang," kata Taehun. "Ayo, Jun. Kita pergi, restoran depan jauh lebih baik dari pada ada di sini," lanjutnya seraya menarik Junhyeok keluar.
Tidak ada yang bisa Junhyeok lakukan, ia hanya menuruti kemana Taehun akan membawanya. Namun setelah ini, ia akan meminta Taehun menjelaskan semuanya terlebih pada kata 'pembunuh' yang Jia ucapkan.
Sesuai dengan apa yang Taehun ucapkan saat menarik Junhyeok tadi, mereka pergi ke restoran yang tak jauh dari rumah sakit.
"Lo belum sarapan, pesen aja yang lo mau. Abis makan kita ke rumah Sungjun."
"Tapi lo harus jelasin soal tadi dulu ke gue, Bang. Apa yang Jia maksud? Dan kenapa dia kaya gitu?" tanya Junhyeok.
"Sama kaya apa yang gue bilang tadi, Jun. Ada beberapa orang yang jadiin otaknya cuma sebagai pajangan, dia nuduh gue sebagai orang yang ngebunuh bokapnya. Sedangkan kita semua tahu, Daeyoon dihukum mati karena ulahnya sendiri, bahkan dia juga ikut andil buat nangkep Daeyoon."
Hallo!
Kangen gak? Kangen banget ya pasti? Aku belum bisa nyesuain waktu nulis sama aktivitasku yang baru nih, kemungkinan bakal lebih jarang updatenya huhu....
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanfictionBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
