Pembelaan sudah mereka lakukan, tapi pihak sekolah sama sekali tidak mau percaya karena mereka sendiri yang menemukan benda-benda itu di tas kelima anak muridnya.
Selain pemanggilan orang tua, mereka juga dikenakan sanksi.
Kyungjun menatap kedua temannya yang tengah siap-siap untuk pulang. Ya, mereka akan dipulangkan selama tiga hari.
Setelah ucapan Juyeon saat di lapangam siang tadi, tidak ada satupun temannya yang mengajak Kyungjun berbicara. Mereka sama-sama terdiam setelah kejadian itu.
Kyungjun takut teman-temannya itu percaya dengan apa yang Juyeon katakan.
"Hun ..."
Tidak ada jawaban dari Taehun, bahkan saat Kyungjun duduk di dekatnya, Taehun sama sekali tidak menoleh sedikitpun. Kyungjun menghela napasnya, ia menyerah dan beralih pada Hyunsoo.
"Co-"
"Kita gak kenal. Ayo, Hun," sela Hyunsoo cepat sebelum pergi di susul oleh Taehun.
Tidak ada yang dapat Kyungjun lakukan, ia hanya bisa terdiam mendengar ucapan Hyunsoo. Hatinya terasa sangat sakit mendengar hal itu, teman yang sudah ia kenal enam tahun lamanya kini tak percaya padanya.
"IM JUYEON SIALAN!"
🕸🕸🕸
Kelimanya sudah berada di depan gedung asrama untuk menunggu mobil yang akan menjemput mereka. Empat diantanya tak begitu khawatir, sedangkan Junhyeok, ia tidak tahu apakah akan ada yang menjemputnya. Saat pemanggilan orang tua, hanya orang tuanya yang tak datang karena keduanya tengah berada di luar negeri.
Mobil yang pertama sampai adalah mobil orang tua Taehun.
"Junhyeok, lo ikut ke rumah gue ya? Gue gak yakin bisa jaga diri gue sendiri."
Satu kalimat dari Taehun membuat Junhyeok mengangkat kepalanya yang semula menunduk. Ia terkejut sekaligus senang.
Dengan semangat Junhyeok mengangguk menyetujui. "Ayo, gue mau, Bang."
Senyuman terukir di bibir Taehun, ia tahu betul bagaimana tidak dipedulikannya Junhyeok.
"Kalau gitu kalian hati-hati ya? Saling jaga satu sama lain," ucap Sungjun.
"Gue nitip diri lo sama Bang Tae ya, Jun. Bener kata Sungjun, kalian harus saling jaga. Nanti kalau gue dapet izin, gue samperin kalian," kata Hwi.
"Gue gak mau tahu, kita harus balik lagi ke sini tanpa luka fisik maupun batin. Nanti jangan lupa kabarin kita ya, kalau udah sampe," imbuh Hyunsoo, ia tak mau kalah memberi pesan dari kedua adik kelasnya.
Taehun dan Junhyeok melambaikan tangannya dari mobil mereka yang mulai menjauh pergi.
Sekarang sisa Hyunsoo, Hwi dan Sungjun mereka masih menunggu. Namun tak lama mobil yang dikendarai oleh ibu Sungjun berhenti di samping mereka.
Tangan Sungjun sudah sangat gemetar, terlebih saat sang ibu keluar dari mobil dan menghampirinya. Sungjun sangat takut, jadi ia memilih untuk ikut menghampirinya dengan tujuan neminta maaf.
Sungjun sudah hendak berlutut di hadapan sang ibu, namun pergerakannya di tahan dan malah mendapatkan pelukan hangat. Karena suasana yang begitu emosional, Sungjun akhirnya menangis karena terharu. Jika biasanya saat ia berbuat kesalahan sekecil apapun itu akan terkena marah bahkan pukulan. Sedangkan kali ini, ia malah mendapatkan pelukan hangat dan sebait kalimat yang membuat hatinya senang.
"Mama percaya sama kamu sayang, pasti mereka yang salah. Ibu tahu seperti apa putra tunggal Ibu ini," ujar Min Heera selaku ibu dari Sungjun.
Mendengar itu membuat Sungjun makin mengeratkan pelukannya. "Makasih Bu, makasih udah mau percaya sama Sungjun
Hyunsoo dan Hwi ikut berkaca-kaca melihat ibu dari teman mereka itu, mereka berdua ikut merasakan rasa terharunya Sungjun. Biarpun yang disposisi itu bukan mereka, tapi mereka tetap bahagia.
🕸🕸🕸
"Bagaimana?"
Pertanyaan dari Yujin membuat Juyeon tersenyum lebar.
"Udah berhasil bunuh salah satu dari mereka?"
Kali ini, Juyeon berhenti tersenyum lalu berkata, "Gagal. Gue cuma sempet bikin Sungjun pingsan sama bikin tangan Taehun luka."
Mereka berdua kini tengah berbicara empat mata di sebuah ruangan milik Yujin. Orang yang sudah pernah menjadi tangan kanan Seo Daeyoon ini sudah keluar dari penjara dengan syarat, beberapa hari yang lalu.
"Lo ini gimana sih? Kerjanya gak becus. Besok-besok biar gue aja yang habisi mereka."
Juyeon terkekeh pelan. "Mereka cuma bikin lo dipenjara, tapi kenapa lo pengen mereka mati? Tapi lo tenang aja, meskipun gue gak berhasil bikin salah satu dari mereka lenyap tapi gue udah berhasil bikin persahabatan mereka hancur."
Yujin mengerutkan alisnya bingung, ia tidak memerintahkan Yujin untuk membuat persahabatan mereka hancur.
"Kenapa lo lakuin hal itu? Gue gak ada nyuruh lo ancurin persahabatan mereka," tanya Yujin.
"Emang di luar perintah lo. Tapi bukannya ini jadi mempermudah buat jalanin rencana lo ya?"
Yujin terdiam sebentar, ia memikirkan apa yang Juyeon katakan. Pada akhirnya Yujin mengangguk setuju, sejak awal ia kenal dengan Daeyoon sampai menjalankan rencana, persahabatan mereka memang menjadi penghalang besar bagi rencana yang mereka jalankan kala itu.
"Tanpa bikin hubungan mereka hancur pun rencana gue seharusnya berjalan lancar, karena tujuan utama gue cuma mau bikin Taehun hancur, tapi ini gue anggap kabar yang bagus. Yang bikin gue bingung kenapa lo bisa kepikiran sampe situ?"
Juyeon meraih tas miliknya lalu meletakan amplop coklat berisi uang di atas meja. "Karena ini."
"Apa ini?" Yujin meraih amplop itu lalu membukanya, betapa terkejutnya ia melihat isi di dalamnya. "Siapa?"
"Lo bakal kaget denger hal ini." Juyeon sedikit mencondongkan badannya lalu berbisik, "Orang tua Kyungjun."
Hallo! Kangen gak?
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanfictionBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
