EMPAT PULUH EMPAT

34 3 5
                                        

Cerita Hyuna siang tadi membuat Taehun tak dapat memejamkan matanya dengan tenang, di sampingnya Junhyeok sudah tertidur pulas, sedangkan dirinya masih saja memikirkan kejadian puluhan tahun yang lalu.

Taehun masih sedikit heran dengan dirinya di masa lalu, bagaimana bisa ia menyukai Seo Jia?

Pikiran itu terus memenuhi pikirannya saat ini, salahnya ia lupa menanyakan hal ini pada Hyuna.

Notifikasi dari ponsel membuat Taehun yang tengah terdiam itu sedikit terperanjat, sudah pukul satu malam dan ia lupa me-nonaktifkan notifikasi pada ponselnya.

Karena penasaran, Taehun melihat notifikasi apa yang muncul tengah malam seperti ini.

"Apa-apaan ini? Rasanya gak mungkin dia juga terlibat." gumam Taehun setelah membaca pesan singkat dari Minsoo.

🕸🕸🕸

Ini adalah hari kedua Kyungjun tanpa kelima temannya. Semuanya sama sekali tak berjalan dengan baik, Kyungjun kira dirinya akan baik-baik saja, ternyata tidak.

Tidak ada sapaan, tidak ada yang mengajaknya makan, tidak ada yang menganggunya bahkan sekedar tersenyum padanya. Semua siswa kini seakan memojokan Kyungjun.

Kyungjun melirik bangku di sampingnya, biasanya Taehun membaca buku di sana. Tatapannya kini beralih ke belakang, tempat di mana Hyunsoo duduk. Kyungjun sudah tidak tahan berada di situasi ini, ia bangkit lalu berkata, "Pak, saya izin ke toilet."

Junwook yang tengah mengajar saat ini memandang Kyungjun beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. "Jangan lama-lama," ucapnya.

Tanpa merespon lagi Kyungjun segera keluar dari kelas. Ia tidak berbohong, tujuannya sekarang memang toilet.

Air keran yang terasa dingin itu menyentuh kulit wajah Kyungjun. Dari pantulan cermin ia bisa melihat wajahnya yang terlihat lebih lelah dari biasanya. Cukup lama Kyungjun berada di posisi itu, ia berpikir bagaimana ia bisa mengakhiri semuanya.

Setelah lima menit berlalu Kyungjun kembali membasuh wajahnya dengan air, setelahnya barulah ia kembali ke kelas.

"Di saat gue sendiri kaya gini, kenapa gak ada bahaya yang ngancam keselamatan gue? Tapi kenapa pas temen gue sendiri selalu ada aja bahaya?" batin Kyungjun.

Di tengah perjalanan Kyungjun tak sengaja berpapasan dengan Minsoo, ia cukup heran mengapa pengacara satu ini ada di sekolahnya.

"Kak Minsoo?" panggil Kyungjun seraya mendekat.

Minsoo yang tengah sibuk mengetik pada ponselnya itu menoleh seraya menghentikan langkahnya.

"Ngapain-"

"Gue gak ada waktu, jaga diri lo baik-baik di sini," sela Minsoo cepat dan kembali melanjutkan langkahnya.

Kyungjun tak mau ambil pusing dengan kehadiran Minsoo, ia memilih kembali ke jelasnya. Ini sudah terlalu lama, ia bisa saja mendapatkan hukuman dari Junwook.

Saat pintu kelas ia buka, betapa terkejutnya Kyungjun. Semua siswa menatapnya dengan tatapan aneh dan di sana tidak ada Junwook, tak biasanya guru itu pergi di tengah jam pelajaran berlangsung.

Menganggap seolah tak terjadi apa-apa, Kyungjun duduk di bangkunya, namun tak berselang lama Doyoung datang dan menarik kerah seragamnya secara tiba-tiba.

"Kali ini apa lagi rencana lo, Woo Kyungjun?!"

🕸🕸🕸

"Gue masih gak percaya sama hasilnya," ujar Hwi setelah menyeruput sirup rasa jeruk miliknya.

Kediaman Sungjun kini jadi tempat berkumpulnya lima orang yang tengah menjalani hukuman.

Mereka sengaja memilih rumah Sungjun karena hanya ibu dari temannya itu yang percaya terhadap mereka dan tak mungkin melarang kedatangan teman-teman anaknya itu.

"Gue juga sama, tapi di dunia ini gak ada yang gak mungkin, Hwi," kata Hyunsoo.

Taehun sudah menceritakan hasil dari tes sidik jari pada pecahan kaca yang melukai Kyungjun waktu itu.

"Tapi gue sedikit curiga sama Minsoo," ujar Taehun. "Gue takut dia malah jadi bagian orang yang mau nyelakain kita. Kalian masih inget gak, Daeyoon dulu juga mau limpahin kesalahannya ke pak Junwook? Gue takut pak Junwook cuma dijadiin tumbal buat nutupin kesalahan orang lain."

Sungjun menghela napasnya kasar. "Gue beneran bingung sekarang."

"Yang bisa kita lakuin sekarang cuma nunggu hasil pastinya aja, pak Junwook lagi diselidiki lebih lanjut sekarang," kata Junhyeok.

"Hun, gue tahu Minsoo kaya gimana. Dia gak mungkin-"

"Tahu apanya? Lo kenal dia juga belum lama. Bukan gue bermaksud nuduh dia di sini. Dia bantu kita dari awal juga gak cuma-cuma, Soo. Ada orang lain yang bayar dia," ujar Taehun.

Hening seketika setelah Taehun mengungkapkan rahasia Minsoo selama ini. Mereka masih mencoba memahami apa yang Taehun katakan.

"Maksud lo apa, Bang?" tanya Junhyeok.

Taehun menghela napasnya, ia juga masih belum tahu siapa dibalik Minsoo ini tapi ia tidak bisa terus menahan diri untuk tidak mengatakan hal ini. "Gue pernah desek Minsoo buat ngaku kenapa dia mau bantuin kita. Dan jawabannya itu, ada orang yang bayar dia buat bantu kita."

"Lo tahu Bang siapa orangnya?" Kali ini Sungjun yang bertanya.

Taehun menggeleng. "Gue masih belum tahu siapa orangnya. Minsoo gak mau ngaku soal itu. Yang terpasti gue cuma takut orang yang mau kita celaka bayar Minsoo lebih banyak dan minta dia buat balikin keadaan."

"Apa yang Bang Tae bilang bisa aja jadi nyata, di zaman sekarang apapun bisa dilakuin demi duit. Tapi gue punya sedikit keyakinan kalau Minsoo beneran ada di pihak kita, cuma ya ... kita jangan terlalu percaya aja sama dia," ucap Hwi setelah berpikir beberapa saat.

Diam-diam Hyunsoo mengepalkan tangannya, ia cukup kecewa pada Minsoo. "Gue kira lo beneran tulus bantu gue, ternyata gak setulus itu."














Hallo!
Sesekali up siang. Btw akan ada sesuatu dari The New Six sore ini, jadi gak sabar.

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang