Setelah berhasil membawa Hyuna pergi, Jina terus menerus menatap teman perempuan satu-satunya itu. Jina tak mengerti dan tak tahu masalah apa yang membuat Hyuna sampai berbuat nekat seperti itu. Yang Jina tahu, Hyuna itu penyabar, cerdas, tegas dan tak suka kekerasan.
Mereka kini tengah berkumpul di Cafe tempat Jina dan Taehun pertama kali bertemu. Memang cukup jauh dari kediaman Taehun, tapi tempat itu nyaman bagi mereka untuk membicarakan suatu hal yang cukup rahasia ini.
"Na, ayo ceritain apa yang mau lo bicarain," kata Jina seraya mengusap bahu Hyuna yang duduk di sebelahnya.
Semua pasang mata di meja itu menatap Hyuna, tak terkecuali Minsoo. Laki-laki itu juga belum mengetahui apa yang akan mereka bahas kali ini, selain Yujin yang telah terbebas dari penjara.
"Kyungjun."
Hyuna secara sadar menyebut nama yang tidak hadir dalam pertemuan mereka.
"Siapa Kyungjun?"
Ucapan Hyuna memang cukup mengejutkan, tapi pertanyaan yang terlontar dari bibir Hwi membuat mereka semua terdiam.
"Temen kalian lah, Hwi. Siapa lagi? Oh iya, dimana dia? Kenapa gak ikut datang?" Jina yang masih belum tahu apa-apa bertanya.
"Kak Jina, kita gak punya temen yang namanya Kyungjun. Tapi kita tahu penghinanat yang namanya Kyungjun." Hyunsoo ikut berbicara.
Hyuna, dan Jina sangat terkejut mendengar ucapan Hyunsoo. Mereka hanya jarang bertemu di beberapa bulan terakhir, tapi semuanya menjadi sangat berantakan. Minsoo yang memang sudah tahu tak lagi terkejut, ia tahu semua yang mereka alami setelah Daeyoon diberikan hukuman mati.
"Jangan bilang kalian nyangka yang neror rumah Hyunsoo itu Kyungjun?" tanya Hyuna.
"Teror apa?" tanya Taehun dengan sorot mata tajam. "Kalian nyembunyiin sesuatu dari gue sama Junhyeok?"
"Bang, mungkin mereka lupa. Jangan kaya gini, tenang."Junhyeok sama terkejut dan tak menyangka, tapi ia tidak mau keretakan dalam pertemanan mereka jadi lebih luas.
"Gue cuma belum nemu waktu yang pas, Hun. Maaf, tapi gue, Sungjun sama Hwi gak ada niatan buat sembunyi ini dari lo," jelas Hyunsoo.
Sungjun meraih ponsel yang merekam setelah kejadian teror waktu itu, video berdurasi kurang dari satu menit itu terputar di hadapan mereka semua.
"Kenapa Kak Hyuna ngerasa kita sebut Kyungjun penghianat gata-gara teror ini?" tanya Hwi.
"Karena perawakan pelaku teror itu mirip Kyungjun," jawab Hyuna.
Hyunsoo berdiri seraya menatap Hyuna, ia curiga pada wanita setengah baya itu. Belum ada yang tahu seperti apa bentukan manusia yang meneror rumahnya, bahkan dirinya sekalipun. "Jang Hyuna, anda ini sebenarnya siapa?"
🕸🕸🕸
Jika keadaan sekarang bisa dilewati tanpa harus di jalani mungkin Junhyeok sudah melakukannya sejak ia terjatuh dari tangga. Percakapan mereka sore tadi benar-benar membuat kepalanya terasa sangat pening.
Satu hari lagi, ia menginap di rumah Taehun. Mereka akan kembali ke asrama besok pagi, tapi hingga saat ini masih belum ada titik terang terkait benda tajam yang berada di tas mereka.
20:30 masih belum begitu malam, mereka baru saja kembali setelah mencoba menenangkan diri.
Junhyeok dan Taehun menghentikan langkahnya saat mendengar suara bising dari dalam rumah, Junhyeok tah tahu apa itu senentara Taehun sudah menghela napasnya.
Taehun menatap Junhyeok lalu tersenyum tipis. "Kita masuk, tapi tutup telinga lo ya dan langsung ke kamar gue, jangan lupa langsung di tutup pintunya."
Tak ada yang bisa Junhyeok katakan, ia hanya mengangguk dan menuruti apa yang Taehun katakan. Ini urusan pribadi Taehun dan kedua otang tuanya.
"Tunggu suratnya minggu depan."
"Taehun ikut aku."
"Nggak, Taehun ikut aku. Sudah cukup selama ini dia menderita karena kamu, Nara!"
Tetap saja, suara bising itu terdengar meski samar-samar padahal pintu kamarnya telah ditutup rapat. Taehun sudah menyuruh Junhyeok untuk bersih-bersih terlebih dulu darinya, sementara ia kembali bangkit dan menemui kedua orang tuanya.
Kedatangan Taehun cukup mengejutkan keduanya, seketika ruangan itu menjadi hening.
"Kenapa berhenti? Orang yang kalian ributin udah datang. Ayo lanjutin," kata Taehun dengan air mata yang mengenang di pelupuk matanya.
"Choi Taehun, pergi. Istirahat sana," kata Minjae, sang ayah.
"Sayang ... kamu ikut Mama ya?"
Taehun sama sekali tak berekspetasi Nara akan mengatakan hal itu secara langsung padanya, Taehun tak sanggup, ia berlari pergi setelah mendengar kalimat yang sangat menusuk hatinya. Ia kira Nara akan berhenti, tapi ternyata tidak.
🕸🕸🕸
"Perempuan gila, sebenarnya dia siapa?"
"Musuh paling berbahaya. Gue udah gak mau berurusan sama mereka, apalagi dia."
Mendengar hal itu Juyeon bukan merasa takut tapi malah merasa tertantang. "Jang Hyuna, menarik juga."
Dukh!
Secara sengaja Yujin menendang kursi yang Juyeon tempati hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. "Jangan gila, dia bukan orang sembarangan. Rencana kita cukup gagalin rencana perjodohan Taehun juga Jia."
Juyeon memutar bola matanya malas. "Gak perlu repot-repot, Taehun sama Jia aja gak mau. Sekarang tujuan kita beda lagi."
"Apa? Gue baru keluar dari penjara, jangan sampe hue balik lagi ke sana gata-gara lo ya!"
"Rencana kita udah selesai, tinggal lo ambil apa yang lo mau dari Jaera. Sekarang kita tinggal main-main dan tunggu kehancuran enam bocah itu beserta tiga orang dewasa yang sok ikut campur itu."
Halo semuanya!
Apa kabar?
Gimana sama chapter ini?
Jangan lupa dukung TNX di rtk ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanfictionBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
