DUA PULUH DELAPAN

26 3 7
                                        

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Taehun tak berhenti memikirkan ucapan Haruto. Taehun juga berpikir jika semua ini ada hubungannya dengan percakapan Hyunsoo juga Hyuna.

"Kehancuran Daeyoon adalah kehancuran kalian juga."

Ternyata maksud dari ucapan Hyuna adalah ini semua, Yujin sejak awal menjadi tangan kanan Daeyoon bukan semata-mata karena bekerja, tapi dia ingin merebut semua hal yang Daeyoon miliki. Secara tak langsung, Taehun dan teman-temannya membuat Yujin selangkah lebih dekat dengan tujuannya. Semua ini terasa sangat rumit bagi Taehun, ia merasa terus terjebak diantara orang-orang penggila harta.

Taehun menghela nafasnya saat ia berada di depan pintu. Taehun tak mengerti pada dirinya sendiri, bagaimana ia bisa terus menuruti keinginan ibunya.

"Gak papa, Hun. Ini bukan tindakan kriminal, lo masih boleh nurutin apa yang dia mau," ucap Taehun pada dirinya sendiri sebelum melangkahkan kakinya masuk.

Taehun kira saat dirinya masuk akan ada sang ibu di ruang tamu, mengingat sekarang baru pukul delapan malam. Namun samar-samar Taehun mendengar suara sang ayah. Taehun mulai mengikuti dari mana suara itu berasal. Langkah Taehun terhenti saat suara itu terdengar sangat jelas, itu memang suara ayahnya, taehun sangat hafal. Tapi-

"Apalagi yang kamu mau? Sudah cukup waktu itu keselamatannya terancam!"

"Ini gak akan bikin keselamatannya terancam."

"Apa yang aku hasilkan selama ini masih kurang?! Cukup, jangat buat dia terus menderita Kim Nara!"

"Ini demi masa depannya!"

"Terserah! Setelah ia lulus nanti, akan aku bawa anakku pergi menjauh darimu."

Taehun tersenyum miris, setelahnya ia langsung berlari pergi dan masuk ke kamarnya. Hati serta pikirannya terasa amat sangat kacau sekarang, ia membutuhkan bahu teman-temannya untuk bersandar, tapi satupun dari mereka belum ada yang tahu tentang masalahnya saat ini.

"Choi Taehun ... Dosa besar apa yang lo lakuin di masa lalu? Gue gak sanggup hadepin semuanya dalam satu waktu," lirih Taehun, kali ini ia menyerah dan memilih menangisi keadaannya saat ini.

🕸🕸🕸

"Cie... Yang bahagia cie..."

Junhyeok dan Hwi tak henti-hentinya menggoda Sungjun. Sore tadi remaja laki-laki itu menangis dan mengatakan jika sang ibu telah meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan sebelumnya.

Kabar itu tentu membuat teman-temannya yang lain ikut bahagia, kecuali Taehun yang belum mengetahui hal ini. Mereka berharap jika kata maaf itu berhenti di sini, tidak ada perlakuan buruk dan kata maaf lagi di masa yang akan datang.

"Jun, boleh gak gue nganggep ibu lo, ibu gue juga? Soalnya..." Junhyeok cukup ragu untuk mengatakan hal ini.

"Ibu gue, ya ibu kalian juga. Kalian itu bukan cuma temen gue tapi juga saudara gue. Nanti kapan-kapan kita ke rumah deh ya," jawab Sungjun dengan senyuman yang terus mengembang.

"Makasih, Jun!"

Hwi menatap Junhyeok yang kini terlihat sangat senang, temannya yang satu itu memang lebih parah dari yang lain. Sejak kecil, Junhyeok selalu ditinggal dan hanya diurus oleh pengasuh. Di kelas 11 ini, Junhyeok sudah dua kali masuk rumah sakit dan sekalipun orang tuanya tidak pernah datang.

"Kita telepon Bang Tae yuk," ajak Sungjun. "Tiba-tiba gue kepikiran dia gini," lanjutnya.

"Nih, pake ponsel gue aja," ucap Hwi seraya memberikan ponselnya pada Sungjun.

Mereka kini duduk sejajar dengan Junhyeok berada di tengah. Mereka, terlebih Sungjun tidak sabar menceritakan apa saja yang terjadi hari ini. Namun, tidak ada satupun panggilan mereka yang dijawab, hal itu tentu membuat mereka khawatir.

"Bang Tae ke mana ya?" tanya Sungjun.

"Mungkin udah tidur, kita gak boleh punya pikiran buruk," kata Junhyeok.

Hwi mengangguk, Menyetujui apa yang Junhyeok katakan. "Iya, beber apa kata Junhyeok, mungkin Bang Tae udah tidur."

Sungjun menghela nafasnya, ia mencoba mempercayai hal ini. "Kita ke kamar Kak Jun, yuk."

"Mau ngapain?" tanya Junhyeok.

"Udah ayo!" Hwi menarik tangan kedua temannya tanpa menjawab pertanyaan dari Junhyeok. Hwi mengerti, Sungjun ingin pikirannya dari Taehun teralihkan.

🕸🕸🕸

"Jun, tolong tutupin pintunya dong," kata Hyunsoo yang tengah berbaring saraya memainkan ponselnya.

Kyungjun yang tengah menyusun mainan barunya itu berdecak. "Lo yang abis dari luar, kenapa harus gue yang nutup? Gak bisa, gue lagi sibuk."

"Tadi udah gue tutup, tapi kebuka lagi. Udahlah, Jun, lo yang paling deket juga."

Kyungjun memutar bola matanya malas, ia tidak mau tapi tetap beranjak untuk menutup pintu. Tapi saat tangannya hendak meraih gagang pintu, Hwi, Junhyeok dan Sungjun mengetuk pintu itu.

Entah mengapa Kyungjun merasa sangat terkejut karena itu, padahal hanya ketukan pintu saja.

"Gue kaget gila!" umpat Kyungjun.

"Kita gak muncul tiba-tiba, kenapa kaget?" tanya Hwi yang mulai melangkahkan kakinya masuk meskipun sang pemilik kamar tidak mempersilahkannya.

"Kaya orang was-was lo, Kak," kata Sungjun.

Kyungjun kembali melakukan niat awalnya setelah ketiga temannya masuk. "Siapa yang gak kaget kalau kalian ngetuk pintunya barengan?"

Junhyeok hanya memperlihatkan senyum tanpa dosa mendengar hal itu.

"Yang lagi seneng kenapa jadi cemberut sih?" tanya Hyunsoo pada Sungjun yang duduk di sampingnya.

Sungjun menggeleng. "Gue ngantuk, numpang tidur bentar ya?"

"Kasur Tae noh, kasur gue sempit," ucap Hyunsoo, Sungjun hanya mengangguk lalu menjatuhkan dirinya di atas kasur milik Taehun.

Kyungjun yang melihat itu melirik Hwi juga Junhyeok, seolah meminta penjelasan.

"Lagi khawatir sama Bang Tae dia, Kak."













Baru satu nih yang tobat.
Ayo semangat, masih banyak kejutan di depan!

After Big Secret 1990Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang