Setelah kejadian semalam mereka kini bisa bernafas lega, biarpun masalah yang mereka hadapi belum selesai tapi setidaknya itu tidak akan terasa berat jika mereka tak membenci satu sama lain.
Pagi ini mereka kembali berangkat ke sekolah bersama, hal yang terdengar sederhana tapi dibeberapa bulan yang akan datang mereka tak bisa melakukannya lagi.
Sepanjang perjalanan mereka terus membahas hal-hal yang bisa membuat mereka tertawa, intinya mereka sudah melupakan kejadian yang membuat persahabatan mereka retak seperti kemarin.
"Nanti siang ke kantin ya," ucap Kyungjun.
Mereka sudah berada di jalan yang mengharuskan mereka berpisah. Itulah mengapa Kyungjun berkata demikian.
"Kaya biasa aja, udah yuk. Kalian hati-hati ya!" seru Taehun mengajak Kyungjun dan Hyunsoo mengikutinya.
Sementara Junhyeok, Hwi dan Sungjun hanya mengangguk kemudian melanjutkan perjalan menuju kelas.
"Kemarin gak ada yang masuk sama sekali, kira-kira ada pr gak ya?" tanya Junhyeok.
Sungjun menggeleng, ia sudah menanyakan hal ini pada teman sekaligus ketua kelasnya, Jeongwoo. "Kata Jeongwoo sih gak ada, kecuali dia bohongin gue."
"Kalau dia bohong juga gak papa, tinggal bilang kalau dia bohong sama guru nanti dia juga yang kena hukuman, bukan kita," kata Hwi.
"Biarpun anaknya kadang ngeselin, Jeongwoo kayanya gak bakal bohong soal beginian, Jun. Oh iya-" Ucapan Junhyeok terhenti kala ia melihat seseorang dari arah berlawanan yang berjalan kearahnya.
"Kenapa, Jun?" tanya Hwi seraya menoleh pada Junhyeok.
Bruk.
"Heh, kalau jalan liat-liat dong!" ucap Hwi terkejut karena ada seorang siswi yang menabrak bahunya secara kasar.
"Itu bukannya Jia, ya?" tanya Sungjun.
Junhyeok mengangguk, menanggapi ucapan Sungjun. "Iya, itu Jia. Dia kayanya nangis deh."
Hwi berdecak kesal. "Pantesan aja. Yaudah yuk, masuk. Gak usah peduliin dia."
Sungjun mengerutkan alisnya, ia cukup bingung dengan ucapan Hwi. "Tumben lo, kenapa?"
"Kan kita gak boleh ikut campur urusan orang lain, Jun."
🕸🕸🕸
Sejak bel istirahat berbunyi, ponsel milik Taehun tak henti-hentinya menyala. Taehun tentu merasa kesal dengan hal itu, karena merasa sangat terganggu ia memilih mematikan ponselnya.
"Siapa sih, Hun? Kok gak lo angkat?" tanya Kyungjun.
Taehun menggeleng sebagai jawaban, setelahnya ia kembali fokus pada makan siangnya.
"Gak ada yang lo sembunyiin dari kita kan, Bang?" tanya Sungjun. Setelah libur semester berakhir, Sungjun sudah sangat yakin jika Taehun tengah menyembunyikan sesuatu yang besar dari mereka. "Atau lo belum bener-bener sembuh?" lanjut Sungjun, ia sadar jika pertanyaan sebelumnya sangat kurang enak didengar.
Lagi-lagi Taehun menggeleng. "Gue udah sehat, kok. Udah, lanjut aja makannya. Jangan banyakin ngorol nanti kes-"
Uhuk uhuk!
Belum selesai Taehun menyelesaikan ucapannya, Hwi sudah membuktikan terlebih dahulu ucapan itu.
"Lo gak ngomong tapi keselek, gimana sih Hwi?" Hyunsoo yang berada di samping Hwi terkekeh pelan seraya mengambilkan Hwi segelas air putih.
Hwi menerima air itu lalu meminumnya hingga tandas. "Makasih, Bang."
"Hwi emang gak sambil ngomong, tapi sambil ngelamun makanya keselek," ujar Junhyeok yang sejak awal sadar dengan kelakuan temannya itu.
"Ngelamun apaan? Nggak ya," bantah Hwi. "Gue cuma ngedengerin mereka ngomong, bukan ngelamun."
"Apa semua ini ada hubungannya sama Jia, ya?" tanya Hwi dalam hati.
"Kan! Lo ngelamun lagi!"
Hwi benar-benar terkejut dengan ucapan, ah tidak lebih mirip teriakan Junhyeok.
"Gue sedang menikmati makanannya, Cheon Junhyeok!" balas Hwi tak mau kalah.
"Udah weh, udah. Lagi makan gak baik teriak-teriak," lerai Kyungjun.
Sedangkan Sungjun sudah menutup wajahnya malu karena menjadi bahan perhatian seisi kantin. "Bikin malu aja lo berdua."
🕸🕸🕸
Malam harinya Junhyeok dan Sungjun tengah mengerjakan pr yang mereka dapatkan hari ini. Sedangkan Hwi, remaja laki-laki itu sudah selesai mengerjakannya.
Sekarang ia tengah duduk sambil memperhatikan lilin aromatherapy di meja belajarnya. Ini adalah kebiasaan yang Hwi lakukan saat dirinya tengah memikirkan sesuatu.
Karena kebiasaannya itu, Hwi pernah lupa mematikan lilinnya saat keluar dan berakhir dimarahi oleh Kyungjun juga Hyunsoo, namun pada saat itu ia keluar secara terburu-buru.
Hwi menghela nafasnya, ia kembali lagi teringat pada Jia yang menanbrak bahunya pagi tadi dan Taehun yang sangat terlihat tidak nyaman saat ponselnya terus bergetar.
"Apa gue ini masih suka sama Jia?" tanya Hwi dalam hati pada dirinya sendiri. Namun pada akhirnya ia menggeleng dan mengusap wajahnya kasar. "Harusnya nggak sih. Hwi, inget Hwi. Biarpun bang Taehun bilangnya kaya gitu bukan berarti lo bebas suka sama Jia. Gak, lo udah gak suka sama Jia, Hwi!"
Hwi terus meyakinkan dirinya jika perasaan itu sudah hilang. Hwi tidak ingin seperti Nara, ibu dari Taehun yang bersikeras melawan takdir.
"Hwi, gila lo ya?!"
Mendengar itu, Hwi membulatkan matanya lantas membantu Junhyeok memadamkan api di hadapannya. Lilin aromatherapy miliknya telah membakar kertas jadwal yang sengaja Hwi tempel.
Saat api itu padam, Hwi menghela nafasnya kasar. Terbakar di hadapannya, tapi Hwi tak sadar.
"Lo kenapa sih, Hwi? Kalau Junhyeok gak sadar bisa-bisa kebakaran masalalu keulang lagi," ucap Sungjun marah.
"Maaf, gue juga gak tahu kenapa gue bisa kaya gini," ucap Hwi penuh sesal.
Sungjun dan Junhyeok sama-sama menghela nafas lalu saling pandang satu sama lain.
"Lo ada masalah? Cerita aja sama kami," kata Junhyeok.
Sungjun mengusap bahu Hwi. "Maaf ya, gak seharusnya gue bilang kaya gitu. Bener apa kata Junhyeok, kalau lo ada masalah cerita aja. Tapi kalau lo gak mau juga gak papa, tapi jangan ngelamun kaya tadi, gak baik buat keselamatan lo."
Siap sama masalah baru?
Harus siap dong ya...
KAMU SEDANG MEMBACA
After Big Secret 1990
FanfictionBig Secret season2 Mereka hanya menang untuk masa lalu, bukan masa depan ⚠️Plis baca season 1 dulu, biar nyambung bacanya⚠️
