Jika memang hadirnya tak ada artinya, lantas untuk apa dia hidup? Jayden hanyalah seorang anak yang tak pernah dilahirkan hanya untuk menjadi yang kedua.
"Sat, gimana rasanya dipeluk sama mama lo?"
"Rasanya nyaman dan hangat lah. Bukannya lo sering...
Reminder, word 700-1300 dengan update sesering mungkin 😆
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebuah direct message mengalihkan atensi Jayden. Cowok itu langsung bergegas mandi seusai pulang tadi. Rencananya ia hanya akan merebahkan diri tanpa melakukan apa pun hingga ia terlelap. Namun begitu ia mendaratkan bokongnya di ranjang, seseorang yang ia kenal mengirim pesan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jayden menyukai tantangan. Apalagi jika musuh yang menantangnya. Cowok itu tak bodoh untuk tak mengetahui bahwa Jason yang beberapa kali kalah saat bertanding basket dengannya.
"Nerima tantangan di kandang lawan." Jayden bergumam pelan.
Cowok itu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Matanya kini menatap kosong langit-langit kamarnya. Jayden mengingat dengan jelas raut wajah Mahesa tadi. Perasaan bersalah itu kian mengungkung hatinya. Jayden tahu sang kakak tengah kesakitan.
"Sial. Kenapa gue nggak bisa benci Kak Hesa?!"
Jayden mengusak kasar helaian rambutnya. Lantas cowok itu segera turun dari ranjang untuk melangkah keluar menuju kamar Mahesa.
Netranya memandang sendu sosok Mahesa yang terlelap di pinggir ranjang dengan sebuah botol obat tergenggam di tangannya. Dapat dipastikan sang kakak baru saja berjuang melawan monster dalam tubuhnya.
Dengan pelan, Jayden mengangkat tubuh Mahesa. Cukup mudah karena berat badan sang kakak yang cukup ringan. Hati kecilnya seolah tersayat ketika melihat bibir itu yang terlihat sangat pucat. Namun logika selalu mengalahkannya. Setiap kali Jishan dan Joana mulai menyakitinya, rasanya selalu muak saat memandang Mahesa.
"Harusnya gue benci lo, Kak. Tapi kenapa nggak bisa?"
Jayden mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar Jayden. Meninggalkan sang kakak yang diam-diam mengulas senyum. Mahesa tak benar-benar tertidur. Ia hanya memejamkan mata saja sembari menunggu energinya terkumpul. Mata cowok itu terbuka. Senyumnya tak mampu ia tahan. Perkataan Jayden membuat segala prasangka buruk yang selama ini bersarang di hatinya tentang kebencian Jayden lenyap.