Kalian bosen nggak sama cerita ini? ☹️ kepanjangan karena ini akan sampai 50 chapter lebih
Tenang, ini bentar lagi ending. Tapi enggak bisa dicepetin kayak harusnya 10 chapter lagi, aku cepetin jadi 2 chapter lagi, karena udah terkonsep dari awal bikin cerita ini.
Btw kalau di aku, aku nggak perlu kasih keterangan tulisan flashback on or flashback off pas ada narasi buat flashback. Kalau udah aku italic, tandanya flashback. Jadi nggak akan bikin pembaca tiba-tiba ilang feeling. Aku juga kadang kasih italic buat mimpi kadang enggak, tapi di narasi selanjutnya aku pasti jabarin kalau itu mimpi sekalipun nggak italic ^^
Hari ini adalah hari terpenting dalam hidup Jayden. Operasi mata yang akan dilakukan Jayden akan dilaksanakan beberapa menit lagi. Cowok itu telah memakai baju pasiennya. Duduk di atas kursi roda dengan gugup ditemani Ansel. Sangat disayangkan kondisi Javier masih dalam pemantauan dokter pasca keracunan.
"Kakak tenang aja. Sebentar lagi Kakak bakal bisa lihat dunia."
Ansel paham perasaan si sulung. Siapa pun pasti akan gugup dan takut ketika akan menjalani operasi besar. Apalagi dari yang Ansel tahu, Jayden tak pernah menjalani pengobatan yang mengharuskannya operasi. Jayden hanya mengangguk sekenanya. Sejak tadi ia tak henti melantunkan doa kepada Sang Pencipta. Ada rasa sedih di sebagian hatinya karena Javier tak bisa menemani. Namun Jayden tak bisa bersikap egois. Adiknya sedang sakit. Bahkan Javier masih belum mampu menegakkan tubuhnya sendiri tanpa bantuan.
'Kak Jay, bentar, sshh ...,"
Javier hendak turun dari ranjang, namun rasa pening itu kembali menyergap. Cowok itu refleks memijat kepalanya. Bahkan ia hampir saja limbung ke lantai jika saja Ansel tak menahan tubuhnya.
"Adek, biar Papa aja yang tungguin Kakak."
Pandangan yang gelap membuatnya tak mengetahui betapa pucatnya wajah Javier. Cowok itu sekali lagi merutuki keadaannya. Jayden hanya mampu duduk di atas kursi roda seraya tangan berusaha menggapai tubuh sang adik. Beruntung Ansel adalah papa yang peka. Ia membimbing tangan itu untuk menggenggam jemari Javier.
"Tapi Kak Jay, gue pengin nungguin lo di depan ruang operasi."
"Kakak kamu bener, Dek. Udah, kamu istirahat aja. Kamu doa aja dari sini."
Ansel membimbing si bungsu untuk kembali berbaring. Menjadi orang tua tunggal menuntutnya harus menjadi lebih kuat untuk kedua putranya yang sama-sama sakit. Bahu pria paruh baya harus lebih kokoh untuk keduanya kendati ia juga berada di titik lelah.
"Pak Ansel, operasi akan segera dilakukan. Kami akan membawa Saudara Jayden ke meja operasi. Mohon doanya untuk kelancaran operasi ini. Operasi berlangsung 1-2 jam."
Lamunan Jayden sirna saat suara petugas medis menginterupsi. Cowok itu merasakan kursi rodanya didorong pelan. Membuat jantung Jayden semakin berdebar cepat.
Ansel mengangguk paham. "Baik, Dok. Saya akan menunggu dengan sabar."
Pria itu memberi izin untuk mereka membawa sang putra ke meja operasi. Dalam setiap langkahnya, Ansel selalu melantunkan doa untuk kehidupan si sulung yang lebih baik, sembari memikirkan kemungkinan terburuk ketika ia memberitahu soal Mahesa.
"Kakak, Papa akan tunggu di sini. Kamu jangan takut. Ada Javier juga yang selalu berdoa dari kamar rawatnya."
Ansel berjongkok di depan Jayden yang duduk di kursi roda. Memberikan dorongan semangat dan suplai keyakinan untuk sang putra. Meski dirinya sendiri merasa takut melihat si sulung akan menjalani operasi, namun keyakinannya bahwa Jayden akan segera melihat dunia jauh lebih besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Pain [END]
Teen FictionJika memang hadirnya tak ada artinya, lantas untuk apa dia hidup? Jayden hanyalah seorang anak yang tak pernah dilahirkan hanya untuk menjadi yang kedua. "Sat, gimana rasanya dipeluk sama mama lo?" "Rasanya nyaman dan hangat lah. Bukannya lo sering...
![Everlasting Pain [END]](https://img.wattpad.com/cover/361574805-64-k780531.jpg)