Vote komen ya, Dear. Biar aku semangat nulis 😼
Jayden mengerutkan keningnya bingung. Saat ini ia berada di area parkir sekolah, bersiap untuk pulang. Namun ada sedikit kendala yang kini dihadapinya.
"Kenapa, Jay?"
Cowok itu menatap Satria sesaat sebelum akhirnya kembali fokus pada motornya. Dengkusan kasar keluar dari bibirnya seiring dengan emosi yang menyeruak.
"Ban motor gue digembok, nggak tahu siapa yang gembok."
Satria baru menyadari ada rantai yang membelit ban motor Jayden. Masih terlihat baru dengan gembok yang mengunci di sana. Cowok itu melirik ke segala arah, begitu mendapati seseorang yang ia cari, Satria menginterupsi Jayden.
"Tanpa Pak Ahmad coba."
Pak Ahmad adalah satpam di sekolah keduanya. Ada benarnya juga. Pria paruh baya itu pasti tahu siapa yang sudah berbuat jahil pada Jayden. Mereka pun melangkah cepat menuju pos satpam yang ada di sisi gerbang.
"Pak Ahmad, Bapak tahu siapa yang udah gembok ban motor saya?"
Si empunya nama yang sejak tadi asyik menikmati kopi pun menoleh. Alis pria itu berkerut, sebelum akhirnya angkat bicara.
"Gembok? Motor? Saya nggak tahu, Mas."
Satria berdecak kesal. Rasanya ia ingin mengumpati pria paruh baya itu. Namun urung ia lakukan karena akan membuang banyak energi.
"Bapak kan yang jaga area sekolah. Harusnya tahu siapa yang udah masuk area parkir."
"Tapi saya beneran nggak tahu, Mas," kilah Pak Ahmad, "gini aja. Saya bantuin lepas gemboknya gimana?"
Jayden yang sejak tadi bungkam pun mengangguk pasrah. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dalam hati ia tak henti mengumpat. Jika saja ia tahu siapa yang telah berbuat usil padanya, ia tak akan tinggal diam.
***
Terlambat.
Jayden baru pulang jam 6 sore, padahal seharusnya ia bisa pulang jam 4 sore. Butuh perjuangan keras untuk melepas rantai yang membelit ban motornya. Saat cowok itu menginjakkan kaki di rumah, seseorang telah menunggunya dengan pandangan tajam.
"Kamu nggak sayang Hesa?"
Sebuah sambutan hangat Jayden dapatkan, membuat hati cowok itu meradang. Namun dengan lihai, Jayden tak menunjukkan emosinya. Sang papa memberikan tatapan yang seolah mampu menghunusnya. Namun cowok itu tak gentar. Energinya sudah terkuras hanya untuk berdebat. Ia melangkah dengan cuek tanpa memedulikan Jishan yang kian emosi.
"Anak nggak berguna. Papa tadi udah bilang, abis sekolah langsung pulang! Kamu harus nemenin Hesa!"
Hesa Hesa Hesa terus.
Jayden tak acuh. Cowok itu melenggang pergi meninggalkan papanya menuju kamarnya. Tubuhnya butuh re-charger setelah sehari penuh berjuang agar tetap hidup.
Saat ia ingin membuka pintu kamar, suara sang kakak menyapa gendang telinganya. Alisnya menukik mendapati Mahesa yang kini berdiri di sebelahnya.
"Adek, maafin Kakak."
Mahesa mendengar suara Arlan bernada amarah tadi. Wajar karena suara pria paruh baya itu keras. Cowok itu langsung saja menemui adiknya.
"Gue nggak butuh maaf lo." Jayden tersenyum miring. "maaf lo nggak akan bikin mereka berhenti pilih kasih."
Mahesa seolah merasakan sengatan menyakitkan yang mendera hatinya. Apalagi saat melihat luka yang terpancar di mata Jayden. Jika saja ia mempunyai satu permintaan yang akan terkabul, ia akan memohon pada Tuhan agar memberikan seluruh kasih sayang kedua orang tuanya untuk Jayden.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Pain [END]
Fiksi RemajaJika memang hadirnya tak ada artinya, lantas untuk apa dia hidup? Jayden hanyalah seorang anak yang tak pernah dilahirkan hanya untuk menjadi yang kedua. "Sat, gimana rasanya dipeluk sama mama lo?" "Rasanya nyaman dan hangat lah. Bukannya lo sering...
![Everlasting Pain [END]](https://img.wattpad.com/cover/361574805-64-k780531.jpg)