Spesial buat Kak jeniusugar & sativaaa20 karena udah komen banyak sekali. Aku bacanya salting euy. Abis ini aku usahakan rutin setiap hari 😆
♡♡♡
Jayden telah menginjakkan kedua kakinya di rumah sakit yang biasanya menjadi rumah kedua sang kakak. Matanya berpendar sejenak sembari mengembuskan napas pelan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Merasa cukup gugup karena ia akan bersitatap dengan kedua orang tuanya.
"Permisi, Ners. Maaf nanya, pasien atas nama Mahesa Aksara, pasien penyakit jantung dan paru-paru kronis. Ruang rawatnya di mana, ya?"
Meski sudah tahu ruangan yang biasanya Mahesa tempati, Jayden tetap bertanya untuk memastikan. Apalagi jika ternyata keadaan Mahesa mengharuskan kakaknya itu dirawat di ruangan yang lebih intensif.
"Maaf, tapi pasien atas nama Mahesa Aksara terakhir opname di rumah sakit ini dua minggu lalu."
Mata Jayden membola. Benaknya kembali mengingat setiap kata yang tertulis dalam pesan singkat yang dikirim Joana kemarin malam. Setitik rasa kecewa kembali muncul dalam hatinya. Ia merasa dibohongi oleh wanita itu.
Cowok itu mengangguk singkat. Lantas mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan area rumah sakit. Emosinya hampir meluap. Namun ia tetap berusaha menahannya. Jayden ingin memastikan keadaan Mahesa dengan mata kepalanya sendiri di rumah.
Dengan mengendarai motor milik Javier, cowok itu melesat menuju rumah Jishan. Sembari menyingkirkan setitik rasa kecewanya pada Joana.
"Loh, Mas Jayden?"
Seorang satpam rumah menegurnya dengan ramah. Jayden mengangguk kaku, lantas membalas ucapan pria paruh baya itu.
"Iya, Pak. Di rumah ada siapa aja?"
"Cuman ada Nyonya Joana sama Mas Mahesa sih."
Kenapa harus sembunyiin perasaan lo sih, Kak? Kalau cuman jengukin Hesa gue pasti izinin.
Seketika sesal itu datang. Ia rela menyakiti hati kembarannya hanya demi sebuah kepalsuan yang dibuat oleh Joana. Javier pasti terluka walau tak menunjukkan padanya.
Cowok itu kecewa, namun tak lantas melunturkan niatnya untuk melihat keadaan Mahesa. Dan ketika ia menginjakkan kakinya di lantai rumah itu, pemandangan di mana Mahesa yang tengah berbaring dengan paha sang mama sebagai bantal menyapa matanya.
Sepasang ibu dan anak itu tengah fokus menikmati kebersamaan tanpa menyadari kehadirannya. Mata keduanya terfokus pada tayangan televisi. Mata Jayden menyendu. Pandangannya mengarah pada jemari sang mama mengusap helaian rambut Mahesa.
"Seru kayaknya, ya?"
Suara bernada datar darinya membuat mereka sontak menoleh. Mahesa langsung menegakkan tubuhnya. Jujur saja, Mahesa panik dan takut. Apalagi melihat wajah tak bersahabat dari adiknya.
"Adek--"
"Ma-- Tante tega boongin aku? Katanya dia di rumah sakit tapi ternyata santai-santai di rumah."
Joana terpekur. Panggilan tante yang terlontar terasa asing di rungunya. Ada perasaan asing yang membelenggu. Entah kenapa hatinya menolak panggilan itu. Bahkan wanita itu tak mampu membalas ucapan Jayden. Suaranya seolah tertahan di tenggorokan.
"Aku sayang dia," Jayden menunjuk Mahesa dengan tangan yang telah gemetaran, "tapi aku benci dibohongi."
Pesan yang dikirim Joana bahkan membuat Jayden bermimpi buruk. Namun kenyataan yang ia dapati hanya kepalsuan. Ternyata ia harus dipaksa melihat kebersamaan sepasang ibu dan anak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Pain [END]
JugendliteraturJika memang hadirnya tak ada artinya, lantas untuk apa dia hidup? Jayden hanyalah seorang anak yang tak pernah dilahirkan hanya untuk menjadi yang kedua. "Sat, gimana rasanya dipeluk sama mama lo?" "Rasanya nyaman dan hangat lah. Bukannya lo sering...
![Everlasting Pain [END]](https://img.wattpad.com/cover/361574805-64-k780531.jpg)