Semua pasang mata menatap atensi Jayden yang kini tengah berdiri berhadapan dengan seorang cewek cantik berambut sebahu dengan hiasan pita merah jambu di sana. Syalomitha berulangkali mengembuskan napas pelan demi mengurangi rasa gugup yang mendekap hatinya. Syalomitha tahu, tindakannya akan mendapat resiko yang tinggi. Namun ia sudah tak mampu menahan perasaannya.
"Kenapa, Mitha?"
Jayden cukup bingung ketika adik kelasnya yang satu ini mencekal tangannya pelan. Rencananya untuk tidur di dalam kelas sembari menunggu bel masuk kelas pun tertunda.
"Kak Jayden."
Syalomitha menunduk sejenak. Tiba-tiba saja rasa takut itu menjemput. Namun ia sudah bertindak sejauh ini. Ia tak mungkin mundur begitu saja. Tangannya yang gemetaran meraih tangan Jayden. Hatinya sedikit bersorak karena berhasil bersentuhan dengan jemari crush-nya.
"Kakak, aku suka Kakak! Aku cinta Kakak! Kakak mau nggak jadi pacar aku?"
Cewek itu mengucapkan dengan lantang. Tak peduli banyak pasang mata yang melihat perlakuannya saat ini.
Siapa tau kalau nembaknya di depan banyak orang, Kak Jay nggak enak hati nolak, pikir Syalomitha.
Syalomitha memang kemarin memiliki pemikiran seperti itu. Pikiran polosnya berkata Jayden akan menerimanya. Dan selama masa pacaran, cinta Jayden padanya akan datang seiring berjalannya waktu.
"Mitha ...,"
Jayden mengumpat dalam hati. Selama ini kaum hawa yang menyukainya hanya berani memberikan kado. Tak ada yang seberani Syalomitha. Cowok itu menatap ke sekelilingnya dengan gugup. Banyak teman sekelasnya yang bahkan sibuk bersiul menggodanya. Termasuk dua sahabatnya yang melakukan hal yang sama.
Cowok itu sama sekali belum memikirkan percintaan. Bahkan untuk berpacaran pun tak pernah ada dalam pemikirannya. Masalah keluarga saja sudah membuatnya lelah, apalagi harus mengurus cinta masa remaja.
"Aku hargai perasaan kamu. Tapi maaf banget. Aku nggak bisa nerima kamu jadi pacar aku."
Suara lembut Jayden menyapa rungu Syalomitha. Namun kali ini suara favoritnya itu membuat perasaannya seketika hancur. Tanpa sadar air mata lolos membasahi kedua pipinya.
"Kak, kenapa? Kita bisa coba bareng-bareng."
Jayden mengembuskan napas kasar. "Kakak belum mau berurusan dengan cinta. Maaf ya. Kita bisa jadi temen kok."
Senyum kikuk terlukis di bibir Jayden, demi menenangkan sosok cewek cantik di hadapannya ini. Namun sepertinya penolakannya membuat perasqan si cantik semakin memburuk. Apalagi ketika ia melihat ke sekelilingnya, semua mata masih memandangnya.
"Mitha?"
Si empunya nama mendongak. Pandangannya langsung bertemu dengan wajah tampan Jayden. Namun kali ini ketampanan paripurna itu tak mampu memperbaiki hatinya yang telah sepenuhnya hancur.
Tanpa menjawab panggilan Jayden, cewek itu berlari menjauh darinya. Meninggalkan Jayden yang semakin dirundung rasa bersalah. Jika saja ia tahu reaksi Syalomitha semenyedihkan itu, Jayden lebih memilih mengorbankan perasaannya dengan menerima ajakan pacaran itu.
"Udah, Bang. Nggak usah sedih. Tindakan lo udah bener kok. Daripada lo nerima dan pura-pura cinta dia. Itu jauh lebih nyakitin dia."
Nero menepuk pelan bahu Jayden demi menyalurkan ketenangan. Satria pun melakukan hal yang sama. Merangkul dang sahabat sembari memberikan banyak kalimat motivasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Pain [END]
Teen FictionJika memang hadirnya tak ada artinya, lantas untuk apa dia hidup? Jayden hanyalah seorang anak yang tak pernah dilahirkan hanya untuk menjadi yang kedua. "Sat, gimana rasanya dipeluk sama mama lo?" "Rasanya nyaman dan hangat lah. Bukannya lo sering...
![Everlasting Pain [END]](https://img.wattpad.com/cover/361574805-64-k780531.jpg)